Mau dibawa kemana Remaja kita?

Judul yang hampir mirip dengan lirik lagu Band Armada ini sepertinya cukup merepresentasikan bagaimana keadaan para remaja Indonesia. Dengan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi dan minimnya filter dan kontrol langsung dari orang tua, tak jarang informasi yang sepantasnya tidak boleh diakses pun bisa diakses secara bebas oleh para mereka.

Tadi waktu saya OL di plurk, saya mendapatkan sebuah fakta menarik dari status Mas Grala. Di statusnya, beliau menuliskan

62,7% remaja Indonesia pernah ML, 97% pernah nonton bokep, 93% pernah ciuman, 21% remaja putri pernah aborsi

Pertamanya sih kurang percaya. Tapi karena disebutkan bahwa info itu berdasrakan hassil survei yang dipublish di Kompas, saya pun akhirnya percaya.

Apalagi beberapa waktu yang lalu pada waktu pulang ke Mojokerto saya juga sempat diceritain ibu kalau ada seseorang tetangga yang sehari-harinya banyak dikenal cukup alim dan cukup pendiam tiba-tiba diketahui kalau dia hamil diluar nikah. Saya pun sebenarnya agak tidak percaya dengan apa yang saya dengar, mengingat anak yang dikabarkan hamil itu selama ini memang lumayan cakap kemampuan agamanya. Karena selama ini dia memang sekolah di lingkungan sekolah yang mempunyai basis agama. Belum lagi dia juga cukup mahir bertilawah dan bersholawat.

Tapi karena yang bercerita adalah ibu, saya pun percaya.
Memang berat mengakuinya, tapi inilah faktanya.
Anak yang hampir selama 10 tahun menempuh pendidikan di sekolah berbasis agama pun tidak bisa luput dari ancamannya. Dan mungkin saja korban selanjutnya adalah orang-orang di sekitar kita (na’udzubillah). Kalau anak yang selama proses pendidikannya selalu medapatkan porsi pendidikan agama yang lebih saja sampai seperti itu, bagaimana dengan sekolah-sekolah umum yang pendidikan agamanya hanya seminggu sekali?

Kalau sudah seperti ini, siapa lagi yang harus disalahkan? kemajuan teknologi? saya rasa kita tidak seharusnya kita menyalahkan kemajuan teknologi. Karena pada dasarnya teknologi diciptakan untuk memudahkan dan membantu manusia. Kalau pada kenyataannya banyak oknum-oknum yang menyalahgunakan teknologi, bukan berarti teknologi itu buruk. Kita ambil contoh, pisau. Pisau pun sebenarnya hampir sama dengan teknologi. Tergantung siap yang mengggunakan dan memanfaatkannya. Kalau yang memanfaatkannya koki tentu akan lain hasilnya bila dibandingkan dengan jika digunakan oleh penjahat, pembunuh, maupun perampok.

Karena kemajuan teknologi tidak bisa dijadikan tersangka utama, dapat dipastikan kesalahan itu bukan berada pada teknologi yang ada, melainkan pada SDM yang memanfaatkannya. Coba kita lihat, sekarang ini seringkali jarang sekali acara TV yang mendidik. Rata-rata acara yang terpampang disana adalah acara-acara yang memperebutkan rating pemirsanya. Tak peduli, apa dampak yang diakibatkan olehnya. Oleh karenanya, tidak jarang layar TV kita banyak dipenuhi oleh indahnya kisah percintaan dan pergaulan bebas yang semuanya itu secara tidak sadari akan membunuh semangat para remaja kita untuk berkarya dan berprestasi. Karena yang selalu memenuhi pikirannya adalah “cinta” yang sudah mengalami penyempitan makna.

Kalau teknologi tidak bisa disalahkan dan SDM yang memanfaatkannya pun tidak bisa diingatkan, yang bisa kita lakukan hanyalah memberi pengertian kepada orang-orang terdekat kita akan bahayanya pergaulan bebas yang semakin hari semakin tidak karuan.

Oleh karenanya, segera selamatkan keluarga dan orang-orang di sekitar anda.
Ancaman itu selalu ada. Jangan pernah lengah dengan keadaan. Seperti kata bang napi, “tindak kriminal itu bukan hanya terjadi karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah, waspadalah”.

gambar diambil dari : sini dan sini

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s