Belajar dari Pensil

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sekolah ini…

Tidak ada kebaya,
tidak ada pakaian berdasi.
Tidak ada prosesi wisuda,
yang juga berarti tidak ada pengumuman wisudawan terbaik tahun ini.

Alih-alih bermimpi mengadakan wisuda yang sangat meriah, ada acara wisuda saja sudah alhamdulillah.

Sejak didirikannya dulu, tidak pernah ada sejarahnya sekolah yang sederhana ini mempunyai siswa lebih dari 50 orang. Biasalah, sekolah-sekolah swasta dengan bermodalkan dana swadaya seperti ini memang jarang diminati. Apalagi sekolah ini juga sekolah berbasis agama. Yang akhir-akhir ini sering dianggap sebagai sekolah kasta kedua. Bahkan mungkin ketiga, setelah sekolah swasta biasa yang tidak berbasis agama.

Tapi, meskipun begitu, saya tidak malu pernah jadi siswa di sini. Bahkan sebaliknya, saya bersyukur sekali dulu didaftarkan oleh Abah untuk jadi siswa di sekolah ini. Karena memang ada banyak sekali hal yang membuat saya tidak bisa lupa dengan sekolah ini. Salah satunya adalah para pendidiknya yang penuh dedikasi. Yang tidak hanya mengajari, tetapi juga memotivasi dan menginspirasi.

Dan pengajar seperti beliau-beliau sangatlah sulit dicari. Apalagi di zaman seperti ini. Ketika semua hal diukur berdasarkan materi.

Salah satu pengajar yang paling membuat saya terkesan di sekolah ini adalah Pak Ahsan. Guru mata pelajaran matematika dan IPA. Yang juga lulusan sebuah kampus teknik ternama di Surabaya.

 

Dan hari ini, kami semua siswa kelas IX datang ke sekolah ini demi menghadiri acara syukuran…

 

Setelah hampir semua dewan guru menyampaikan pesan dan kesannya kepada kami yang beberapa saat lagi akan masuk ke jenjang SMA, akhirnya tibalah saat Pak Ahsan untuk menyampaikan pesan dan kesannya kepada kami.

“Kalian masih ingat saat aku memberikan kalian pensil ajaib dulu?” Pak Ahsan membuka pembicaraan.

“Ingat pak,” jawab kami semua serempak.

 

Dulu, 2 hari sebelum UAN, kami memang sempat dikumpulkan untuk diberi pengarahan dan wejangan sekaligus penyerahan pensil 2B gratis dari sekolah. Katanya sih pensilnya sudah diberi doa oleh beberapa tokoh ulama. Makanya kami semua berharap dapat menggunakannya ketika waktu ujian tiba.

 

“Dalam forum kali ini, saya tidak akan berbicara banyak. Karena memang sudah banyak sekali yang saya sampaikan kepada kalian selama 3 tahun belakangan ini. Baik itu tentang pelajaran, kepribadian, maupun yang lainnya”

“Dan sebelumnya, saya mau tanya, bagaimana perasaan kalian ketika dulu saya menjelaskan bahwa pensil-pensil yang kalian dapatkan dari sekolah adalah pensil istimewa karena sudah diberi doa?”

“Ada yang merasa lebih pede nggak ketika menggunakan pensil tersebut?”

Kami semua hanya senyum dan tidak ada yang berani angkat bicara.

“Ya, memang benar pensil tersebut adalah pensil istimewa. Tapi yang lebih penting lagi. Kepercayaan diri kalian itulah yang lebih berharga. Kami semua dewan guru yang ada di sini hanya mampu berusaha semampu kami agar kalian bisa percaya diri menghadapi UAN. Dan pensil itu tadi hanyalah sebuah perantara yang kami harap bisa membuat kalian lebih percaya diri. Dan alhamdulillah, usaha kami tidak sia-sia.”

“Selain untuk memberikan kalian kepercayaan diri lebih. Sebenarnya ada satu filosofi tersendiri dibalik pemberian pensil tersebut. Itu adalah agar kalian tidak hanya belajar dengan pensil. Tapi agar kalian juga belajar dari pensil.”

“Kalau kalian perhatikan baik-baik, pensil itu bukanlah sebuah alat tulis biasa. Setidaknya ada 5 pelajaran berharga yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari alat tulis sederhana ini.”

 

Pelajaran pertama, pensil mengingatkan kita kalo kita bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kita jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia lah yang akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.”


Pelajaran kedua, dalam proses menulis, tidak jarang kita harus berhenti beberapa kali dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang sudah mulai tumpul. Aku yakin, rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kita, dalam hidup ini kita harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik dan lebih dewasa.”


Pelajaran ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan dalam hidup ini. Karena itu akan membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.


Pelajaran keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, jangan pernah menilai orang dari penampilan luarnya saja. Selalu perbaiki akhlak dan budi pekerti kita. Karena sesungguhnya kemuliaan manusia di sisi Tuhannya adalah karena iman dan taqwanya.”

 

Pelajaran kelima, sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Seperti juga kita, kita harus sadar kalau apapun yang kita perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu, perhatikan baik-baik semua perkataan yang kita ucapkan dan semua tindakan yang kita lakukan. Karena suatu saat nanti, semua itu akan dipertanggungjawabkan.”


“Saya rasa, cukup sekian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat dan semoga setelah lulus ini kalian menjadi orang bermanfaat. Kurang lebihnya saya mohon maaf, wassalamu’alaikum wr.wb.” tutup Pak Ahsan.

 

Dengan berakhirnya pesan-pesan dari Pak Ahsan, berakhir pula postingan kali ini. Semoga postingan yang agak panjang ini bermanfaat bagi kita semua. πŸ™‚

Selamat menunaikan hari kamis. Semoga hari-harimu menyenangkan, kawan…

– inspired by : Postingan Ami.Β  πŸ˜€ –

Advertisements

14 thoughts on “Belajar dari Pensil

    1. Sip Rin. Mari kita budayakan berbagi. :mrgreen:

      Kisah di atas itu aslinya cuma kisah fiktif belaka kok. Meski diilihami oleh kisah nyata. πŸ™‚

      Ahsan itu cuma nama pena saya.
      Ahsan itu sama Kayak Anla sampeyan.
      Sama-sama akronim.

      Kalau Anla = Arinda Nur Latifah.
      Kalau Ahsan = Ahyat Hasan.

      Serupa meski tak sama πŸ˜€

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s