Diskusi Masalah Pembajakan

Suatu ketika, teman saya, sebut saja dia Febri, seorang mahasiswa low profile dari Lumajang, bertanya pada Baim. “Mengapa susah-susah ngoding (membuat program, red) pakai notepad++ im? Kan sudah ada dreamweaver (adobe dreamweaver, red)?

Ngapain susah-susah pakai software bajakan kalau dengan software gratisan saja kita membuat program dengan kualitas sama hebatnya. Lagian aku kan memang sudah berprinsip untuk tidak menggunakan produk bajakan.” jawab Baim enteng.

Loh, tapi kan masih enakan pakai dreamweaver. Sudah user friendly, manusiawi lagi.

Coba kamu bandingkan deh. Fiturnya lho jauh lebih lengkap dreamweaver,” ucap Febri mulai mempengaruhi Baim.

Ah, itu kan menurutmu. Fitur itu lho cuma masalah saving time. Kalau dengan dreamweaver kita biasanya tinggal sekali klik langsung jalan. Di notepad++ kita harus berusaha lebih dengan ngoding sampai berdarah-darah dulu meng-klik 2 atau 3 kali baru bisa jalan. Gitu aja kan?

Sudahlah, ngapain kamu pakai software bajakan. Nggak kasihan tah sama developernya?“, seru Baim menyulut perdebatan.

Tidak mau pendapatnya dikalahkan disalahkan, Febri langsung menanggapinya. “Kamu belum tahu ya, crack itu lho cuma strategi penjualan saja. Coba bayangkan deh, apa mungkin ada orang yang tidak mengerti bagaimana software itu dibangun kemudian tiba-tiba bisa menjebol sistemnya sehari setelah software tersebut dirilis. Padahal kenyataannya, crack-crack itu sudah mulai bermunculan sehari setelah software berbayar tersebut dirilis. Dari analisa sederhana seperti itu saja kita sudah bisa memprediksi bahwa yang menciptakan crack itu sendiri sebenarnya adalah orang dalam perusahaan tersebut.

Ah itu kan cuma alibimu saja. Bukti konkritnya mana? Belum pernah terbukti kan?“, Baim mulai melancarkan serangan balik.

Lho, *dengan nada medok khas Lumajang* Sekarang buktinya lho, belum pernah ada ceritanya pembobol aplikasi dipenjarakan. Padahal mendeteksi IP Address pengunggah crack pertama itu tidak susah untuk dilakukan. Tapi mengapa kok para owner aplikasi tersebut tidak pernah menggugat para cracker? Itu tidak lain adalah karena memang cracker itu merupakan orang dalam atau kalau bukan begitu, pasti orang sewaan.” jawab Febri dengan penuh kepercayaan diri. Seperti biasa. Teman saya dari Lumajang ini memang sangat percaya diri. Meskipun tidak jarang dia dicaci, dimaki, bahkan direndahkan oleh teman-teman saya yang lainnya. Tapi rasa bangganya terhadap tanah kelahirannya tidak pernah luntur dari hatinya. *kok jadi nyeritain biografi Febri gini sih 😕 *

 

BTT (Back to Topic)…

 

Ok deh, kalau memang seperti keadaannya. Tetap saja, dimana-mana, yang namanya mencuri itu haram.” sahut Baim.

Lho, *dengan nada medok khasnya untuk sekali lagi* ini lho nggak nyuri im. Kalau membobol aplikasi itu diibaratkan membuka pintu kamar. Saya ini lho sudah dikasih kuncinya sama pemilik kamarnya. Jadi, ya nggak bisa dianggap mencuri dong. Saya kan dikasih kunci sama pemiliknya.” Febri mulai terpancing emosinya.

Kalau dikasih kunci tapi nggak diizinkan masuk, terus bagaimana?

Ya nggak mungkin dong, namanya sudah dikasih kunci ya pasti diizinkan.” Febri menjawab seadanya.

Apapun namanya, yang jelas membajak itu haram. Udahlah, kalau memang nggak punya uang. Jangan sok-sokan pakai software berbayar deh. Toh, software gratisan lho sudah mulai banyak bertebaran.

Analoginya seperti ini, misalnya sotware itu makanan. Ketika kita nggak punya uang untuk beli makan. Terus di sana ada 2 macam makanan. Dua-duanya sama-sama bergizi, bedanya, yang satu agak kurang enak tapi gratis, satunya lagi, enak tapi nggak gratis. Kalau gitu kamu milih mana?“, Baim mulai merasa menguasai suasana.

Ya nggak bisa seperti itu dong. Fitur itu nggak hanya masalah rasa im. Kalau aku sih melihat kelengkapan fitur itu sebagai sebuah gizi. Jadi, nggak bisa dianggap enak atau nggak enak gitu dong,” Febri membantah sebisanya.

Gizi? gizi itu berhubungan erat dengan manfaat. Dan manfaat itu berhubungan erat dengan hasil. Sekarang kalau kita memakai software gratis saja bisa membuat produk yang sama bagusnya dengan hasil karya orang-orang yang menggunakan software berbayar. Itu berarti ya software gratis itu punya gizi yang sama dengan software berbayar. Meskipun dalam prakteknya, kita harus melakukan usaha yang lebih jika menggunakan software gratis karena fiturnya yang kurang lengkap.“, Baim menjelaskan dengan mata berbinar-binar penuh keyakinan.

 

Sudahlah, mendebatkan hal seperti ini sama saja mendebatkan sebuah hal yang nggak akan pernah punya titik temu. Karena kalian masing-masing tidak punya kesamaan pendapat. Kalau aku sih melihat perdebatan semacam ini itu seperti halnya perdebatan antara orang Ahmadiyah dan orang Muslim. Meskipun kamu menjelaskan sampai bagaimanapun, kalau memang orangnya merasa tidak sesat ya kamu nggak akan bisa membuat mereka merasa sesat. Karena sesatnya mereka itu kan dalam pandangan kita. Tapi dalam pandangan mereka pribadi kan mereka tidak sesat. Jadi ya, sekarang kita yang harus meningkatkan toleransi. Lakum dinukum waliya din. Bagimu pendapatmu, bagiku pendapatku” ucap sayau mengakhiri perdebatan sengit dua teman saya yang berbeda pendapat tersebut dan mengajak mereka berdua untuk makan.

 

Setelah mengikuti perdebatan tentang pembajakan software antara Baim dan Febri selama 2 jam kemarin. Saya jadi belajar banyak. Ternyata selama ini kita sudah berada dalam sebuah lingkaran setan yang sangat berbahaya. Dari dulu saya selalu merasa bingung karena selama kuliah ini saya seringkali menggunakan software bajakan. Bagaimana mungkin ilmu saya bisa berkah kalau belajarnya dengan barang curian?

Satu pertanyaan lain yang sering berkelebat di pikiran. “Bagaimana mungkin aku nanti mencarikan nafkah untuk keluargaku dengan menggunakan software bajakan? Tidakkah itu sama saja dengan mencari nafkah dengan menggunakan barang curian?

Dan atu hal yang membuat saya akhirnya sadar, “Dalam hidup ini kita tidak bisa terbebas seratus persen dari yang namanya barang haram, bagaimanapun itu bentuknya. Oleh karenanya, satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah memperbanyak istighfar dan meminta ampunan kepada-Nya,” begitu kiranya pesan Cak Nun (Emha Ainun Najib, red) ketika memberikan tausyiah di mana saya lupa. Yang jelas di Surabaya. Karena saya baru sering mengikuti pengajian beliau ketika berada di (kota yang konon katanya adalah) kota pahlawan ini.

Saya mengakui, untuk saat ini saya memang berada di jalan yang salah. Tapi setidaknya saya sadar dan mengakui bahwa hal yang saya lakukan sekarang ini adalah salah. Dan lebih dari itu semua, setidaknya saya sudah mulai berusaha untuk beralih menggunakan software gratis. Meskipun belum semuanya gratis setidaknya untuk beberapa software seperti antivirus, pdf reader, browser, mp3 player, IDE (netbeans), dan beberapa software utility lainnya saya sudah mulai menggunakan yang gratis (freeware atau opensource, red) daripada yang bajakan.

 

“Terlepas dari crack itu dibuat oleh developer software tersebut atau bukan, yang namanya membajak itu ya haram.”, (Ibrahim Musa Ibnu Syihab a.k.a Baim)

 

Selamat menunaikan hari kedua (itsnain = senin, red) di minggu ini kawan. Semoga  harimu menyenangkan dan terbebas dari software bajakan. 😀

Advertisements

9 thoughts on “Diskusi Masalah Pembajakan

    1. Ya biar ada postingan lanjutannya gitu dong, Feb.
      Postingan ini sudha terlalu panjang.

      Jadi gak enak bacanya kalau terlalu panjang.
      Postingan blog itu kalau bisa tidak lebih dari 750 karakter. 🙂

  1. kamu ga bahas yang waktu diskusi sambil makan kemaren, padahal itu yang paling penting… 😀

    tunggu postinganku tentang yang ini juga
    (masih berusaha mencari waktu dari sedemikian padatnya aktifitasku sebagai pembela kebenaran :P)

    1. Itu tugasmu Im.
      Silakan dibuat segera postingannya…

      Ntar judulnya, Melanjutkan Diskusi Masalah Pembajakan 😀

      Atau kalau gak gitu.
      Diskusi Masalah Pembajakan [2] 😀

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s