Mahasiswa = Pencari Kerja?

Berawal dari iseng-iseng buka website kampus

Menanggapi postingan saudari Eka Setyowati, Mahasiswi Teknik Kimia ITS angkatan 2009.

Sependapat dengan apa yang dijelaskan saudari Eka dalam artikelnya, selama ini lulusan universitas banyak dikenal sebagai “job seeker”. Memang tidak ada yang salah dengan menjadi seorang “job seeker”, apalagi mencari kerja di zaman sekarang bukanlah hal yang cukup mudah untuk dilakukan. Kalau kita punya kenalan atau anggota keluarga yang sudah mempunyai wewenang yang cukup besar di suatu perusahaan mungkin akan lain lagi ceritanya. Karena seperti yang kita tahu, Nepotisme memang masih tetap tumbuh dengan subur di masyarakat kita.

Tapi coba kita pikirkan sejenak, Apakah lahan pekerjaan yang tersedia tiap tahunnya pasti akan mampu menampung jumlah Sarjana yang tiap tahun semakin banyak jumlahnya? Padahal seperti yang kita tahu, jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tiap tahunnya tidaklah seberapa dibandingkan dengan jumlah Sarjana yang ada. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan semakin tingginya angka pengangguran di tingkat Sarjana.

Image and video hosting by TinyPic

Mencuplik keterangan dalam artikel saudari Eka,

Menurut data BPS, 85,75 persen atau sekitar 3,77 juta jiwa orang yang berpendidikan sarjana pada Februari 2008 terserap dalam lapangan pekerjaan, sementara 14,25 persen lainnya menjadi penganggur terbuka. Sedangkan, pada Agustus 2009 jumlah penganggur terbuka dari kalangan sarjana kembali meningkat menjadi 13,08 persen. Hanya sekitar 86, 93 persen atau 4,66 juta sarjana yang mengisi berbagai lapangan pekerjaan.

Hal tersebut tampak kontras bila dibanding dengan lulusan sekolah menengah kejuruan yang menjadi penganggur terbuka pada Agustus 2009 hanya mencapai 14,59 persen atau turun dibandingkan dengan Agustus 2008 yang mencapai 17,26 persen. Sedangkan penganggur yang lulus sekolah dasar (SD) pada Agustus 2009 mencapai 3,78 persen atau turun dibanding Agustus tahun lalu yang 4,57 persen.

Dan saya rasa, solusi yang paling tepat untuk mengatasi semakin meningkatnya jumlah pengangguran di kalangan sarjana hanya ada satu, yakni menjadi seorang enterpreanur (pengusaha).

Mengutip dari detik finance, rasio kewirausahaan Indonesia saat ini masih sangat kecil, yakni 0,8%. Sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan jumlah wirausahawan yang ada di negara maju yang saya kutip dari kompas, yang rasionya antara 5-15%.

Selama ini, kebanyakan mahasiwa kita selalu didoktrin bahwa orang yang sukses adalah orang yang kerjanya mapan, punya banyak uang, dll. Sehingga untuk urusan pekerjaan pun tidak jarang kita kita akan menemukan para sarjana yang merelakan keilmuannya demi untuk memperoleh pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Padahal jika para sarjana tersebut mau serius menekuni dan mengimplementasikan apa yang telah diperolehnya selama kuliah, tidak menutup kemungkinan mereka akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan tidak hanya berpangku tangan.

Selain gaji bekerja di perusahaan-perusahaan besar yang cukup menggiurkan, faktor ketakutan akan kegagalan dan juga kurangnya kompetensi(kreativitas) mungkin menjadi salah satu alasan minimnya jumlah wirausahawan di kalangan Sarjana.

Oleh karenanya, sudah seharusnya semua universitas memberikan fasilitas untuk meningkatkan jiwa enterpreneurship para mahasiswanya. Salah satunya mungkin dengan mengadakan mata kuliah enterpreanurship seperti yang telah dilakukan oleh beberapa Institut dan Universitas di Indonesia. Dan agar tujuan dari adanya mata kuliah enterpreanurship ini bisa terpenuhi, praktek terjun langsung ke lapangan mungkin bisa dijadikan latihan dan juga dijadikan sebagai penilaian seberapa besar kreativitas dan ketrampilan mahasiswa-mahasiswa tersebut dalam berwirausaha.

Demikianlah pendapat saya, Bagaimana pendapat anda?
Terima kasih telah berkunjung. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya.

gambar diambil dari : sini

Advertisements

2 thoughts on “Mahasiswa = Pencari Kerja?

  1. Berat gan… :applause:

    Budaya bapak ibu kita masih mengarahkan putra putri mereka -kita red- untuk menjadi seorang “job seeker”. Tidak sedikit pula yang mengidamkan anaknya menjadi seorang PNS dg alasan “dapat pensiunan” kelak di usia senja. Sebenarnya tidaklah buruk, namun anak menjadi kurang siap jika nantinya pekerjaan tidak kunjung dia dapat. Mental anak kurang siap, apalagi mental dan kreatifitas untuk menjadi seoran eterpreneur belum tertanam pada diri si anak.

    Kita bukan anak usia 10 tahun lagi. Sudah saatnya kita berani memilih dan bersikap.

    1. estech

      @Boen, setuju an… 🙂

      kebanyakan orang tua kita lebih memilih “bermain aman”. Tidak salah memang jika melihat keadaan yang semakin lama semakin sulit seperti ini.

      Oleh karenanya, sebagai mahasiswa kita harus bisa menjadi “job maker” bukan hanya menjadi “job seeker”.

      semangat :rock:

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s