Menggugat Emansipasi?

Kalau kedua adik saya cukup beruntung karena bisa punya ijazah TK. Tidak demikian halnya dengan saya.Yang tidak pernah mengenyam pendidikan TK.

Tapi saya tidak pernah menyesali itu semua. Bahkan sebaliknya, saya sangat bersyukur. Karena dengan itu, saya bisa diajar langsung oleh Ibu di rumah setiap harinya.

Sebenarnya waktu itu sudah ada TK di desa saya. Tapi karena TK hanya ada di SD, dan di MI masih belum ada jenjang pendidikan TK, jadi orang tua saya tidak menyekolahkan saya di TK. Karena Abah dan Ibu saya tidak mau anak-anaknya sekolah di sekolah umum. Apalagi untuk jenjang pendidikan sekolah dasar yang memang sangat vital.

Masih terbayang dengan jelas bagaimana suasana belajar saya waktu itu. Dengan bantuan sebuah papan tulis yang dibuatkan secara khusus oleh Abah, Ibu selalu mengajari saya untuk menulis, membaca, berhitung, dan juga mengaji di sela-sela kesibukannya di rumah sebagai seorang ibu rumah tangga.

Dan Alhamdulillah, di usia saya yang masih belia, saya sudah bisa membaca dan mengaji dengan cukup lancar. Entah mungkin karena mengajarinya dengan penuh cinta ya, jadi ilmunya bisa cepat merasuk ke dalam dada. 😀

Melihat perkembangan kemampuan saya yang cukup pesat, akhirnya kedua orang tua saya menyekolahkan saya di MI ketika usia saya baru menginjak 5 tahun. (Note : teman-teman sekelas saya waktu itu rata-rata berumur 6 tahun.)

Ok, itu tadi sedikit prolog dari saya. Topik yang ingin saya sampaikan dalam postingan ini sebenarnya bukanlah sosok seorang Ibu. Tapi sosok seorang Kartini.

Saya akui, saya sangat hormat kepada Ibu Kartini. Karena beliau adalah sosok yang membuka mata kita semua tentang arti penting sebuah emansipasi.

Dan oleh karenanya, saya selalu membayangkan, seandainya Ibu Kartini masih hidup di masa kini. Kira-kira jadi seperti apa ya sosok beliau? Apakah beliau akan menjadi seorang wanita karir? Ataukah beliau akan menjadi Ibu rumah tangga yang akhir-akhir ini banyak dipandang sebelah mata?

Terlepas apapun pilihan beliau jika masih ada di abad ini, saya akan selalu menghormatinya. Karena saya sendiri memang setuju dengan emansipasi. Meski pada satu titik tertentu, saya tidak setuju dengan emansipasi.

Dan titik itu adalah saat emansipasi membuat sebagian wanita lupa diri dan akhirnya lebih sering disibukkan oleh pekerjaannya, daripada (hanya) mengurusi anak, suami, dan keluarganya. Yang sebenarnya jauh lebih banyak membutuhkan perhatian darinya.

Pernahkah kita membayangkan dampak tidak adanya sosok seorang Ibu di keluarga? Kalau saya sendiri tidak bisa membayangkannya. Kira-kira bagaimana dampaknya menurut Anda?

Dampak tidak adanya sosok "Ibu" di keluarga

photo sourcehttp://www.funnycomicz.com

Saya rasa, tantangan terbesar bagi sosok kartini abad ini adalah bukan lagi masalah emansipasi. Karena nyatanya, tindak diskriminasi pada sosok perempuan sudah banyak berkurang jika dibandingkan zaman Ibu Kartini. Sebagai contoh kecil, coba lihat SPBU di sekitar tempat tinggal kita. Pernahkah kita melihat seorang sosok kartini bekerja di sana? Silakan bandingkan dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya.

Menurut saya, tantangan terbesar bagi sosok-sosok penerus kartini di abad ini bukan (hanya) berkarya, tapi juga memiliki perhatian lebih kepada keluarganya. Yang beberapa tahun terakhir ini sering diabaikan dan dianggap sebagai angin lalu saja. Khususnya bagi kita yang mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga.

Di sini lah, emansipasi itu menguji setiap kartini. Apakah mereka akan menjadi lengah dan lupa diri karenanya. Ataukah mereka akan tetap teguh dan tidak pernah tergoyahkan olehnya.

Kalau orang desa, jadi ibu rumah tangga, itu sudah biasa. Banyak yang bisa melakukannya. Tapi kalau orang kota masih bisa jadi ibu rumah tangga yang sangat perhatian pada keluarganya, padahal di saat yang sama, mereka juga bekerja? Itu yang luar biasa.

Ya, meskipun pada titik tertentu saya merasa cukup kecewa dengan emansipasi. Saya juga tidak boleh menutup mata bahwa saya juga salah satu produk emansipasi. Kalau bukan karena Ibu saya, kalau bukan karena guru-guru saya, yang sebagian besar diantaranya adalah seorang wanita. Saya mungkin tidak akan pernah menjadi sepintar seperti ini.

Oleh karenanya, jika disuruh menilai seperti apakah emansipasi di mata saya. Saya akan selalu menjawab emansipasi itu layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi, emansipasi itu membawa manfaat. Tapi di sisi lain, emansipasi juga bisa membawa laknat. Semuanya tergantung bagaimana cara kita melihat dan memperlakukannya.

Sebelum diakhiri, mari kita berdoa dan tentunya berusaha untuk mengingatkan setiap sosok kartini di abad ini agar tidak pernah melupakan tugas utamanya sebagai tiang utama keluarga dan juga tiang negara.

Sampai saat ini, tiap kali ditanya, siapa orang yang paling banyak mempengaruhi karakter, watak, dan sifat saya. Saya insyaAllah akan selalu menjawab, “Ibu, beliaulah orangnya“.

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s