Teruntuk Kamu

Hai,
Hari ini aku kembali kepikiran tentangmu. Iya, kamu, jodohku.

Tahu nggak?
Terkadang aku berharap kamu adalah dia. Yang akhir-akhir ini sering menginap di pikiranku, yang sering kuintip blognya, halaman fesbuknya, dan akun-akun jejaring sosial lain miliknya. Kok kepo banget gini ya kesannya? :D

Ah, tapi aku yakin kamu bukan dia. Kamu sekarang masih berseragam putih abu-abu kan?
Atau jangan-jangan kamu sekarang sudah lulus?

 

Hmm, sudahlah lupakan saja. Siapapun kamu, aku harap perasaanku padamu gak akan pernah berubah. Tetap seperti saat kita pertama bertemu. Di suatu tempat yang akan kita ingat selalu. Yang kuharap tempat itu adalah sebuah sudut di perpustakaan atau toko buku.

 

Oh iya, dari tadi aku belum nanyain kabar ya.

Bagaimana kabarmu?
Masih di Tangan Tuhan kan?
Atau jangan-jangan kamu sudah bosan kesepian dan menyerah pada penantian?

Aku hanya mau berpesan, pikir-pikir dulu deh kalau mau pacaran.
Bukannya mau nakut-nakutin sih. Aku cuma gak ingin kamu nyesel. Itu aja sih.

Tenang, aku sendiri juga masih setia sama kejombloanku kok. Masih tetap STMJ.
Semester Tujuh Masih Jomblo. Skripsi Tamat Masih Jomblo. Hahaha. :D *eh*

Gak nyangka juga sih kalau jadi jomblo itu ternyata menyenangkan.
Meski agak kurang senang juga sih tiap kali gebetan digodaian dan direbut orang. :-|

 

Eh, sekarang sudah tahun 2012 kan ya? berarti masih ada sekitar 4 tahun lagi sampai usiaku genap menjadi 25. (yes, kurang 4 tahun lagi!)

Yang sabar ya, 4 tahun itu gak lama kok. Aku aja yang sudah mau semester delapan ngerasa baru kemarin lulus SMA. Nikmati dulu waktumu. Gak usah buru-buru mencariku dan berusaha mengenalku.

 

Toh kalau sudah waktunya tiba, kita akan punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain kan?

 

Kamu gak usah takut kalau ternyata kita nanti hanya punya sedikit kecocokan.

Meski banyak yang bilang nikah itu butuh kecocokan, tapi menurutku, nikah itu gak (terlalu) butuh kecocokan kok. Yang dibutuhkan untuk nikah itu hanya keberanian. Ya, keberanian. Keberanian untuk membangun rumah tangga. Keberanian untuk menjalani hidup bersama. Keberanian untuk mau belajar memahami. Keberanian untuk mau belajar menghargai. Dan keberanian-keberanian lainnya. Karena sampai kapanpun, aku gak yakin kalau memang ada pasangan yang selalu cocok dalam semua hal.

Ingat, pernikahan bukanlah ajang untuk mencari orang yang sempurna untuk dicintai.
Pernikahan adalah komitmen, untuk selalu melengkapi kekurangan pasangan dan mencintainya dengan sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

Sampai sini dulu ya,
Gak enak nih dilihatin tetangga. ^^

 

Makan ketupat, di depan teras.
Kalau sempat, tolong dibalas.

 

Oh iya, hampir lupa.
Jangan lupa baca doa kalau mau tidur.

 

Dari aku,
Calon penyempurna separuh agamamu.

Advertisement
Categories: Sebagai Blogger, Sebagai Manusia | Tags: | 6 Comments

Post navigation

6 thoughts on “Teruntuk Kamu

  1. Curhat aramsa bang? (baca dibalik)
    Nice posting, blog kan wewenang pribadi, bisa diisi bebas sak karep sing duwe blog. Dan juga, g bakal kena pencekalan SOPA atau PIPA kok, hehe..

    Ditunggu surat cinta selanjutnya, kelamaan klo nunggu 4 tahun lagi :)

  2. hahaha…

    curhat juga nih ceritanya ad. blog ini emang kalo ga dipake buat curhat bakal ga ada semangat buat diisi.
    :D

Silakan Tinggalkan Jejak Kalian :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.