Malangnya Menjadi Pengemis

Banyak sekali yang membencinya.

Dengan gaya pakaian sederhana.
Ala kadarnya, dalam istilah kerennya.
Ada pula yang compang camping,
Sampai tersingkap beberapa anggota tubuhnya.

Anak kecil seringkali dijadikan senjata.
Belas kasih orang-orang adalah sumber pendapatannya.

Pengemis, begitu mereka biasa dipanggil.
Dan seperti yang kita tahu, selama ini banyak sekali orang yang merasa risih dan tidak suka dengan keberadaan mereka.

Kalau Anda hidup di daerah sekitar ITS, Anda nggak akan kesulitan untuk menemukan mereka. Kalau Anda sedang beruntung, cukup dengan duduk di warung kaki lima yang ada di tepi jalan Arief Rahman Hakim pun Anda akan berjumpa dengan mereka. Baik itu yang masih belia maupun yang sudah renta dimakan usia. Karena nyatanya mereka memang cukup rajin berkelana di keputih tiap malamnya.

Ironi memang. Mengemis yang seharusnya merupakan suatu keterpaksaan karena memang tidak ada hal lain yang bisa dilakukan akhir-akhir ini marak dijadikan mata pencaharian. Saya sendiri kurang setuju memang jika mengemis dijadikan sebuah mata pencaharian.

Pemerintah pun telah melakukan berbagai cara agar pengemis sadar diri dan tidak lagi menjadikan mengemis sebagai mata pencaharian. Sampai akhirnya dibuatlah larangan untuk memberi pengemis.

Sebagian orang mendukung program pemerintah ini secara penuh. Karena mereka beranggapan dengan berhenti memberi mereka uang, maka mereka akan putus asa mengemis dan akhirnya akan mencari jalan lain untuk mencari uang.

Namun, saya tidak setuju dengan langkah seperti ini. Karena langkah seperti ini tidak sepenuhnya tepat. Mengapa?

Karena belum tentu mereka akan mencari jalan lain yang jauh lebih baik. Bisa saja, setelah mereka putus asa mengemis mereka akan mencuri, menjambret, merampok, atau bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi mereka akan bunuh diri. (na’udzubillah min dzalik)

Menurut pengamatan saya, program-program yang diberlakukan oleh pemerintah selama ini masih ada yang saling kontradiktif. BLT dan larangan pemberian pada pengemis adalah salah satu contohnya.

Kalau memang pemerintah melarang pemberian pada pengemis. Mestinya pemerintah juga tidak merangsang para rakyatnya agar menjadi rakyat pengemis yang pasif. Yang hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah. Karena tanpa disadari, dengan memberi BLT pada masyarakat yang kurang mampu berarti pemerintah sudah mengajarkan pada masyarakat tersebut tentang budaya mengemis.

Kalau memang ingin menghentikan kegiatan mengemis. Seharusnya pemerintah tidak hanya melarang masyarakat untuk memberi pengemis. Tetapi juga memberikan pendidikan keterampilan kepada pengemis. Sehingga nantinya mereka tidak sampai mengambil jalan yang salah setelah berhenti mengemis.

Ah, pemerintah memang selalu bisa dijadikan bahan pembicaraan

Kalau saya sendiri sampai saat masih belum bisa jika harus dilarang memberi pada pengemis. Bukan karena saya tidak taat peraturan dan tidak peduli dengan masa depan mereka dengan selalu “menjerumuskan” mereka. Tapi karena sejak kecil saya diajarkan dan dicontohkan oleh kedua orang tua saya untuk selalu mengasihi sesama. Tanpa melihat mereka itu mampu atau tidak. Kalau mereka memang minta, dan kebetulan saya memang punya. Mengapa tidak?, Begitu prinsip saya.

Tetapi juga tetap mendoakan mereka agar uang yang saya berikan nantinya dapat mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Untuk mereka jadikan modal awal dalam mendirikan usaha mereka misalnya. Ataupun untuk mereka jadikan biaya menyekolahkan anak-anak mereka agar tidak mencontoh mereka nantinya kelak.

Dan alangkah lebih baik lagi jika kita tidak memberi mereka uang namun memberi mereka pelatihan keterampilan dan pekerjaan. Karena dengan seperti itu, kita tidak hanya memberi mereka. Namun juga memberdayakan mereka.

Bukankah Rasulullah juga sudah berpesan, “Manusia yang paling baik diantara kita adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesama”, kawan? πŸ˜€

Tambahan lagi. Berikut ada quote yang cukup menarik dari teman saya, Pambudi :
“Never look down on anybody unless you’re helping him up.” -Jesse Jackson

Advertisements

6 thoughts on “Malangnya Menjadi Pengemis

    1. Wah, kalau sudah pakai bayi itu sudah ekstrim banget.

      Ngapain coba bawa-bawa bayi?

      Dan pertannyaannya sekarang, Akankah kita diam saja melihat semua kenyataan ini? πŸ˜€

  1. Setuju ad, kalo memang kita punya dan ingin memberi, kenapa tidak?? Urusan kalo itu dijadikan pekerjaan ato bukan, rasanya ga ada masalah buat kita, yang penting niat kita ikhlas ingin memberi, hanya Allah yang bisa mengetahui isi hati seseorang, Wallahu’alam,,,,,,

  2. Setuju banget gan… sudah ada bagiannya sendiri2

    mereka yang mengemis kita yang memberi….
    gak onok rugine memberi malah biasane wong lek diwenehi kuwi malah ndongakna wong sing wenehi.

    Lek mampu memberi dengan tindakan (memberi keterampilan) silahkan, belum mampu karena kurang waktu beri dg uang, gak punya uang beri doa aja gan…
    tapi pemberian sing paling apik kuwi pemberian sing paling akeh manfaat e. koyok pitutur e Sunan Drajat “Paring teken marang wong kang kalunyon, paring mangan marang wong kang kaliren, paring sandhang marang wong kang kawudhan, paring payung marang wong kang kodanan”

    lek tindakan e pemerintah iku yo ancene isone pemerintahan e kene yo cumak ngunu iku, lek diibaratna pemerintahan e kene yo koyok bocah tapi diwenehi masalah sing ruwet. dadi kene ws gak usah nuntut pemerintah kudu ngene kudu ngunu…

    lek pendapatku ngunu jeh… lek menurutmu ypo jeh?

    1. Mantap. πŸ˜€
      Sesuai dengan yang saya perkirakan.

      Memang ngunu.
      Makanya ada yang bilang “ada kalanya meminjami itu pahalanya lebih baik daripada memberi”.
      Soalnya, orang akan meminjam jika mereka merasa butuh.

      Intinya, memberi itu lebih bernilai jika sesuai pada tempatnya πŸ˜€

      Pemerintah memang sudah punya banyak amanah. Jadi maklum, kalau ada beberapa keputusan yang salah.

      Makanya Andrea Hirata menulis gini dalam novelnya : “Bagiamanapun keadaannya, kita pasti akan selalu bisa mendapatkan alasan untuk menyalahkan pemerintah :D”

      Pokoknya, kalau memang tidak mau memberi ya jangan menghina.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s