Menjadi Mahasiswa = Menambah Satu Dosa

“Semua manusia itu watak aslinya egois. Kalaupun di kehidupan nyata kita pernah menemukan seorang manusia yang tidak egois. Hal itu bukanlah alamiah, tapi merupakan hasil tarbiyah (pendidikan),” seru Ustadz Abdullah Shahab ketika mengisi kajian di kampus beberapa bulan yang lalu.

Masih nggak percaya kalau manusia itu aslinya egois?



Gini aja deh, coba kalian perhatikan, setiap kali kita mengikuti perlombaan atau kompetisi, kita pasti selalu berdoa untuk menjadi juara kan?

Sekarang coba kita pikirkan secara terbalik, dengan berdoa untuk menjadi juara, maka secara nggak langsung, berarti kita telah mendoakan agar yang lain tidak juara. Iya kan?

Gimana? Udah percaya kan kalau watak asli manusia itu egois? 😀



Sedikit curhat ya, sebelum menulis postingan ini, saya sebenarnya hanya iseng-iseng menjelajah internet dengan berbekal keyword “dosa-dosa mahasiswa” Eh, tahu-tahu ternyata di sana banyak sekali saya temukan tulisan-tulisan menarik tentang dosa-dosa mahasiswa. Dan dari semua tulisan yang saya baca, ada salah satu tulisan yang membuat saya cukup terkesan dan akhirnya menginspirasi saya untuk menulis postingan yang sedang kalian baca ini.


Kawan, tahu nggak, kalau dengan menjadi seorang mahasiswa, ternyata kita telah menambah satu dosa lho. Apa itu?

Memupus harapan dan impian teman-teman peminat jurusan yang sama dengan pilihan kita. Itulah dosa pertama kita sebagai mahasiswa.

Dan itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena kita egois dan kita merasa lebih pantas untuk menjadi mahasiswa di jurusan yang menjadi pilihan kita. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Karena dalam perjalanannya, akan banyak kita temui teman-teman kita yang akhirnya diterima di banyak perguruan ataupun merasa salah pilih jurusan. Sehingga, dengan mudahnya dia meninggalkan jurusan yang sebenarnya diidam-idamkan oleh banyak orang.

Itu masih 1 dosa awal kita ketika menjadi mahasiswa. Belum lagi ditambah dosa-dosa lain seperti… (silakan tanyakan pada diri masing-masing) semasa kuliah yang (kelihatannya) jauh lebih banyak dan tidak kalah besar dampaknya.

Maka dari itu, sebagai seorang mahasiswa yang telah melakukan “dosa”, seharusnya kita mampu memberikan kemampuan terbaik kita guna membayar dan melebur “dosa-dosa” kita. Bukankah kita juga pernah diajarkan untuk selalu berbuat baik setelah berbuat jahat agar kebaikan kita mampu menghapuskan keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya?

Oleh karenanya, mari kita renungkan bersama. Masihkah kita bisa tertawa dan bangga dengan status sebagai mahasiswa?



Terakhir dari saya,
Sadarilah, menjadi mahasiswa itu bukan (hanya) berkah, tapi juga amanah.



Inspired by :

Ketika kamu masuk ITB, kamu telah menambah satu dosa, karena telah menyingkirkan ratusan sampai ribuan orang yang ingin masuk ITB. Dosa itu hanya bisa ditebus dengan menjadi entrepeneur & menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya, jika tidak, kamu akan menambah 1 dosa lagi karena telah merebut jatah ratusan penduduk Indonesia untuk bisa mencari nafkah.

(Kusmayanto Kardiman, Mantan Rektor ITB + Mantan Menristek)

Yang disunting dari postingannya Mbak Risa 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Menjadi Mahasiswa = Menambah Satu Dosa

    1. Lha itu Pak.
      Mestinya sebagai manusia kita harus sadar bahwa kita ini juga makhluk sosial.

      Jadi, oleh karenanya, sebisa mungkin kita harus menekan ego kita agar tidak terlalu berlebihan. Agar nasib kawan-kawan kita yang lain juga tidak terabaikan. 🙂

  1. Merasa salah jurusan?
    Wah, aku kesindir rek :mrgreen:

    Pada suatu kesempatan di salah satu rangkaian acara pengkaderan jurusan, pak presiden BEM institut kita justru bilang gini ,”tidak ada tempat untuk orang egois di dunia mahasiswa”

    1. Bukan sampeyan aja Rin . saya juga kesindir kok :mrgreen:

      Hehe, meski gak sepenuhnya bener. Maksudnya Mas Dalu sebenarnya baik. Biar kita belajar untuk mengurangi ego.

      Karena menurut saya, semua orang pasti sifat egois. Jadi, yang bisa kita lakukan hanya memanjemen ego kita agar tidak terlalu berlebihan 🙂

      Saya memang kadang kurang sepakat dengan pendapat Pak Presbem. Soalnya dulu waktu kampanye, saya lebih sreg sama pendapat-pendapat Mas Yaumil (calon presbem yang lain) 😛 *buka kartu*

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s