Sekolah = Pembunuh Impian?

Kalo kamu bertanya ke anak2 TK apa cita2 mereka, pasti mereka akan jawab dengan keras dan optimis bermacam2 jenis cita2 mulai dari guru sampe presiden. Tapi kalo kamu tanyakan itu ke anak2 SMA, mereka justru banyak yang bingung dengan cita2nya, bahkan ada juga yang ga punya cita2.

Kalo ternyata sekolah cuman buat anak didiknya jadi kehilangan obsesi dan cita2, buat apa masih pergi ke sekolah??

, begitulah Ibrahim membuka perbincangan hangat tentang pendidikan di status FB miliknya.

Dan seperti biasa, karena saya memang cukup terbobsesi dengan pernyataan-pernyataannya yang (menurut saya) sangat kritis dan di luar perkiraan. Akhirnya saya tidak kuasa menahan diri untuk tidak memberi komentar di statusnya. πŸ˜€

Asal Anda tahu, pendidikan merupakan salah satu topik yang paling sering dibicarakan teman saya yang satu ini *selain mengampanyekan penggunaan open source tentunya :D*. Mulai dari pendidikan itu kurang memberi manfaat nyata selain pengetahuan sampai yang terakhir pendidikan itu membunuh impian adalah beberapa statement yang pernah diungkapkannya terkait masalah pendidikan yang ada di bangsa ini.

Selama ini teman saya yang satu ini merasa pendidikan yang ada mulai dari tingkat dasar sampai pada tingkat menengah tidak lebih dari sebuah proses transfer pengetahuan. Meminjam istilah yang digunakan Rancho (3 idiots) : “Nyaris tidak ada sesuatu baru yang dipelajari di dalamnya”. Karena memang begitu kenyataannya.

Menurutnya, semua yang kita pelajari waktu sekolah akan menjadi sia-sia jika kita tidak melanjutkan pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Karena nyatanya, semua yang kita pelajari dari SD sampai SMA hanya berguna sampai pada saat kita tes masuk perguruan tinggi. Selebihnya hanya bidang ilmu pengetahuan tertentu saja yang akan kita pelajari di waktu perkuliahan. Dan sisanya akan terasa sia-sia selain menambah khazanah pengetahuan. *Saya sebenarnya kurang setuju dengan statement ini, karena dalam pandangan saya tidak ada yang sia-sia dalam proses pembelajaran*

Tanpa banyak bertele-tele lagi. Langsung saja saya kutipkan hasil diskusi saya dengan teman saya, Ibrahim πŸ˜€

Berikut ini tanggapan saya waktu membaca status Ibrahim di atas…

Saya suka pertanyaan kritis semacam ini…

Kalau pendapat saya sih…
Waktu kecil kita masih belum tahu banyak tentang kesulitan dalam hidup, belum ada stigma-stigma negatif, pengaruh lingkungan, dll…

Jadi kita masih bebas bermimpi sesuai dengan keinginan kita….
Tapi setelah dewasa, kita mulai menyadari bahwa hidup itu tidak mudah. Bahkan sebaliknya, kita seringkali menemukan kesulitan dan hambatan yang akhirnya membunuh mimpi-mimpi kita satu per satu….

Kalau sekolah yang dijadikan penyebabnya saya nggak setuju…
Karena anak yang nggak sekolah atau sekolah hanya sampai pada tingkat dasar malah lebih banyak yang tidak punya cita-cita….

*silakan dibuktikan sendiri kalau tidak percaya*
it’s just my opinion…

Berikut ini tanggapan Ibrahim

kalo menurutku sebenarnya sekolah lah yang mempersulit hidup ini, seharusnya sekolah itu adalah tempat belajar, dan seharusnya belajar itu menyenangkan, bukan justru banyak ancaman, seperti ancaman ga naik kelas, ancaman harus bisa semua mata pelajaran, ancaman harus lulus, dan ancaman2 lainnya. ini membuat siswa tertekan, mereka jadi lupa dengan cita2 mereka, mereka sekolah karena terpaksa, menimbulkan mereka jadi cuma ingin ijazah aja, bukan ilmu pengetahuan.

seandainya sekolah mendorong anak didiknya untuk mengembangkan minat, bakat dan kemampuan mereka tanpa memaksa mereka untuk bisa semua pelajaran, pasti hasilnya sekolah akan menjadi hal yang menyenangkan, bukannya malah menimbulkan ketakutan.

kalo katanya pidi baiq, sekolah memaksa kita untuk jadi habibie, padahal kita belum tentu mau menjadi habibie, sekolah memaksa kita untuk jadi enstein, padahal bisa jadi sebenarnya kita maunya menjadi frankenstein.

“Hidup ini main-main, sekolah lah yang telah menyebabkannya menjadi serius” (pidi baiq)

Tanggapan saya lagi,

Kalau itu baru setuju…

Sekolah itu (seharusnya) adalah tempat yang menyenangkan…
Tapi sayangnya tidak demikian kenyataannya..

Saya memang setuju kalau sebelum memasuki proses pendidikan, seorang anak itu semestinya harus diperiksa dulu apa minat dan bakat dari sang anak…

Baru setelah itu kita tentukan pendidikan apa yang pantas buat mereka. Tidak seperti sekarang ini, semuanya diharuskan menjadi seorang Habibie. Padahal belum tentu impian mereka menjadi Habibie. Siapa tahu impian mereka menjadi Valentino Rossi. Bukan begitu im? πŸ˜€

Tapi kalau memang sistem pendidikannnya seperti itu,
Maka akan sulit membuat parameternya im…

Makanya sekarang semuanya dibuat seragam.
Biar penilaiannya tidak susah.

Kalau memaksakan sekolah itu harus menyesuaikan minat dan bakat siswa, maka akan berat di resource pengajarnya. Karena belum tentu pengajar tersebut menguasai bidang yang menjadi bakat dan minat siswa.

Semoga suatu saat nanti, kita akan menjadi orang-orang terdepan dalam mengampanyekan pendidikan yang menyenangkan. Yang tidak memaksa para siswanya untuk menjadi habibie.

Makanya, ayo jadi guru im πŸ˜€ *kampanye terselubung*

Demikianlah diskusi singkat saya dengan teman saya, Ibrahim tentang sekolah dan pendidikan.
Setujukah anda jika sekolah dijadikan kambing hitam sebagi pembunuh impian?
Kalau saya pribadi setuju. Meski tidak 100%

Masih penasaran dengan kelanjutan diskusinya? πŸ˜€ Silakan anda baca di sini saja kelanjutannya -> Diskusi bersama ibrahim

4 thoughts on “Sekolah = Pembunuh Impian?

  1. mas sa’ad mau jadi guru?? saya dukung mas, banyak ikut PKMM ternyata pengabdian terhadap masyarakatnya digencarkan hheehe πŸ˜€ semangka mas…. kalau saya berusaha mendidik benih-benih umat ini melalu media saja.. πŸ˜€ semoga kita berhasil dan sukse amin….

  2. hahaha….

    asik2, perbincangan kita terdokumentasi di dunia maya..

    maju terus buat blogmu ad,

    dan doakan biar aku juga sadar dan akhirnya ikut2an nge-blog juga, sekalipun sebenernya aku ga suka ikut-ikutan..

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s