Nikmat yang Sering Terabaikan

Sabtu kemarin, aku dan teman-temanku anak IA-5 secara khusus pulang kampung demi menjenguk seorang teman yang baru saja kecelakaan.

Sebelumnya, pada hari jumat, aku dan teman-teman sebenarnya sudah berniat untuk menjenguknya di RS. Haji. Tapi karena berdasarkan info teman SMA yang satu jurusan dengannya (T.Mesin ITS), dia sudah dimutasi ke RS. Gatoel oleh kedua orangtuanya. Jadi, mau tidak mau, aku dan teman-teman harus menjadwal ulang rencana untuk menjenguknya. Dan akhirnya diputuskan hari sabtu kemarin waktu untuk menjenguknya.

 

Di hari-H…

Seperti biasa, yang datang nggak sampai setengah dari jumlah teman satu kelas ketika SMA.

Sangat disayangkan memang. Kebersamaan yang dulu sempat dirajut selama SMA, ketika sudah lulus sangat sulit untuk dijaga keadaannya.

Oleh karenanya, pesan saya pada teman-teman yang masih SMA dan pada teman-teman Mahasiswa yang masih di tahun pertama kuliah.

Enjoy the time you’ve been together, because nothing last forever

 

Setibanya di RS. Gatoel…

RS. Gatoel masih seperti 3 tahun yang lalu. Hampir tidak ada banyak perubahan selain ditambahkannya beberapa kamar VIP di sebelah barat.

Dan setelah selesai tanya pada resepsionis, kami semua langsung menuju ke ruang VIP 105, tempat dimana kawan saya dirawat.

 

5 menit kemudian…

Kami sudah di depan ruang VIP 105. Dan tidak ada seorang pun yang mau mengetuk pintu. Alhasil, aku menjadi orang yang pertama mengetuk sekaligus yang pertama masuk.

MasyaAllah. Ternyata teman saya terluka cukup parah. Dengan kepala penuh balutan perban, patah tulang tangan, ditambah lagi tubuh tidak bisa digerakkan.

Aku yakin, pada saat itu, bukan aku saja yang merasa tidak percaya dengan apa yang terlihat di depan mataku. Karena sesaat sebelumnya, aku dan teman-teman sudah berniat untuk menggoda dan menjahilinya dengan memberikan nota belanjaan oleh-oleh padanya pada saat berpamitan. Tapi mengingat keadaannya sangat memprihatinkan, akhirnya “niat gila” tersebut batal dilaksanakan.

 

Selama di dalam ruang, aku dan teman-teman banyak bertanya tentang kronologis kejadian kepada ibunda teman saya tersebut. Meskipun ada juga beberapa orang yang hanya diam mendengarkan.

Setelah hampir 30 menit kami berada di sana, akhirnya kami pamit undur diri ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul 17.30.

 

Dari sana, saya banyak belajar.

Seringkali hal-hal yang paling berharga bagi kita itu baru akan terasa berharga ketika kita sudah tidak lagi memilikinya. Oleh karenanya, selalu syukuri nikmat yang kita dapatkan. Baik itu nikmat kesehatan, nikmat kekayaan, nikmat waktu luang, maupun nikmat-nikmat yang lain.

 

Untuk kawan saya, Mbembeng

Get well soon, boy…

 

Terakhir dari saya,

Seindah-indahnya rencana kita, masih lebih indah rencana-Nya untuk kita. (Sang Pembuat Jejak)

Dibalik semua rencana-Nya, pasti ada butiran hikmah tersimpan di sana. (Ahsan :))

Advertisements

2 thoughts on “Nikmat yang Sering Terabaikan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s