PKMM, I’m in love!

Akhir-akhir ini saya memang banyak disibukkan oleh semua hal yang berbau PKM. Mengingat deadline pengiriman proposal PKM ke DIKTI sudah semakin dekat.

Adalah pengalaman saya selama mengikuti ajang PIMNAS XXIII di Universitas Mahasaraswati, Denpasar beberapa waktu yang lalu yang membuat saya tertarik untuk mendaftarkan judul PKM lagi ke DIKTI.

Dengan bermodalkan pengalaman selama menjalankan PKMM di tahun sebelumnya, saya pun mulai memikirkan topik apa yang sekiranya dapat diangkat menjadi sebuah PKM. Khususnya PKMM yang selama ini menjadi tempat saya berulah berkiprah.

Dan dari sinilah saya mulai mengerti, ternyata membuat sebuah karya inovatif tidaklah semudah teorinya. Memang benar, saya pernah menjalankan PKMM. Tapi pada waktu itu saya hanya sebagai anggota dan saya tidak terlalu banyak campur tangan dalam urusan observasi lapangan dan membuat proposal. Sehingga pengalaman saya dalam menulis proposal PKM pun bisa dibilang masih cukup minim. Layaknya teman-teman yang pertama kali mengikuti PKM.

Setelah saya terawang pikirkan dengan penuh pertimbangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah PKMM yang mengangkat tema “Inovasi pembelajaran sains sebagai upaya meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran sains sekaligus solusi atas keterbatasan fasilitas eksperimen bagi siswa tingkat SMP di Surabaya”. Dan latar belakang PKM ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah pengalaman saya selama menimba ilmu selama 3 tahun di sebuah MTs swasta yang tidak mempunyai fasilitas laboratorium sains sehingga proses pembelajaran sains terkesan monoton, membosankan, dan kurang menarik bagi siswa karena para siswa terlalu banyak dijejali materi tanpa ada variasi metode pembelajaran sama sekali.

Padahal menurut saya, mengajarkan sains itu ibarat menjual sebuah barang yang berkualitas tinggi yang tidak banyak diketahui kualitasnya oleh para pembelinya. Kalau para dewan guru tidak dapat mengemas sains semenarik mungkin, para siswa tidak akan pernah tertarik untuk “membelinya”. Jangankan tertarik untuk membeli, melihatnya saja pun mungkin tidak akan pernah. Oleh karenanya, para dewan guru mata pelajaran sains harus bisa mengemas sains semenarik dan sekreatif mungkin. Sehingga para siswa benar-benar mengetahui kualitasnya dan tertarik untuk “membelinya”.

Melihat saya tertarik untuk menjalankan PKMM lagi, mungkin diantara anda ada yang bertanya-tanya. “Apa anda tidak bosan menjalankan PKMM? Bukankah PKMM sangat banyak menyita waktu?”

Kalau ditanya seperti itu, saya nggak juga munafik lah. Kalau dibilang capek ya pasti capek, kalau dibilang bosan ya terkadang bosan juga sih. Tapi karena saya merasa berhutang banyak pada masyarakat yang telah banyak memberikan subsidi kepada saya untuk bisa merasakan nikmatnya bangku kuliah di perguruan tinggi negeri, jadi saya merasa harus membayar hutang saya kepada masyarakat dengan pikiran dan tenaga yang saya miliki.

Mungkin karena sejak kecil saya hidup dalam keluarga yang sangat peduli dengan kehidupan sosial bermasyarakat, sehingga jiwa-jiwa sosial saya sedikit banyak muali terasah di lingkungan rumah dan akhirnya terbentuklah mindset saya untuk senantiasa peduli pada keadaan orang di sekitar saya.

Saya memang ingin merasakan bagaimana susahnya menjalankan PKM-PKM yang lain. Tapi hati nurani dan idealisme saya sebagai seorang mahasiswa menuntun saya untuk memilih PKMM sebagai tempat berkarya untuk kali kedua.

Sesuai dengan impian terbesar dalam hidup saya, menginspirasi dan memberi manfaat pada sebanyak mungkin orang di dunia. Bukankah Rasulullah juga pernah berpesan, “sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain” :). So, tunggu apa lagi, ayo kita ikut PKMM! 😀 *promo detected*

Saya sendiri memang tidak (baca : belum punya ide untuk) membuat judul-judul PKM-PKM yang lain. Tapi saya sudah mulai ditawari oleh-oleh teman-teman saya yang lain untuk mencoba PKMK, PKMT, dan PKMM lain. Semoga nantinya semua PKM yang mencamtumkan nama saya dalam proposalnya dapat didanai oleh DIKTI :D. Dan semoga PKM-PKM saya yang lain tidak mengganggu fokus saya untuk menjalankan PKMM saya di atas. Karena menurut pengalaman saya, menjalankan 1 PKMM saja sudah menguras banyak waktu dan tenaga.

Terakhir, semoga kita semua dimudahkan oleh-Nya dalam menggapai semua impian kita. *amin*

Advertisements

One thought on “PKMM, I’m in love!

  1. mengikuti pkm memang pengalaman tersendiri
    walaupun capek fisik dan bathin (hehehe alay), sering sebel sama teman karena beda pendapat yang tidak kunjung menemukan titik temunya tapi seru banget 😀

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s