CAP (Catatan Akhir PIMNAS) XXIII -part 2-

Lanjutan CAP XXIII part 1…

Setelah menempuh perjalanan hampir sekitar 4 jam, akhirnya bus ber-AC ini berhenti juga. Belum sampai di Ketapang sih, masih di Probolinggo. Tepatnya di rumah makan Tongas Asri. 1 jam berlalu, bus pun diberangkatkan menuju pit stop selanjutnya, pelabuhan Ketapang. Dan di sela-sela perjalanan menuju ketapang inilah aku mendapatkan sebuah fakta baru. Ternyata, Probolinggo adalah kota seribu taman.

Tiba di pelabuhan ketapang, aku nggak ingat jam berapa pastinya. Mungkin sekitar jam 12 atau jam 1. Yang jelas waktu itu sudah larut malam. Dan sebelum masuk ke kapal ferry, aku sempatkan ngopi-ngopi + foto-foto gak jelas sama anak-anak elektro.

Dan ketika memasuki ferry, aku pun merasa nggak enak. Bukan karena aku tidak pernah naik ferry. Tidak, aku yakin bukan karena itu. Karena aku sudah pernah naik ferry sebelumnya. Entah apa yang membuatku merasa nggak enak, yang jelas ombak yang cukup tinggi saat itu membuatku sedikit bergidik.

Di tengah perjalanan, hal yang paling aku takutkan pun terjadi. Perutku mual.*Ternyata ini yang tadi membuatku merasa nggak enak* “Oh tidak, what should I do now?”, pikirku. Karena sudah hampir 7 tahun aku tidak pernah mabuk darat dan laut, rasanya aku nggak bisa terima kalau sampai aku mabuk saat itu. Akhirnya aku pun mencari tempat yang sangat nyaman untuk menenangkan perutku yang sudah mulai bergejolak. Melihat ke dalam kabin tidak ada tempat kosong, aku pun ke atas untuk mencari tempat duduk. Dan Alhamdulillah, akhirnya dapat.

Setelah dapat tempat duduk, masalah baru pun muncul. Angin laut, ya, angin laut. Masih tergambar dengan jelas bagaimana dinginnya hembusan angin laut malam itu. Dingin yang sama dengan dingin ketika kita hujan-hujanan berjam-jam. Setelah bertahan beberapa saat, aku pun akhirnya tak tahan melawan. Dan karena perutku sudah semakin tidak bisa diajak kompromi, aku pun segera mencari tempat “meditasi” yang tepat agar isi perutku tidak meluap keluar. Dan akhirnya tangga di dekat kabinlah pun menjadi tempat pilihanku. Selain karena aman dari ancaman angin laut, tangga yang ada pun bisa dipakai sebagai tempat duduk darurat.

Namun karena di tangga aku tidak bisa “bermeditasi”, aku pun pindah duduk (klesetan) “bermeditasi” di bawah tangga. Dan siapa sangka, ulahku bermeditasi ini nantinya akan membuatku menjadi salah satu artis diantara para peserta dan dosen pembimbing PIMNAS XXIII ITS.

*bangun sambil ucek-ucek mata*
“Kok sepi banget ya? Pada kemana nih orang-orang?”, tanyaku dalam hati.
Aku pun coba mengingat-mengingat kejadian sebelum aku tertidur sambil melihat keadaan di kapal. Karena sudah sangat sepi dan tidak ada penumpang di kabin sama sekali, aku pun turun. Keadaan di bawah pun tidak jauh berbeda, tidak ada satu pun kendaraan. Aku pun langsung keluar karena aku yakin kalau aku ini sedang TERTINGGAL. *OMG, how could this happen to me?*

Melihat handphone berdering berkali-kali membuatku semakin yakin kalau aku ini tertinggal. Dan Alhamdulillah, setelah berjalan beberapa langkah keluar kapal, terlihat Mas Bimo dari BEM ITS yang datang menjemputku dengan tergesa-gesa. Dan aku pun hanya bisa terdiam pasrah sebelum menerima eksekusi dari semua penumpang. “maaf, tertidur”, ucapku sambil senyum-senyum ga jelas ketika masuk bus II yang mayoritas cewek. *duh, malunya*

Setelah mengalami tragedi yang sangat mengenaskan tersebut, aku pun mendadak terkenal. Kalau diibaratkan dengan keadaaan sekarang ini, keadaanku saat itu mungkin bisa dianggap sama dengan keadaan shinta jojo saat ini. *Artis dadakan euy :D*

Setelah sempat tertunda beberapa saat, perjalanan ke Denpasar pun dilanjutkan. Tepat pukul 07.30 WIB *Waktu Indonesia (bagian) Bali*, sampai lah kami di Grand City Inn. Hotel yang secara khusus dipesan oleh ITS sebagai tempat tinggal para peserta dan dosen pembimbing PIMNAS.

bersambung ke part 3….

Advertisements

6 thoughts on “CAP (Catatan Akhir PIMNAS) XXIII -part 2-

  1. bagus kok ad…
    tp kl dinovel kyknya lebih detail lg suasananya
    kl diblog kurasa sdh cukup gini j cz g ena jg baca postingan kl kepanjangan 🙂

    ealah…
    tp emang kok
    ketika yg diinginkan seperti ini biasanya malah yg terjadi adalah sebaliknya
    yang bisa diucapkan adalah “enjoy every moment” (copy kata2mu ^^v)
    kalo emg uda nasib jadi artis diapa2in tetep aj jd artis 😀
    sayangnya utk kali ini jalan ceritamu mjadi artis mengenaskan haha ^^v

    1. hiya, gak konsisten iki -__-”
      mari ngomong lebay eh saiki malah ngomong apik -__-”

      benar-benar komentar yang tidak bisa dianggap sebagai referensi yang tepat 😛

      ahahaha….
      yo gantian lah fa,
      masa jadi pemeran protagonis terus (^^”)7

    1. lebay? lebay teko endi fa?
      biasa ngunu kok jare lebay…

      kyk cerita-cerita nang novel nggak fa? ^^
      *butuh masukan buat perbaikan cara penulisanku

      haha,
      kaet biyen aku ga pernah pengen dadi artis,
      tapi nyatane ancen sering kebalikane,
      pas kelas XII SMA dadi artis nang kelas -__-“

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s