Kunci Sukses Proses Pendidikan

Setelah sempat merasakan suasana belajar di sekolah pinggiran non-unggulan selama 9 tahun dan di sekolah (yang konon katanya) unggulan selama 3 tahun. Saya selalu berpikir, “Mengapa sih banyak orang yang ingin masuk ke sekolah-sekolah unggulan? Toh nyatanya sekolah unggulan tidak jauh berbeda dari sekolah-sekolah biasa pada umumnya.”

Oke deh, untuk masalah kelengkapan fasilitas, sekolah-sekolah unggulan mungkin lebih unggul. Tapi untuk masalah kualitas proses pendidikan? Sama sekali tidak ada jaminan.

Selama masih MI dan MTs, saya memang sekolah di institusi pendidikan (yang konon katanya sih) non-unggulan. Bukan hanya karena sekolah saya tidak menggunakan plat merah. Tapi karena sekolah saya waktu itu memang hanya sekolah swasta biasa yang tempatnya jauh di pelosok desa. Rata-rata teman saya waktu MTs pun sebagian besar adalah teman-teman saya di MI sebelumnya. Makanya waktu MTs saya sering merasa hanya pindah tempat belajar saja πŸ˜€

Sejak kecil, saya memang tidak begitu mempermasalahkan sekolah. Bagaikan kerbau yang dicocok hidung, saya selalu mengiyakan apa yang orang tua saya pilihkan. Baik itu untuk masalah mainan, pakaian, jodoh maupun untuk masalah institusi pendidikan.

Karena memang dasarnya tidak begitu mempermasalahkan institusi pendidikan. Disekolahkan di MTs swasta yang jumlah siswa dalam 1 kelasnya tidak sampai 20 pun tidak menjadi masalah bagi saya. Toh nyatanya setelah lulus MTs saya masih bisa bersaing untuk masuk SMA (yang konon katanya sih) unggulan di daerah saya.

Dan setelah saya menjalani masa-masa pembelajaran di institusi plat merah saya yang pertama. Saya benar-benar merasakan bahwa “kesenjangan sosial” yang sebelumnya saya takutkan tidak pernah terbuktikan.

Di awal-awal masa pendidikan saya di SMA, kesenjangan itu memang ada. Tapi itu tidak berlangsung lama. Karena mulai semester kedua saya di SMA, saya sudah mulai bisa berakselerasi selaras dengan teman-teman satu kelas saya.

Dan yang paling mengesankan lagi. Di penghujung masa pendidikan saya di SMA, saya masih bisa bersaing untuk menjadi yang terbaik diantara teman-teman terbaik di kelas XII IA 5. Padahal saya hanyalah lulusan sebuah MTs swasta sederhana di pelosok desa. Yang jika saya sebutkan namanya, tidak ada satupun teman saya waktu SMA yang mengenalnya.

Setelah saya bercerita panjang lebar seperti di atas, mungkin beberapa diantara Anda ada yang bertanya. Kalau memang kenyataannya seperti itu, mengapa saya dulu ingin masuk ke sekolah (yang konon katanya) unggulan? Pasti ada yang berpikiran seperti itu kan? Hayo ngaku πŸ˜€

Jawabannya tidak lain adalah, karena saya ingin merasakan bagaimana rasanya belajar dalam 1 kelas yang sama dengan “orang-orang pilihan” πŸ˜€ .

Dan ternyata, atmosfer persaingan yang muncul secara alami diantara orang-orang pilihan inilah yang membuat belajar di sekolah (yang konon katanya) unggulan ini begitu mengasyikkan. πŸ™‚

Terlepas dari kelengkapan fasilitas yang dimilikinya. Atmosfer persaingan yang muncul diantara orang-orang pilihan inilah yang membuat saya merasa nyaman untuk menempuh pendidikan di istitusi plat merah.

Analoginya, kalau berteman dengan penjual minyak wangi saja kita bisa ikut menjadi wangi. Mestinya berteman dengan orang-orang cerdas juga pasti akan menjadikan kita cerdas. Betul nggak? πŸ˜€

Terakhir, mau Anda belajar di institusi pendidikan plat merah atau bukan. Mau Anda belajar di institusi (yang konon katanya) unggulan atau bukan. Jalani semua prosesnya dengan sungguh-sungguh. Karena kunci sukses proses pendidikan itu bukan pada institusinya, tapi pada kesungguhan aktor yang menjalankan proses belajar mengajarnya.

Sesuai dengan idiom arab yang seringkali kita dengarkan. Man Jadda Wajada πŸ™‚

Advertisements

3 thoughts on “Kunci Sukses Proses Pendidikan

  1. bicara masalah pendidikan ya…. sebenarnya pendidikan yang baik acdlahpendidikan islam. penerapan pendidikan islam telah mengukir sejarah dengan tinta emas, di mana pada saat itu terdapat suatu kultur pada umat islam…..yakni kultur cinta ilmu

  2. bahtiar rifai s

    Wah, sepakat saad. Tapi sebenarnya yg dicari dari sekolah unggulan adalah competitiveness. Iklim ini yg tidak bisa didapat di sekolah2 biasa. Seandainya kita hidup dalam lingkugan pekerja keras, pasti kita juga ikut terpengaruh. Itulah bedanya.

    Kalo soal komposisi dan kualitas pengajar, fasilitas, tidak begitu pengaruh sebenarnya. Daya kompetisinya yg di-setting.

    *sok tau banget ya,hehehe*

    btw,Man jadda wa jadda bukannya hanya sebuah idiom Arab?

    1. Iya mas. πŸ™‚
      Makanya di akhir tulisan di atas, saya jelaskan kalau memang suasana persaingan itulah yang membuat belajar di sekolah (yang konon katanya) unggulan itu jadi lebih mengasyikkan πŸ˜€

      Oh iya mas, maaf salah tulis.
      sekarang sudah diralat πŸ˜€

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s