Sensei vs Guru (part2)

Melanjutkan postingan saya sebelumnya yang berisi tentang perbedaan nasib guru…

Memang dari dulu, nasib guru tidak banyak mendapatkan perhatian penuh. Sejak kecil, jarang sekali saya temukan orang tua yang sangat hormat terhadap guru dan pendidik para anaknya. Berbeda sekali dengan keadaan para guru di jepang. Dimana para pejabat pun sampai menaruh rasa hormat yang begitu tinggi kepada para guru-guru anaknya, meskipun anaknya sudah cukup lama lulus dari sekolah yang bersangkutan.

Mengutip pernyataan Mbak Irene dalam salah satu postingannya,

kata Sensei dalam bahasa Jepang itu terdiri dari dua kanji. Kanji pertama berarti PRIORITY dan kedua berarti HIDUP. Jadi wajar Sensei di Jepang menjadi orang yang sangat diprioritaskan dalam dunia kehidupan pengajaran dan pendidikan. Filosofi tulisannya aja udah gitu. (CMIIW)

Dari kutipan di atas, sudah jelas bahwa guru (sumber pendidikan) merupakan salah satu prioritas hidup bangsa Jepang.

Kita semua tentu tahu bahwa jepang kalah telak pada perang dunia kedua. Hal itu ditandai dengan hancurnya Hiroshima dan Nagasaki akibat serangan bom atom Amerika. Dan dalam situasi yang suram itu, kaisar Jepang saat itu, Kaisar Hirohito melakukan inspeksi keliling untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya. Ada satu pertanyaan yang diajukan sang kaisar kepada stafnya, yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Jepang sampai detik ini. Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah pabrik yang tersisa, berapa jumlah bank yang masih buka, atau berapa jumlah rumah yang masih berdiri. Satu-satunya pertanyaan beliau adalah, “Berapa jumlah guru yang masih kita punya?”

Image and video hosting by TinyPic
Dan seperti yang kita tahu, hasil dari dialog pendek tersebut sungguh luar biasa. Jepang yang sebelumnya hancur separah itu pun bisa bangkit dengan cepat dan menjadi penguasa di dunia, pada bidang teknologi khususnya.

Sejak awal inti dari pembahasan ini memang bukan untuk membanggakan bangsa jepang.

Jepang disini hanya sebagai contoh suatu bangsa yang menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan dan berbagai komponen di dalamnya, termasuk guru salah satunya.

Agar dapat menjadi motivasi bagi kita, agar kita dapat melakukan hal yang sama, bahkan lebih darinya. Karena sudah saatnya kita menempatkan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama dalam hidup. Meskipun ilmu sendiri bukanlah tujuan hidup.
Image and video hosting by TinyPic
Dan yang terakhir, jangan pernah lupakan nasib para guru kita. Karena bagaimanapun karena jasa beliau juga-lah kita dapat menjadi seperti sekarang ini.

gambar diambil dari : sini, sini, dan sini

Terima kasih telah berkunjung,
Sampai jumpa di postingan saya berikutnya… :bye:

Laboratorium Pemrograman Teknik Informatika ITS,
di penghujung siang akhir pekan yang dihiasi rintik hujan…

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s