Mari Membaca

Kalau dibandingkan dengan koleksi para kutu buku teman-teman sekampus seperti Fahmi atau Ulin. Koleksi buku bacaan yang saya punya memang tidaklah seberapa.

Jujur, dari dulu saya memang bukanlah seorang yang hobi membaca. Sejak MI, nilai mata pelajaran sosial saya selalu di bawah standar. Entah memang sudah bawaan sejak kecil lebih suka dengan mata pelajaran seperti IPA dan Matematika. Jadi waktu disuruh membaca rasanya perut langsung mual-mual, kepala langsung pusing, dan tidak lama kemudian langsung tidak sadarkan diri. *eh? ngomongin apa sih ini tadi?* *plak*

Ok, saya akui saya memang tidak suka membaca. Mungkin hal ini juga lah yang membuat saya lebih memilih jurusan IPA daripada jurusan Sosial maupun Bahasa ketika masih SMA. Dan alasan ini pula yang saya gunakan ketika memutuskan memilih jurusan teknik dibandingkan jurusan-jurusan sosial semacam psikologi dan teman-temannya.

 

Satu hal yang perlu teman-teman tahu, meskipun saya tidak suka membaca. Bukan berarti saya tidak suka membaca semua buku lho ya. Karena nyatanya saya memang masih sering membaca komik, novel, dan beberapa buku yang menarik minat saya. 😀

 

Dan dari semua buku yang pernah saya baca, novel-novel semacam tetraloginya Andrea Hirata lah yang seringkali membuat saya merasa hanyut dengan ceritanya . 🙂

Makanya nggak mengherankan juga kalau tiap kali membaca novelnya Bang Andrea saya selalu bermimpi untuk menjadi penulis seperti beliau. Karena saya selalu menemukan hal-hal menarik dibalik lembar demi lembar novelnya. Dan sejak kenal novel Tetralogi Laskar Pelangi, saya memang berubah menjadi agak sedikit lebih rajin membaca.

 

Saya akui, tidak semua orang mampu duduk berjam-jam di depan buku. Saya dulu pun begitu. Jangankan duduk berjam-jam bersamanya. Memandangi sampulnya saja kadang bikin perut mual. 😛

 

Tapi semuanya berubah ketika teman sebangku saya waktu kelas XII mengenalkan novel tetralogi Laskar Pelangi kepada saya. Dan sejak saat itu, saya selalu membeli semua buku karangan Andrea Hirata. Mulai Laskar Pelangi, sampai novel dwiloginya yang beberapa bulan lalu diterbitkan, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas.

Dan sejak saat itu, saya selalu merasa membaca adalah hal yang sangat menyenangkan. Jauh dari kesan membosankan seperti yang dulu pernah saya rasakan.

 

Dan saat ini. Ketika saya menulis postingan ini. Saya baru saja selesai membaca sebuah novel berjudul 9 Summers 10 Autumns yang bercerita tentang kisah nyata perjalanan seorang anak supir dari Batu, Malang yang bisa sukses jadi direktur di salah satu perusahaan terkemuka di New York.

 

Dan perlu teman-teman tahu, saat ini saya juga sedang dalam progress menyelesaikan bacaan saya yang terbaru. “Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela” yang baru saya beli Ahad kemarin bersama Febri, Fahmi, dan juga Pambudi. Dan sepertinya saya mulai jatuh hati dengan novel yang mengusung tema pendidikan ini. 🙂

 

Membaca itu layaknya mendaki gunung, kawan. Terasa berat awalnya. Tapi akan ada kepuasan tersendiri jika kita sudah menjejakkan kaki di puncaknya.

 

Maka dari itu, kawan. Mari kita mulai membaca…

Demi masa depan yang lebih berwarna…

 

 

Surabaya, 12 April 2011

Di sebuah laboratorium yang sudah mulai sepi.

Ditemani alunan musik Endah N Rhesa yang mendamaikan hati.

Advertisements

6 thoughts on “Mari Membaca

  1. bukan diturunkan sih ya kata yang tepat. hehe.. tapi dibentuk dari keluarga. ada kawan SMA saya yang sekeluarga suka baca, akhirnya teman saya itu juga jadi maniak baca. hehe..

    1. Kalau saya melihat kebiasaan membaca itu seperti halnya watak. Bisa dipengaruhi lingkungan.

      Jadi, tidak menutup kemungkinan, anak yang aslinya malas membaca bisa berubah menjadi rajin membaca setelah punya teman-teman yang rajin membaca.

      Tapi kembali lagi, pada akhirnya memutuskan untuk membaca atau tidak itu tergantung pribadi masing-masing. Karena memang pada kenyataannya ada tipe-tipe orang yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan. 🙂

  2. membaca itu juga lahir karena budaya keluarga, mas. nenek saya, sejak muda hingga usia menjelang 80 masih saja gemar membaca dan itu menurun ke anak cucunya.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s