Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Wah, blog saya kok mengenaskan gini keadaannya*sambil membersihkan sarang laba-laba* πŸ˜€

Oke, fine, seminggu belakangan ini agenda saya memang sangat lumayan padat. Mulai dari menghadiri kuliah tamu bersama presiden yang pengamanannya amat sangat ketat sekali (lebay :p), mempersiapkan kegiatan bedah buku 25 mahasiswa inspiratif ITS di Kampus, dan yang terakhir kemarin, menjadi penjaga stan pada perempat final, semifinal, dan final schematics 2010.

Setelah sempat bingung mau menulis apa di postingan perdana setelah sempat hiatus selama satu minggu dari dunia blog. Akhirnya saya putuskan bahwa di postingan perdana ini saya akan bercerita tentang “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” πŸ™‚

Ups, jangan salah dulu…

Nikmatnya pacaran setelah pernikahan bukanlah sebuah pergerakan, bukan pula sebuah propaganda untuk segera melangsungkan pernikahan di usia dini bagi remaja.

Nikmatnya pacaran setelah pernikahan adalah sebuah judul buku karangan Salim A.Fillah yang banyak mengupas masalah virus merah jambu.

Kesan Pertama Saya pada Buku ini . . .

Sebelum saya membeli buku ini, nama Salim A. Fillah seakan menjadi daya tarik sendiri bagi saya. Karena kebetulan saya dulu pernah hadir dalam acara diskusi tentang masalah pergaulan remaja yang mengundang beliau (Salim A.Fillah, red) sebagai pembicara. Jadi, sedikit banyak saya sudah pernah tahu gaya bahasa beliau sebelumnya.

Sewaktu saya beli buku ini, sebenarnya ada 2 judul buku lain karangan Salim A. Fillah yang terpampang di rak toko buku. Masing-masing adalah Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, dan Jalan Cinta Para Pejuang.

Dan karena buku ini merupakan buku yang paling menarik murah dibandingkan 2 buku di atas, akhirnya pilihan saya jatuh pada buku ini πŸ™‚

Yang menarik dari buku ini . . .

Tidak seperti kebanyakan penulis yang seringkali kaku dan terkesan menggurui ketika mengupas masalah pacaran dalam pandangan islam. Melalui buku ini, Salim A. Fillah menyajikan sebuah sudut pandang baru. Kita (para remaja, red) tidak dilarang untuk melakukan pacaran. Tetapi kita dituntun untuk sabar dan melakukan pacaran secara islami (Pacaran dalam balutan ikatan suci pernikahan, red).

Yang Lebih Membuat Buku Ini Menarik . . .

Selain memaparkan pemahaman tentang bahaya pacaran dan teman-temannya. Salim A. Fillah juga menyelipkan kisah-kisah menarik yang tidak jarang membuat seutas senyum menyimpul di bibir para pembacanya. Kisah di bawah ini contohnya,

“Suamiku..,” kata Fatimah, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki-laki dan aku sangat ingin menikah dengannya”. Berubah rona wajah ‘Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, marah, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, “Apakah engkau menyesal menikah denganku?” Fathimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. “Tidak”, ucapnya pelan. “Karena lelaki itu adalah.., engkau..”

Secara umum, buku ini sangat direkomendasikan buat para remaja (khususnya muslim) dan Anda yang seringkali banyak terjangkiti virus merah jambu.

Rating saya untuk buku ini : 4.2/5

NB : Tolong jangan salahkan saya ya, kalau setelah membaca buku ini Anda merasa kebelet menikah di usia dini πŸ˜€

Advertisements

4 thoughts on “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s