Warung Peduli Lingkungan

Berawal dari pemandangan yang tidak biasa pada malam itu.

Sepintas, tidak ada yang berbeda dari penampilan warung yang hanya buka mulai menjelang malam ini. Namun, ketika saya perhatikan lebih seksama, ada satu pemandangan berbeda dari warung ini. Saya menemukan sebuah wastafel baru di sudut warung makan favorit saya di dekat kampus ini.

Meskipun wastafel sendiri bukanlah hal baru lagi, namun wastafel di dalam warung yang cukup sederhana bukanlah pemandangan biasa. Meskipun kota ini terkenal sebagai kota metroploitan kedua di Indonesia, jarang sekali saya menemukan wastafel di dalam warung makannya. Memang saya tidak pernah menjelajahi seluruh pelosok Surabaya, tapi berdasarkan pengalaman saya ketika makan di daerah gebang dan keputih (daerah paling dekat dengan kampus), hampir tidak pernah saya wastafel bertengger di dinding warung yang pernah saya kunjungi.

wastafel di warung kita

Mungkin karena selama ini saya jarang (baca : tidak pernah) makan di tempat-tempat yang cukup mewah sehingga saya jarang menemukan wastafel di dalam rumah makan yang saya kunjungi. Tapi kalaupun menemukan wastafel di rumah makan yang cukup mewah, itu bukanlah hal yang istimewa karena rumah makannya memang sudah di atas rata-rata.

Kembali ke topik kita tentang wastafel di dalam warung. Memang ini bukanlah kali pertama saya menemukan wastafel di dalam warung makan. Kali pertama saya menemukan wastafel dalam sebuah rumah makan (warung makan) adalah pada saat liburan semester genap kemarin. Tepatnya, pada saat saya berlibur ke Malang bersama teman-teman SMA. Dan tempatnya berada tepat di depan kampus UMM yang terkenal dengan doom-nya.

Selama ini kita mungkin sudah banyak melihat banyak warung makan yang menyediakan tisu di dalamnya. Mulai dari warung makan yang cukup ternama sampai warung-warung kecil milik pedagang kaki lima. Bisa dibilang, saat ini tisu merupakan salah satu perlengkapan yang harus ada dalam sebuah warung makan. Memang tidak ada yang salah dengan menyediakan tisu di dalam warung makan. Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika terus-terusan menggunakan tisu tanpa peduli dengan dampak yang diakibatkannya.

Seperti yang kita tahu, tisu sama halnya dengan kertas. Bahan dasar keduanya sama-sama dari kayu (pulp). Memang benar, kertas dan tisu bisa di daur ulang. Tapi coba anda perhatikan, tisu yang seringkali anda gunakan setelah anda selesai makan tidak jarang bukanlah hasil daur ulang. Seringkali kita temukan tisu-tisu yang disediakan dalam warung makan warnanya sangat putih bersih. Berbeda dengan tisu hasil daur ulang yang warnanya agak gelap sedikit.

Mungkin selama ini kurang perhatian dengan hal-hal semacam ini. Tidak jarang saya menemukan banyak orang yang menggunakan tisu dengan seenaknya sendiri. Pernahkah kita berpikir,berapa banyak warung makan yang menyediakan tisu di dalamnya? Berapa banyak orang yang menggunakn tisu hari ini? Berapa banyak kayu yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan pengguna tisu setiap harinya? Sangat banyak bukan? Oleh karena itu, untuk mengurangi kebutuhan akan kayu yang berlebihan, mulai sekarang kurangi penggunaan tisu yang berlebihan dan ubah kebiasaan anda menggunakan tisu dengan menggunakan sapu tangan.

Terakhir, saya ucpakan banyak terima kasih pada warung-warung makan yang sudah mulai membangun wastafel di dalamnya. Karena itu merupakan salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan tisu. Dan untuk warung-warung makan yang lain, saya harap mereka mau mengikuti jejak para pelopor mereka dalam membangun wastafel demi mengurangi penggunaan kayu yang berlebihan.

Mungkin akan membutuhkan banyak biaya, tapi anda tidak perlu khawatir karena ini adalah sebuah bentuk investasi yang cukup berharga. Untuk dananya, anda dapat menggunakan dana yang biasa anda gunakan untuk membeli tisu tentunya.

Lingkungan kekayaan alam bukanlah milik anda, bukan pula milik saya, tapi milik kita semua.
Kalau bukan kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya, lalu siapa?

Terima kasih telah berkunjung. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya.

Advertisements

3 thoughts on “Warung Peduli Lingkungan

  1. kenapa tisu harus dipermasalahkan ad? :ngelamun:

    kalo tisu dipermasalahkan, harusnya pencetakan koran setiap hari (yang berjumlah berapa ratus ribu eksemplar itu) harus dipermasalahkan juga. Setelah dibaca kan koran juga-bisa-dibilang jadi tidak terpakai. Setidaknya, kertas masih bisa terurai (bener ga ya). Bandingkan dengan kresek yang tidak bisa terurai, lebih parah manakah dampaknya terhadap lingkungan? 😯

    iki warung tempe penyet nang pasar keputih kan? :likethis:

    1. estech

      @mimi, Bukannya saya tidak mempermasalahkan tas plastik atau koran, saya sendiri juga tidak setuju dengan penggunaan tas plastik yang banyak dipakai di sebagian besar supermarket. Dan kemarin lusa saya menemukan hal yang menarik. Waktu belanja di salah satu supermarket, saya mendapat tas belanja yang ramah lingkungan. Di tas itu tertulis “tas ini bisa terurai dengan sendirinya”.

      Kalau masalah koran sih, saya enggak terlalu mempermasalahkan. Lagian koran kan menggunakan kertas daur ulang :ehm: *insyaAllah*.

      Kalau anda tidak terlalu mempermasalahkan tisu sih enggak masalah juga. Kan ini pendapat pribadi saya berdasarkan beberapa referensi yang pernah saya baca. :thanks:

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s