Bimbingan PKM Tahap II (part 1)

Akhir-akhir ini saya mengalami banyak hal yang mengesankan.

Setelah beberapa waktu yang lalu saya sempat asistensi kepada Pak Irfan (salah satu dosen paling menakjubkan yang pernah saya temui) di kampus terkait proposal PKMK. Hari ini tadi saya juga kembali merasakan hal yang sama ketika asistensi proposal PKMM kepada Pak Widya Utama (Dosen Jurusan Fisika ITS yang juga sekaligus Reviewer DIKTI).

Seperti yang telah saya jelaskan pada postingan-postingan saya terkait PKM sebelumnya. ITS memang sangat berobsesi untuk menjadi Juara Umum PIMNAS XXIV. Hal itu dibuktikan dengan diadakannya serangkaian acara guna mendukung terwujudnya hal ini. Sosialisasi PKM dengan tema “Road to PIMNAS” dan Bimbingan tahap I dan II adalah beberapa contoh diantaranya.

Meskipun semua agenda tersebut merupakan agenda “wajib” kepada para pejuang PKM ITS, pada kenyatannya saya hanya mengikuti beberapa diantaranya. Salah satunya adalah Bimbingan tahap II.

Kalau pada Bimbingan tahap I yang banyak dibahas adalah ide dan kreativitas. Pada bimbingan tahap II ini, materi diskusi lebih ditekanakan pada substansi PKM dan fiksasi format. Dan proposal PKM saya merupakan salah satu korban dari bimbingan tahap II yang dilakukan oleh ITS.

Karena saya memang sangat berniat untuk menjalankan PKMM, maka saya tidak tanggung-tanggung dalam memilih reviewer. Adalah Bpk Widya Utama yang saya pilih untuk mereview proposal PKM saya. Dan hasilnya adalah *jreng jreng* : Proposal saya harus direvisi total 😀

Mengecewakan? Memang.
Tapi bukankah kesalahan adalah salah satu media pembelajaran paling efektif? 😀 *pengaruh kebanyakan nonton acaranya Om Mario Teguh*

Dari hasil diskusi kelompok PKM saya dengan Bpk Widya, akhirnya saya mengerti bagaimana menyusun proposal yang benar. *maklum, tahun kemarin, saya cuma numpang nama doang di proposal :D*

Kalau anda berniat membuat PKMM, berikut ini langkah-langkah yang harus anda lakukan *sesuai dengan arahan Bpk.Widya* :

1. Tentukan bidang fokus PKMM anda (Pendidikan, Kesehatan, Sosial, Ekonomi, dll)

2. Observasi ke lapangan (masyarakat sasaran) secara langsung guna melakukan wawancara dan mencari tahu, apa yang menjadi masalah di masyarakat. Selama ini kebanyakan proposal PKMM yang dikirim masalahnya mengada-ada. Dan seringkali mahasiswa itu sendiri yang menciptakan masalah kemudian menawarkannya pada masyarakat. Hal ini perlu dikoreksi. Karena belum tentu masyarakat membutuhkan apa yang kita tawarkan kepada mereka sebelum kita melakukan observasi secara langsung kepada masyarakat.

3. Kalau ternyata masalah yang ada di masyarakat cukup kompleks dan cukup luas, pilih salah satu bagian tertentu untuk menjadi fokus kerja PKMM anda. Mengingat terbatasnya waktu pelaksanaan, biaya, tenaga, dan kemampuan yang anda punya. Kalau bisa bagian yang anda pilih tersebut bisa merepresentasikan dan bisa diterapkan juga pada bagian-bagian yang lain.

4. Baru setelah itu anda buat proposal PKMM-nya. Dengan mengacu pada penyelesaian masalah yang telah anda tentukan sebelumnya tentunya.

Untuk format pengerjaan proposal yang benar, akan saya uraikan pada postingan saya yang selanjutnya. Karena saya rasa postingan ini sudah terlalu panjang dan kurang nyaman untuk dibaca.

Advertisements

5 thoughts on “Bimbingan PKM Tahap II (part 1)

  1. Pingback: Bimbingan PKM Tahap II (part 2) - Kamu Itu Beda

  2. uni

    mau nimbrung di postingan ini…

    kalau saat ini saya sedang buntu2 nya mengembangkan PKMM saya. sekalikpun sudah mendapat bimbingan dari salah satu dosen ITS yang juga merupakan reviewer…

    mungkin karena pengaruh sifat perfeksionis saya, sehingga saya harus mereduksi ide2 besar saya yang saya sadar nggga bs sma tercapai

    1. Wah, siapa nih? Kok namanya cuma uni? 😀
      salam kenal ya…

      Kalau menurut saya sih,
      PKMM memang paling berat diantara PKM yang lain…
      Selain PKMT…

      Kalau boleh jujur,
      Saya sendiri adalah tipe orang yang perfeksionis…
      Untuk masalah sepele saja kadang menghabiskan banyak waktu…

      Kalau menurut saya, mulai sekarang reduksi sifat perfeksionis anda. Karena bisa saja sifat seperti itu malah menjadi boomerang bagi anda sendiri. Dan akhirnya malah membuat anda semakin kontra-produktif.

      Kalau bisa, cari teman satu kelompok yang bisa mengingatkan sewaktu-waktu kita lupa diri dan terlalu fokus pada hal-hal detail yang sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s