Belajar dari Patch Adams

Kalau di postingan-postingan sebelumnya saya banyak bercerita tentang pengalaman, opini, dan impian. Mulai sekarang saya akan berusaha mengangkat tema yang sedikit berbeda dari biasanya. * Wah, postingan saya mulai bervariasi nih. :D*

Film.
Itulah tema yang akan coba saya angkat dalam postingan saya kali ini.

Dan film yang akan saya bahas kali adalah patch adams yang beberapa hari yang lalu baru selesai saya tonton. Sebenarnya sudah lama sih pinjam dvd-nya di rental downloadnya. Tepatnya setelah melihat daftar film-film inspiratif dari kaskus dan idws. Tapi, karena dulu saya lihat sepintas kurang menarik maka saya jadi agak malas untuk menontonnya. Dan kemarin waktu saya tonton, ternyata perkiraan saya salah total. Filmnya bagus banget. Recommended untuk ditonton. *promo detected*

Film ini bercerita tentang kehidupan hunter β€œpatch” adams dalam mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang dokter di usianya yang tidak lagi muda. Dan film ini pun akhirnya sukses membawa kembali memori saya tentang harapan orang tua saya agar saya masuk FK atau Farmasi setelah lulus SMA.

Jujur, saya memang punya keinginan untuk menjadi dokter. Apalagi jasa seorang dokter tidaklah kecil. Karena yang diurus adalah kesehatan dan nyawa manusia. Tapi karena saya tidak terlalu berani (baca : takut) dengan darah maka saya memutuskan untuk tidak melabuhkan pilihan kuliah di FK. *maafkan anakmu ini, abah dan umi :)* . Alasan yang lain mungkin karena saya memang tidak terlalu suka biologi yang konon katanya adalah sejarahnya anak IPA *ketahuan kalau malas membaca πŸ˜› *

*Walah, kok malah jadi sesi curhat gini sih :D*

Kembali ke patch adams…
Di bagian awal film ini, alur ceritanya masih belum terlalu jelas dan masih sulit untuk dimengerti. *Apa mungkin karena otak saya yang loadingnya lama ya? :D*. Namun setelah sampai pada bagian dimana patch mulai menjalani kuliah, alur ceritanya mulai jelas.


Inti dari film ini yang dapat saya tangkap, Patch ingin menjadi dokter yang sesungguhnya. Yang tidak hanya mengobati pasien. Tapi mengerti bagaimana karakter dan kepribadian pasien yang diobatinya. Dan patch ingin mengubah paradigma tentang seorang dokter dengan karakternya yang unik yang membuatnya mudah diterima di berbagai kalangan. Meskipun dengan itu, patch harus rela berkali-kali mendapat teguran bahkan ancaman untuk di-DO dari universitas tempat dimana dia kuliah.

Beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dari film ini antara lain :

1. Membantu dan membuat orang lain senang dapat membuat anda melupakan masalah anda sendiri.
Kalimat di atas adalah kutipan dari salah satu perkataan patch dalam film ini. Dan terbukti, patch yang sebelumnya hampir terkena stress menjadi sembuh total dan hampir tidak pernah memikirkan masalah yang ada pada dirinya sendiri karena sudah merasa tidak memiliki masalah.

2. Buku memang sumber ilmu, tapi pengalaman tetaplah guru no 1
Tidak semua hal bisa dipelajari melalui buku. Hal ini bisa dilihat dengan jelas melalui fakta yang ada pada film ini. Ketika rival kuliah patch yang terkenal sebagai kutu buku dan cukup cerdas tidak bisa bertindak banyak ketika ada pasien yang tidak mau makan. Dan akhirnya patch yang memang sudah sering berinteraksi dan berkomunikasi dengan pasien tersebutlah yang mampu membujuk dan merayunya.

3. Tugas seorang bukanlah melawan kematian karena kematian adalah suatu kepastian. Tugas seorang dokter adalah meningkatan kualitas hidup pasien
Kurang lebih begitulah kata-kata patch di bagian akhir film, dalam sidang penentuan nasibnya di kampus.

4. Semua orang bisa menjadi dokter
Ini adalah salah satu kutipan favorit saya dalam film ini. Dimana menurut patch, semua orang bisa dan mampu menjadi dokter. Karena sesungguhnya dokter bukan hanya monopoli para sarjana FK. Saya, anda, dan kita semua yang tidak pernah mengenyam pendidikan dokter pun mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi dokter. Dan salah satu cara paling sederhana untuk mewujudkannya adalah dengan mendengar (dengan penuh antusiasme tentunya). Karena terbukti banyak orang yang merasa tenang setelah menceritakan masalahnya.

Bagimana? Masih tidak tertarikkah anda untuk menjadi seorang dokter? πŸ˜€

Oh iya, sekarang kan bulan Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa ya buat teman-teman yang muslim πŸ™‚
—————————————————————————————————————————
Gambar ditautkan dari : sini
—————————————————————————————————————————

Advertisements

4 thoughts on “Belajar dari Patch Adams

  1. yah pelajaran yg kamu dapatkan dari film ini smwnya bagus2

    lah bukannya kita pernah ngomong tentang fk sebelumnya ya?
    kita kan pernah omong2n tentang pas mau masuk kuliah
    wah dasar pelupa hihi
    *geleng2 kepala

    weuw kliatane lebih pantas jadi dokter cinta deh ad haha ^^v

    1. owalah…
      emang ceritanya bagus kok..

      saya hanya menyimpulkan dari apa yang saya lihat πŸ™‚

      hmmm *mikir*
      koyoke iyo πŸ˜€

      kalau gitu,
      tak jadi dokter cinta di dunia maya ae wes πŸ˜€
      hahaha

  2. wah kata-katanya cukup bagus itu

    mengingatkan aku akan masa lalu juga dan dg alasan yg hampir sama pula T_T

    ya bener smw org bisa jadi dokter
    sekarang aku juga bisa jadi dokter…tapi dokter pabrik kimia πŸ˜€

    1. Kata-kata yang mana fa?

      loh, pean dulu juga mau masuk FK juga tah?

      iya lah…
      aku sekarang juga jadi dokter…
      dokter cinta πŸ˜›
      wkwkwkwk

      enggak ding, dokter komputer πŸ˜€

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s