Sepakbola dan Naturalisasi

Tidak bisa dipungkiri, turnamen AFF kembali membangkitkan gairah sepakbola di Indonesia.

Tidak seperti piala AFF di tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini ada yang spesial di Timnas. Jika di tahun-tahun sebelumnya Timnas hanya dihuni oleh-oleh pemain-pemain pribumi. Tahun ini timnas mulai dihiasi oleh 2 pemain naturalisasi, siapa lagi kalau bukan Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales.

Naturalisasi memang sebuah fenomena yang spesial. Timnas Indonesia yang sebelumnya jarang diekspos oleh media pun kontan menjadi artis dadakan. Tak ketinggalan, tayangan infotaintment yang selama ini seringkali mengungkap kehidupan para artis pun ikut menikmati euforia penyegaran di timnas dengan menayangkan kehidupan pribadi pemain-pemain naturalisasi. Dan anehnya lagi, cewek-cewek yang selama ini jarang suka melihat Timnas berlaga pun banyak yang ikut antre tiket di senayan demi melihat dan mendapat foto sang pemain pujaan. Irfan Bachdim dan Gonzales.Itulah hebatnya fenomena naturalisasi…

Kedatangan 2 pemain naturalisasi ini bukan tanpa dampak. BP (Bambang Pamungkas, red) adalah salah satu orang yang terkena imbas secara langsung kebijakan naturalisasi. BP (baca : bepe) yang selama ini selalu menjadi pemain inti, setelah adanya 2 pemain naturalisasi pun harus rela bersantai di pinggir lapangan dan duduk di bangku cadangan.

Sedikit bicara tentang naturalisasi . . .

Naturalisasi sebenarnya bukan sebuah kebijakan yang mudah untuk dilaksanakan. Karena kenyataannya banyak orang yang tidak menginginkan naturalisasi. Alasannya sederhana, karena timnas adalah lambang supremasi sepakbola Indonesia. Kalau timnas sudah dihuni oleh pemain-pemain yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak kenal siapa itu Jenderal Soedirman, RA. Kartini, Bung Tomo, dan Pahlawan-Pahlawan Indonesia lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Secara tidak langsung supremasi Indonesia sebagai suatu negara sudah diinjak-injak. Kalau tidak bisa dianggap dijajah.

Sedangkan mereka yang menginginkan naturalisasi alasannya adalah karena kualitas permainan Indonesia yang makin lama makin terpuruk. Jadi, mereka merasa perlu ada penyegaran di timnas. Dan salah satu metode penyegaran paling instan adalah dengan mendatangkan pemain-pemain yang sudah berkualitas. Atau dengan kata lain, Naturalisasi.

Ya, apapun alasannya saya sendiri sebenarnya kurang setuju dengan kebijakan naturalisasi. Apalagi setelah membaca artikel Mas Bahtiar yang satu ini.

Menurut saya, kebijakan naturalisasi ini terkesan ingin mendapat hasil maksimal dengan cara instan. Padahal jika mau mencari-cari lagi, bukan tidak mungkin kita bisa menemukan bibit-bibit pemain sekelas Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi di bumi pertiwi ini.

Padahal jika kita yakin pada diri kita sendiri, kita sebenarnya mampu. Timnas malaysia sudah membuktikannya. Mereka bisa lolos ke final dengan tanpa pemain naturalisasi. Meski sempat dibantai 5 gol tanpa balas oleh timnas Indonesia. 😀

Tapi karena beras sudah menjadi nasi. Dan ternyata memang terbukti bahwa naturalisasi membawa angin segar di dalam timnas. Akhirnya, pihak-pihak yang sebelumnya berkoar-koar menolak kebijakan naturalisasi pun terdiam dan ikut hanyut dalam euforia kebangkitan timnas. (-__- “)

Pesan inti yang ingin saya sampaikan melalui postingan ini adalah : saya berharap, semoga ke depan kebijakan naturalisasi ini tidak dijadikan agenda rutin. Jangan sampai ke depan ada skenario transfer pemain timnas. Ingat, Ini timnas bung. Bukan klub sepakbola!

Terakhir, terlepas dari semua tendensi yang ada di belakangnya. Terlepas setuju atau tidaknya kita terhadap kebijakan naturalisasi ini. Perkembangan dan hasil positif yang diraih oleh timnas di ajang piala AFF ini patut untuk diapresiasi. Karena terbukti, sepakbola menjadikan semua rakyat Indonesia kompak berteriak dalam 1 suara. Maju Terus Indonesia!

Sepakbola bukan hanya persoalan kalah menang. Sepakbola bukan hanya masalah cetak-mencetak gol ke gawang lawan.

Saad Ahyat Hasan,

Pemain sepakbola kampung(an).

Advertisements

5 thoughts on “Sepakbola dan Naturalisasi

  1. bahtiar rifai S

    @pams

    Emang jadi warga negara Uni Eropa atau Amerika Serikat gampang? Kagak juga kaleee…he3. Anda harus dilemparin batu dulu atau rumah dibakar sama penduduk asli. Yang paling enak, anda jadi residen permanen puluhan tahun, nanti pas kakek2 baru diangkat jadi warga negara, lalu baru dah dapat tunjangan.

    Kata pengamat sosial, semua manusia, tanpa terkecuali, akan memiliki xenophobia, walau dengan kadar berbeda-beda. Kalau kita tidak punya rasa xenophobia (was-was terhadap orang asing), bisa-bisa tiap naik bis kota, kita dirampok ama tukang hipnotis. Mending kalo laki-laki, kalo cewek? wes digae banca’an. hehehe.

    *maaf sedikit emosional, hehehe*

  2. bahtiar rifai S

    Bagus dik! Tulisan cerdas.

    Kalau saya merindukan anak-anak Primavera macam Kurnia Sandi, Kurniawan, yeyen tumena dll. Aku bangga dengan mereka, juga bangga dengan negara yang mau keluar duit untuk mendidik anak-anaknya.

    Dengar-dengar, bahkan dulu, Kurniawan sempat masuk tim Sampdoria saking bagusnya. Kalau masalah luar negeri, dulu ada pemain Indonesia yang main di FC Helsinborg Divisi Utama Swedia (kalo gak salah Bima Sakti). Dulu pernah juga ada yang main di Eintracht Frankfurt pas lagi jaya-jayanya.

    Aku setuju banget kalau anak-anak Indonesia disekolahin di luar negeri. Mending, daripada tim pencari bakat tak perlu banyak buang energi. Kalaupun kita mau naturalisasi, sekalian aja John Heitinga yang punya darah Indonesia, atau dulu Dany Landzaat, Van Bronckhost, atau sekalian Van Persie yang katanya nenek-buyutnya asli orang surabaya.

    Mungkin orang Indonesia juga lupa, dulu legenda sekelas Mario Kempes sempat main di Indonesia, kenapa kita tidak rekrut dia. Sebab, waktu itu kita gak butuh! pemain kita lebih baik. Menurut saya, Bachdim, Kim, Trabuco, anak-anak putus asa dari negeri asal mereka. Ibarat pengangguran, sekarang lagi kerja serabutan.

    Kita saat ini, seperti inferior sama ras kita sendiri yang emang pendek-pendek, item-item dan pesek-pesek. Kita lupa kalau bung karno pernah buat front sawo matang saat mengusir belanda.

  3. pams

    kalo masalah pelatih gmn menurut anda?bolehkah dari luar?

    Kalo saya sih naturalisasi sih sah2 saja . .mengingat perlunya stimulus2 untuk meningkatkan kualitas persepakbolaan di negara kita. Toh di negara asing (red: Eropa) pun naturalisasi banyak terjadi. Pemain naturalisasi juga telah menjadi warganegara kita.

    Menurut saya naturalisasi yang benar adalah pemain yang telah menjadi warganegara dan memang mencintai Indonesia. Bukan asal perekrutan yang sepertinya dilakukan oleh PSSI sekarang. Pemain luar diberi warganegara hanya karena ingin direkrut. Alasan pemain pun hanya karena ingin merasakan timnas karena jika di negaranya tidak bisa ikut timnas.

    Padahal pada kenyataannya menjadi warganegara Indonesia cukup sulit. Banyak yang mencintai Indonesia dan sudah tinggal lama di Indonesia namun tetap tidak bisa menjadi warganegara.

    Lihat saja Gonzales, dia sudah tinggal lama di Indonesia, dia cinta Indonesia (istrinya .. :P). Sudah punya paspor Indonesia sejak menikah (hanya saja sayangnya baru menjadi warganegara 1 Nov 10, artinya dijadikan warganegara karena akan direkrut).
    Kalo Irfan dan pemain2 selanjutnya bagaimana?

    Yang perlu diperbaiki lagi adalah prosesnya. Naturalisasi memang cara instant, tetapi “proses naturalisasi tidak boleh dilakukan dengan instant.”

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s