Saratus Persen

Beberapa hari terakhir ini, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan oleh pemberitaan tentang Malaysia yang mengklaim salah satu tarian daerah milik Indonesia. Saya sendiri nggak ada masalah dengan hal tersebut meski seratus persen menentang klaim yang dilakukan oleh Malaysia. Sejujurnya saya malah kecewa dengan pemerintah Indonesia. Karena selalu menunggu diklaim oleh negara tetangga dulu baru merasa agak peduli dengan kebudayaan negaranya sendiri.

Nasib kebudayaan daerah di Indonesia itu mungkin layaknya anak terlantar. Tak terurus. Tapi juga tidak boleh diadopsi.

Bangsa kita sedang krisis identitas. Kita sangat mudah terpengaruh oleh budaya-budaya luar. Bahkan, mungkin banyak diantara kita yang lebih bangga untuk mempelajari dan mempraktekkan budaya luar daripada budaya sendiri. Mencari anak muda yang peduli kebudayaan sangat susah. Apalagi di zaman seperti ini. Di saat semua budaya dari luar negeri bisa masuk dengan mudah tanpa ada banyak filterisasi.

Tapi saya yakin, harapan itu masih ada. Apalagi setelah menonton video Teaser Indonesian Youth Conference 2012 yang dibagikan oleh Alanda Kariza melalui fan page fb-nya. Keyakinan saya bahwa harapan Indonesia akan berubah itu tampak semakin nyata.

Bukan hanya keberadaan orang-orang dalam video tersebut yang membuat saya yakin. Tapi juga karena musik pengiring video tersebut merupakan karya salah satu grup musik lokal yang rata-rata personelnya masih berusia cukup muda.

Waktu pertama kali dengar, saya pikir, backsound yang ada di video teaser tersebut adalah musik aransemen musisi Bali. Karena jika didengarkan secara sekilas, nuansa gamelan Bali sangat mendominasi. Di penghunjung video, saya baru tahu kalau backsound video tersebut ternyata karya Saratus Persen. Dan ternyata perkiraan saya di awal tadi salah. Karena setelah saya cari-cari infonya, Saratus Persen mah asli Bandung euy! :D

Ya, setidaknya keberadaan musisi-musisi lokal semacam Saratus Persen bisa menjadi sebuah angin segar bagi budaya lokal Indonesia. Karena mereka menawarkan sebuah paradigma baru. Mengkolaborasikan alat musik tradisional dengan alat musik modern. Sehingga alat-alat musik tradisional terus terjaga keberadaannya.

Jika Anda penasaran dengan Saratus Persen, anda bisa mengunjungi fans page FB, channel Youtube, maupun website resmi mereka.

Sejujurnya, saya memang lebih suka mendengarkan gamelan Bali seperti yang dimainkan oleh Saratus Persen daripada gamelan Jawa. Karena gamelan Bali itu seringkali dimainkan dalam tempo yang cukup cepat. Sehingga tidak sampai membuat kita mengantuk layaknya ketika mendengarkan aransemen gamelan Jawa. :D

About these ads

Minta komentarnya dong. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s