Berproses

Setelah sekian lama belajar tentang affiliate marketing, akhirnya saya memberanikan diri untuk mempraktekkan apa yang selama ini telah saya pelajari. Karena saya merasa menulis adalah salah satu aktivitas yang saya sukai, dan internet adalah tempat yang tempat untuk mulai berbisnis tanpa mengeluarkan banyak modal sebagaimana bisnis konvensional lainnya. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai membuat website dan mulai mempraktekkan ilmu affiliate marketing yang sudah saya pelajari.

Dengan bermodalkan uang 125 ribu untuk membeli domain dengan akhiran .com, ditambah dengan promo hosting dari IDCloudhost yang sedang merayakan ultahnya yang kedua, ditambah CEO-nya saya kenal dan pernah jadi bahan tulisan saya di blog meski tidak pernah bertatap muka secara langsung, akhirnya website saya pun jadi.

Satu hal yang saya pelajari ketika membuat website baru adalah: ternyata mendapatkan pembaca itu tidak mudah. Berbeda dengan blog ini yang meskipun jarang sekali saya perbarui kontennya tetap mendapatkan 200-400 kunjungan tiap harinya, sampai saat ini, usia website saya sudah hampir 2 minggu tapi masih belum ada satu pun orang yang membacanya.

Membuat website baru kembali mengingatkan saya bahwa tidak ada jalan pintas untuk sukses. Semuanya butuh proses. Sama seperti menghafalkan Al Quran yang harus dihafalkan ayat per ayat, diulang berkali-kali, kemudian bisa hafal 1 halaman. Dari 1 halaman, kembali menghafal ayat demi ayat, diulang terus, sampai akhirnya bisa hafal 1 juz. Dihafal per ayat, diulang, begitu terus sampai akhirnya bisa hafal 30 juz. Semuanya butuh proses yang tidak singkat.

Sama seperti tidak ada pohon yang langsung berbuah sehari setelah ditanam benihnya, butuh waktu yang tidak singkat agar usaha bisa menemukan hasilnya. 🙂

Advertisements

Smartphone Baru Untuk Mimpi Istri Yang Tertunda

Postingan ini saya khususkan buat istri saya yang sebentar lagi akan memasuki usia 1 tahun pernikahannya bersama saya. Semenjak menikah, istri saya telah menghabiskan sebagian besar waktunya buat keluarga. Meskipun saya sering membantunya untuk mencuci, memasak, dan mengurus bayi, porsinya sangat jauh berbeda dengan apa yang sudah istri saya kerjakan. Hampir semua pekerjaan rumah tangga di keluarga saya, istri saya yang mengerjakan. Sementara saya cuma sekadar bantu-bantu saja ketika sedang libur kerja atau ketika istri sedang tidak enak badan. Sejak menikah, saya sebenarnya membebaskan dia untuk bekerja, tapi dia lebih memilih untuk menetap di rumah saja. Salah satu alasannnya mungkin karena dia dulu langsung hamil jadi lebih memilih menjaga kesehatan bayinya saja dulu dan bekerja nanti kalau sang buah hati sudah agak dewasa.

Saya sebenarnya juga tidak pernah menyangka kalau orang yang baru saya kenal 2 tahun yang lalu ini akan menjadi istri saya. Kalau ditanya mengapa bisa cinta dia, saya juga tidak bisa menjawabnya. Karena saya memang tidak punya jawabannya. Yang jelas saya sayang dia. Tapi kalau disuruh menjelaskan secara detail faktor-faktor yang membuat istri saya begitu menarik di mata saya, mungkin beberapa ini di antaranya: Continue reading “Smartphone Baru Untuk Mimpi Istri Yang Tertunda”

Perihal Keyakinan dan Tuhan

Baru-baru ini saya menonton Life of Pi yang bukunya sudah saya khatamkan beberapa tahun yang lalu. Dan ternyata filmnya juga sama bagusnya dengan bukunya. Meskipun sudah beberapa tahun yang lalu saya membaca bukunya, adaptasi filmnya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan ketika membacanya dulu.

Menyenangkan sekali menonton film seperti ini. Karena meskipun pesannya sangat dalam, semuanya disampaikan dengan cara tersirat. Jadi kita sebagai penonton yang harus menyimpulkan sendiri apa yang hendak disampaikan oleh pembuat filmnya. Continue reading “Perihal Keyakinan dan Tuhan”

Suka vs Dipaksa

Photo by: Jordan Whitt
Photo by: Jordan Whitt

Dulu saya merupakan seorang yang sangat memegang teguh keyakinan bahwa untuk bisa sukses dalam bidang tertentu kita harus menyukainya dulu. Tidak ada cara lain selain itu.

Makanya saya tidak pernah suka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak menarik minat saya atau tidak benar-benar saya suka. Dan mungkin karena itu pula orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk menempuh pendidikan di universitas tertentu atau memilihkan calon menantu ketika saya masih single dulu. Meskipun sebenarnya banyak sekali harapan orang tua saya kepada saya yang tidak sejalan dengan keinginan saya, pada akhirnya orang tua saya banyak mengalah karena tidak ingin membuat saya merasa tidak enak karena memaksa atau memilihkan saya sesuatu yang belum tentu saya suka. Yang pada akhirnya membuat saya menjadi sering merasa bersalah karena beberapa kali tidak bisa mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan saya. Continue reading “Suka vs Dipaksa”

Tahu vs Mampu

xl4prjpkcle-mike-levad
photo by: Mike Levad

Suatu saat saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman saya mengapa meskipun sejak kecil kita diajarkan bahasa Inggris, namun sampai dewasa banyak di antara kita masih tergagap-gagap dengan bahasa Inggris. Bahkan cenderung menghindari kalau disuruh memilih. Saya pun begitu. Saya masih merasa kurang pede dengan kualitas bahasa Inggris saya. Oleh karenanya saya masih belum berani menulis artikel dalam bahasa Inggris meskipun sudah sejak lama punya keinginan untuk itu.

Dari pertanyaan tersebut, saya kemudian berpikir dan berasumsi bahwa ketidakmampuan kita (sebagian besar masyarakat Indonesia) menggunakan bahasa Inggris secara verbal atau tekstual salah satunya adalah karena pendidikan. Continue reading “Tahu vs Mampu”