Belajar dari Ranah 3 Warna

Kemarin, saya sempat ikut bedah buku Ranah 3 Warna yang diadakan oleh teman-teman kajian di kampus.

Ya, meskipun saya sendiri cukup kecewa karena tidak bisa standby selama berlangsungnya acara karena pada waktu yang sama juga ada monev 3 PKM di gedung UPMB yang lokasinya bersebelahan dengan gedung Pascasarjana tempat acara bedah buku ini dilaksanakan. Setidaknya ada beberapa poin yang cukup menarik untuk dibagikan kepada teman-teman dari acara kemarin.

1. Pondok Madani itu Keren.

Saya akui, Abah dan Ibu saya memang tidak punya ketertarikan untuk memondokkan anak-anaknya di pesantren modern seperti Pondok Madani. Karena memang pembelajaran agama di pesantren modern tidaklah sedalam pondok pesantren Lirboyo (Kediri), Sidogiri (Pasuruan), Tebuireng (Jombang), Tambakberas (Jombang), Langitan (Tuban), Genggong (Probolinggo), dan pondok pesantren salaf lainnya.

Tapi saya sendiri sebenarnya cukup tertarik dengan pembelajaran di pondok pesantren modern seperti Pondok Madani. Khususnya pada proses pembelajaran bahasanya yang memang lebih menitikberatkan pada praktek nyata daripada penguasaan teori semata. Apalagi dalam acara kemarin Pak A.Fuadi juga sempat mendemokan bagaimana gaya seorang komentator turnamen sepakbola di Gontor yang menggunakan bahasa Arab. Kontan, suasana di gedung Pascasarjana berubah menjadi sebuah stadion sepakbola di timur tengah. πŸ˜€

2. Tugas Manusia itu (Cukup Sampai) Berusaha dan Berdoa

β€œSaya bukanlah orang yang percaya dengan keburuntungan. Bagi saya, keberuntungan adalah kesuksesan yang dicapai setelah beberapa kali merasakan kegagalan. Setelah mencoba beberapa kali dan akhirnya sukses, itulah keburuntungan (menurut saya). Kalau mungkin ada teman kita yang menurut kita tidak seberapa berusaha tapi akhirnya mendapat nilai yang lebih baik dari kita, kita tidak bisa langsung menjustifikasinya bahwa dia beruntung. Karena mungkin saja dia pernah berbuat suatu kebaikan yang tidak pernah kita ketahui atau tidak menutup kemungkinan juga itu adalah hasil upaya dan doa kedua orangtuanya. Sehingga membuatnya mendapat kesuksesan yang tidak pernah kita sangka-sangka. Yang perlu kita sadari, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha dan berdoa. Menentukan hasil itu sudah bukan domain manusia. Oleh karenanya, sebagai manusia kita juga punya kewajiban untuk tawakkal setelah berusaha semampu kita.” jawab Pak A. Fuadi kepada salah satu peserta bedah buku yang menanyakan perihal keberuntungan dan ketidaksesuaian antara usaha yang maksimal dan hasil yang kurang maksimal.

Selain 2 poin di atas, masih ada 1 lagi poin yang membuat saya cukup tertarik. Panduan menulis novel. πŸ˜€

Memang benar, sejak kenal novel-novel semacam Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, 5 cm, 9 Matahari, Negeri 5 Menara, Negeri van Oranje, dan novel-novel inspiratif lainnya, sedikit demi sedikit, dalam hati saya mulai tumbuh benih-benih impian untuk menjadi seorang penulis.

Meskipun sampai saat ini saya belum tahu buku semacam apa yang akan saya tulis nantinya. Yang jelas, kalau seandainya saya memang kesampaian jadi penulis, buku saya harus bisa menginspirasi yang membacanya.

Ok, kembali ke laptop. Menurut Pak A. Fuadi, menulis buku itu terdiri dari 3 tahap.

1. Why?

Sebelum memutuskan untuk menulis, temukan dulu alasan yang kuat, mengapa kita harus menulis? Karena semakin kuat alasan (niat) kita, semakin besar kemungkinan kita untuk menjadi seorang penulis nantinya.

2. What?

Setelah punya alasan yang cukup kuat. Baru selanjutnya kita tentukan apa yang akan kita tulis nantinya. Kalau mau menulis novel, novel seperti apa yang akan kita tulis? Apakah fiksi ataukah non-fiksi? Kalau mau menulis buku, buku seperti apa yang ingin kita tulis? Apakah buku materi pelajaran sekolah, buku sejarah, ataukah buku materi kuliah? Yang jelas, buku-buku seperti buku sejarah atau materi kuliah haruslah diawali dengan proses penelitian yang cukup lama dan tidak sembarang orang yang bisa menuliskannya.

3. How?

Baru setelah itu kita cari tahu dan kita pelajari bagaimana caranya. Dan salah satu cara paling memudah untuk mulai belajar menulis adalah dengan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Jadi, kalau mau jadi penulis hebat, kita juga harus bisa menjadi pembaca yang giat. Selain itu, tidak ada salahnya juga untuk beli buku panduan menulis. Beli buku panduan menulis itu bukan berarti semua yang ada dalam buku panduan menulis harus kita praktekkan semuanya. Karena semua orang punya style masing-masing dalam merangkai kata demi kata.

Saya rasa, cukup sekian yang bisa saya sampaikan tentang pengalaman mengesankan saya ketika mengikuti bedah buku Ranah 3 Warna bersama Pak A. Fuadi.

Semangat malam,

Keep struggling, kawan.

Surabaya, 17 April 2011

Di sebuah sudut kamar yang penuh impian

Advertisements

6 thoughts on “Belajar dari Ranah 3 Warna

    1. Kalau menurutku menulis itu (cuma) butuh niat, bukan bakat.

      Soal baik buruknya tulisan itu bisa diasah sesuai berjalannya waktu.

      Kalau masalah gaya penulisan itu kembali lagi ke selera pribadi. Karena semua orang punya style menulis masing-masing.

      Kalau aku dari dulu pengen nulis, tapi sayangnya sampai sekarang belum ada niat. πŸ˜€

  1. Ya Allah, posting sampeyan nggarai aku iri. aku wingi wis daftar mas, sebagai pendaftar nomor 50 harusnya dapat voucher Rabbani πŸ˜€
    tapi gara2 interval aku cancel, nggak jadi ikut deh

    salam buat Pak A.Fuadi :mrgreen:

    1. Haha,
      kalau gitu, nunggu aku punya buku aja Rin πŸ™‚
      *amin*

      Wah, salame telat bos. πŸ˜›
      Jadi ya Maaf, nggak sempat menyampaikan salam sampeyan πŸ™‚

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s