Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan

“We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.”

Kurang lebih begitu, pesan Mbak Tina Talisa ketika selesai memberikan pembekalan teknik presentasi kepada teman-teman kontingen ITS di PIMNAS XXIII hampir setahun yang lalu.

Meski kata mutiara tersebut bukanlah karangan Mbak Tina Talisa. Karena sebelum mengucapkannya pun, Mbak Tina berucap bahwa kata-kata tersebut adalah salah satu quote paling populer dari Aristoteles. Bagi saya, kalimat tersebut tetaplah menawan. Seperti yang melafalkanya ๐Ÿ˜€

Kalau dipikir-pikir, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Mbak Tina Talisa. Bakat itu dan kemampuan itu seperti halnya cinta, bisa datang karena terbiasa. Atau dalam istilah kerennya di daerah jawa, “wiwiting tresna jalaran saka kuliner kulina” ๐Ÿ™‚


Dan sejalan dengan itu, hari ini, melalui postingan ini, saya akan berusaha sedikit menguraikan masalah kebiasaan dan membiasakan. Semoga bisa bermanfaat bagi diri saya pribadi dan juga bagi Anda semua.

Sebelum saya beranjak lebih jauh tentang masalah membiasakan diri. Pernah nggak sih Anda merasa minder, kurang percaya diri, kurang semangat, kurang beruntung, kurang kerjaan, kurang apa lagi coba? ๐Ÿ˜€ *maaf, saya mulai ngaco*

Ok, lanjut, kalau Anda pernah mengalami gejala-gejala seperti yang saya sebutkan di atas. Selamat, Anda berada di tempat yang tepat. Karena pada postingan kali ini saya akan sedikit membahas topik mengubah kebiasaan dan membiasakan diri untuk bersikap positif.


Sebenarnya bagaimana sih caranya membiasakan diri bersikap positif?

Kalau tips dari saya sih sebenarnya cukup sederhana. Bagi saya pribadi, membiasakan diri menjadi pribadi yang positif itu bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana. Dengan mengubah kata-kata yang kesannya gak enak menjadi lebih enak misalnya.


Ok, sekarang saya mau tanya, menurut Anda, lebih enakan makan yg mana? Telor 1/2 Matang atau Telor 1/2 Mentah? ๐Ÿ˜€

Meski dua-duanya sama-sama setengah. Saya yakin Anda semua akan lebih memilih yang setengah matang. Karena menurut alam bawah sadar kita, Matang itu lebih enak daripada Mentah.


Lanjut, kalau Kamu PINTER tapi JELEEK!! dan Kamu JELEEK tapi PINTER!!! lebih enak didengar yang mana? Yg ke-2 ya? ๐Ÿ™‚

Ya, meski secara tata bahasa, kedua kalimat tersebut mempunyai makna yang sama. Adanya kata “tapi” seakan-akan membuat kata kedualah yang menjadi fokus pengucapan kalimat tersebut.

Seperti halnya jika kita mengucapkan bisa, tapi sulit dan juga sulit, tapi bisa. Kata kedualah yang akan menjadi fokus perhatian kita.


Contoh yang lain lagi, pernahkah Anda melihat tulisan Dilarang MEROKOK!? Nggak pernah? Nggak percaya saya ๐Ÿ˜› Sekarang coba bandingkan kalimat tersebut dengan Merokok itu DILARANG!? Lebih serem yang mana menurut Anda? ๐Ÿ˜€


Intinya, bagaimanapun situasinya, yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Karena apapun sikap kita, baik itu positif maupun negatif, itu semua adalah cerminan diri kita.

Saya yakin dan percaya bahwa semua orang pasti punya problem masing-masing. Hanya saja, yang membedakan masing-masing pribadi adalah respon mereka terhadap problem-problem yang dihadapinya.


Maka dari itu, kalau dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mengeluh dan merasa tidak kuasa menghadapi cobaan tantangan yang sedang ada di hadapan kita maka biasanya kita akan benar-benar tidak bisa melewatinya. Karena di alam bawah sadar kita sudah tertanam keyakinan bahwa kita tidak akan mampu untuk menghadapinya.

Kalau saya pribadi, suka dengan analogi hidup itu bagaikan gema. Apapun yang kita teriakkan, itulah yang akan kita dengar kembali nantinya. Jadi, apapun yang kita tanamkan dalam pikiran kita, insyaAllah itulah yang akan terjadi nantinya.

Jadi, kalau kita ingin menjadi pribadi yang positif dan tidak mudah putus asa. Mulai sekarang kita harus menanamkan nilai-nilai positif pada alam bawah sadar kita. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan kata-kata negatif dalam setiap status fb, twitter, dan juga perkataan kita.


Seperti yang saya kutip di awal postingan ini, excellence is not an act, but a habit. Menjadi pribadi positif itu bukan kebetulan, tapi kebiasaan. Oleh karenanya,

Mari berhenti mengeluh dan mulai berusaha keras dengan bermandikan peluh.



Terakhir dari saya,
Sadarilah. Kita adalah apa yang kita pikirkan, kawan. ๐Ÿ™‚

inspired by : twit Mas @RanggaUmara

Advertisements

9 thoughts on “Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s