Mari Berhenti Mengeluh

Hari sudah tidak lagi pagi ketika saya berangkat ke kampus hari ini. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini tadi saya berangkat kuliah lewat perempatan Panjang Jiwo.

Seperti yang telah teman-teman ketahui, selama di Surabaya saya tinggal di daerah Sidosermo. Jadi mau tidak mau saya harus selalu melewati perempatan yang berada di sisi kali jagir ini tiap kali berangkat ke kampus.

Dan selayaknya hari-hari sebelumnya. Hari ini tadi, untuk yang kesekian kali saya menemukan pemandangan yang luar biasa ketika menunggu lampu lalu lintas berubah warna. Di perempatan ini.

 

Tidak seperti kebanyakan pengguna jalan yang biasanya nggak sabar menunggu lampu lalu lintas berubah warna. 2 orang anak kecil yang saya temui di perempatan jalan ini tadi dengan sabarnya menawarkan beberapa lembar koran yang dibawanya.

Di saat anak-anak kecil lain seumurannya banyak disibukkan oleh PR dari sekolahnya. 2 orang anak kecil yang kutemui pagi tadi sudah harus bekerja dengan penuh semangat demi menyambung hidupnya. Sangat mengesankan bukan?

Sempat muncul rasa iba dalam hati saya dan ingin membeli beberapa lembar koran yang dibawanya. Tapi karena saya merasa tidak terlalu membutuhkan koran tersebut jadi saya urung membelinya. *maafkan saya dik, mungkin di lain waktu saya akan beli koran yang kalian bawa*

 

Sepertinya saya harus lebih sering bermain-main ke Panjang Jiwo lagi untuk lebih mengenal mereka ke depannya. Karena dari dulu saya sangat terkesan dengan anak-anak seperti mereka. Yang begitu gigih berjuang mendapatkan sepeser uang dengan cara yang halal dan terhormat demi menyambung hidupnya.

Padahal kita semua kan tahu. Hasil penjualan koran tidaklah seberapa. Apalagi jika dibandingkan hasil mengemis atau mengamen yang mungkin lebih berprospek untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah yang lebih berlimpah.

 

Sebenarnya tidak hanya hari ini saya menemukan pemandangan seperti itu. Di daerah sekitar kampus, di perempatan jalan yang lain, bahkan di desa dimana saya dilahirkan, saya seringkali melihat pemandangan yang cukup memprihatinkan seperti itu.

 

Termasuk kemarin malam, ketika saya makan di sebuah warung kecil di pasar keputih.

 

Di sana saya melihat seorang bapak-bapak yang mungkin usianya sudah lebih dari 55. Berjalan pelan dengan memikul banyak sekali mainan anak-anak yang terbuat dari cangkang bekicot untuk berkeliling di daerah keputih dan sekitarnya. Padahal pada saat itu waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 23. Coba bayangkan kalau beliau adalah bapak kita. Masihkah kita berani meminta tambahan uang saku tiap bulannya?

 

Dan satu pemandangan lain yang tidak kalah darinya, hampir setiap pagi ketika masuk gerbang kampus yang ada di depan sakinah swalayan, saya selalu melihat seorang nenek tua berjualan telur ayam dengan duduk-duduk di trotoar di dekat TK Sepuluh Nopember sembari menunggu (calon) pembeli menghampirinya. Coba bayangkan kalau beliau adalah ibu kita. Masih beranikah kita menyakiti perasaannya?

 

Tanpa pernah kita sadari sebelumnya, ternyata banyak sekali orang-orang hebat di sekitar kita.

 

Saya sangat menghargai dan mengapresiasi orang-orang seperti mereka. Yang punya idealisme dan kegigihan untuk tetap berusaha (berjualan, red) daripada (hanya sekadar) meminta-minta. Padahal mereka sendiri tahu hasil usaha mereka tidaklah seberapa.

 

Pertanyaannya sekarang, masih beranikah kita mengeluh setelah mengetahui bahwa hidup kita masih jauh lebih mudah daripada mereka-mereka yang sudah saya sebutkan sebelumnya?

 

Maka dari itu, mari kita bersama-sama memanjatkan doa. Agar semoga kita dijadikan seorang hamba yang mudah bersyukur kepada-Nya, kawan.

 

Selamat menyambut hari Jumat.

Semoga hari-harimu selalu berlimpahan nikmat dan manfaat.

 

 

Surabaya, 14 April 2011

Di sebuah sudut kecil di kampus para pejuang perjuangan.

Advertisements

2 thoughts on “Mari Berhenti Mengeluh

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s