Masihkah Saya Bisa Disebut Orang Indonesia?

” Apakah saya masih bisa disebut orang Indonesia jika nyatanya saya banyak tidak tahu sejarah bangsa ini? Dan yang lebih mengerikan, apakah saya masih boleh marah jika reog diambil bangsa tetangga sementara saya sendiri hanya bisa menggeleng dan terdiam jika seseorang bertanya mengenai reog itu seperti apa? Ironisnya, demikianlah kondisi mayoritas bangsa ini. Pupusnya sejarah, hilangnya identitas bangsa.. Renungkanlah…”

Kutipan di atas bukanlah ucapan seorang budayawan, apalagi menteri kebudayaan. Kutipan di atas adalah status facebook teman sekampus saya, Radhit.

Memang beginilah kondisi budaya bangsa ini. Bertahan hidup tak mampu mati pun tak mau.

Pengalaman saya waktu menghadiri acara 7 dino 7 bengi (7 hari 7 malam, red) yang diselenggarakan di kampus guna menyambut dies natalis ITS ke 50 adalah salah satu bukti nyantanya.

Di saat acaranya adalah konser musik, jumlah penonton dari kalangan mahasiswa sangat membludak. Namun sangat bertolak belakang jika yang sedang dipentaskan adalah acara-acara kebudayaan bangsa ini sendiri (Ketoprak, Wayang, dll).

Sedikit curhat…

Kemarin waktu saya menghadiri pementasan wayang kulit dengan dalang Ki Manteb S dan Ki Enthus S saya menemukan suatu hal yang menarik. Dari sederetan sinden yang tampil, ada seorang sinden yang asalnya Jepang. Dan menariknya lagi, wanita Jepang tersebut sangat lancar berbahasa Jawa kromo inggil. Yang bahkan orang jawa sendiri sekarang sudah mulai banyak yang tidak mampu untuk mengucapkannya.

Usut punya usut. Ternyata wanita tersebut sudah menetap di Jawa selama 12 tahun. *pantesan, kok lancar bahasa jawanya* :D.

Begitulah sedikit kisah menarik yang bisa saya berikan dari hasil kunjungan saya waktu menghadiri pementasan Wayang Kulit di ITS kemarin.

Kembali ke topik menjaga budaya Indonesia…

Selama ini bangsa ini selalu merasa kebakaran jenggot ketika melihat budayanya ‘dicuri’ oleh negara tetangga. Umpatan-umpatan yang sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan pun akhirnya begitu mudahnya melunucur dari mulut orang-orang Indonesia yang merasa mempunyai hak milik atasnya.

Padahal sebenarnya kita tidak seharusnya menjadikan itu sebagai masalah. Bahkan sebaliknya, kita seharusnya berterimakasih kepada Malaysia. Karena menurut saya, itu adalah salah satu bentuk sindiran yang diberikan oleh Malaysia kepada Indonesia agar lebih mengapresiasi budaya bangsanya sendiri. Karena selama ini sebagian besar orang Indonesia memang merasa gengsi dengan budayanya sendiri.

Kalau sudah seperti ini, kita hanya bisa menanti saat dimana kita sudah kehilangan pengetahuan akan budaya bangsa kita sendiri. Mengutip kata Radhit lagi : “Akan tiba masanya kelak orang Indonesia harus pergi ke luar negeri untuk belajar budaya yang diwarisi nenek moyangnya sendiri …”

Dan saat ini hal itu sudah mulai terbukti. Untuk meraih gelar Doktor dalam jurusan Sastra Jawa saja, kita harus bersusah-sudah belajar ke Belanda. Lha kok bisa, budayanya ada di sini tp kita harus belajar ke Belanda? Saya sendiri tak tahu dan tak bisa menjawabnya.

Sudah saatnya kita melestarikan budaya dan seni yang dimiliki bangsa ini. Mengapresiasinya dan ikut hadir dalam pementasannya adalah salah satu upaya kecil yang bisa kita lakukan mulai saat ini.

– Proud to be Indonesian –

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s