Buku untuk Anak Jalanan

“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”. Begitu kata UUD ’45. Tapi faktanya, siapa yang mau memelihara? Nggak ada.

Ataukah mungkin pemerintah sudah memiliki pemahaman baru bahwa yang dimaksud memelihara adalah memelihara kelestariannya? Ah, semoga saja tidak.

Maaf, akhir-akhir ini saya memang sedikit kesal dengan pemerintah. Jadi, harap maklum kalau agak sensitif ketika mendengar kata pemerintah. Tapi tolong jangan sampai kekesalan saya ini diartikan aneh-aneh lho ya. Saya masih cowok tulen yang gak pernah tahu bagaimana rasanya PMS kok. πŸ™‚

Salah satu penyebab kekecewaan saya adalah, kisah Bu Siami yang diusir oleh warga sekitar rumahnya gara-gara memperjuangkan kejujuran. Nah lo? Yang jujur kok malah hancur. 😦

 

“Loh loh loh, yang ngusir warganya, kok yang disalahkan pemerintah?”

“Iya dong, kan pemerintah yang menetapkan aturan UAN.”

 

Dari dulu, mulai zaman unta sampai zaman toyota, saya tidak pernah setuju dengan yang namanya UAN. Karena sampai saat ini, menurut saya, sistem pendidikan dan siswa Indonesia masih belum “cukup umur” untuk menjalankan UAN.

Dan jika kita mau jujur, saya rasa hampir semua sekolah di Indonesia melakukan kecurangan. Khususnya sekolah-sekolah di tingkat menengah. Dan prosentase kecurangan itu akan semakin meningkat di sekolah-sekolah swasta yang ada di pelosok-pelosok daerah.

 

Karena di daerah-daerah, prosentase kelulusan siswa adalah hal yang paling disorot oleh masyarakat sekitar sekolah. Oleh karenanya, pihak sekolah akan melakukan berbagai macam cara demi meluluskan para siswanya. Karena jika ada satu saja siswa yang tidak lulus, maka dapat dipastikan, tidak akan ada pendaftar baru di tahun depan. Padahal banyaknya jumlah siswa merupakan nafas sekolah-sekolah swasta. Mengingat sebagian besar guru yang mengajar di sana adalah guru honorer yang gajinya hanya sepersekian dari yang biasa diterima para guru di sekolah-sekolah negeri pada umumnya.

Kenapa saya bisa tahu hal semacam ini? Karena saya adalah alumni sekolah swasta. Sekolah yang biasa dianggap sebagai sekolah kasta kedua, bahkan mungkin ketiga. Setelah sekolah-sekolah swasta yang banyak bertebaran di kota-kota.

 

Satu alasan lain yang membuat saya tidak setuju dengan UAN adalah karena UAN tidak membawa perubahan sama sekali bagi dunia pendidikan. Bahkan sebaliknya, UAN semakin membuat para pelajar terbiasa berbuat curang demi mendapatkan apa yang mereka impikan. Bukankah itu sama saja dengan menebar bibit-bibit koruptor lewat sekolah?

Satu-satunya manfaat UAN mungkin hanyalah membuat bisnis-bisnis bimbingan belajar semakin banyak diminati. Dan itu tidak banyak membawa pengaruh di dunia pendidikan.

 

Daripada digunakan untuk menjalankan UAN yang sarat dengan kecurangan, alangkah baiknya jika alokasi dana UAN digunakan untuk melakukan bimbingan dan pelatihan secara menyeluruh dan secara rutin kepada para guru yang ada seluruh pelosok di Indonesia. Mengingat jurang kesenjangan kualitas pendidikan di Indonesia masih terbuka lebar.

Atau jika tidak, alangkah baiknya jika alokasi dana tersebut digunakan untuk membangung fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan seperti perpustakan atau taman belajar di pelosok-pelosok daerah. Dan saya rasa itu lebih bermanfaat bagi kemajuan dan penyetaraan kualitas pendidikan ke depan.

 

Walah, kok malah jadi membahas UAN gini sih? Ok back to topic.

 

Apa yang saya katakan ini mungkin tidak akan membawa perubahan. Tapi jangan cemas, kita masih bisa mengusahakan sebuah perubahan, kawan.

Bagi teman-teman yang punya buku-buku bekas, silakan sumbangkan buku kalian ke Indonesia Menyala. Atau jika kalian berdomisili di Surabaya, kalian bisa menyumbangkan buku kalian ke save street child Surabaya yang merupakan gerakan peduli nasib anak jalanan yang dibentuk oleh mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya. Silakan follow akun @SSChildSurabaya untuk info lengkap siapa saja CP pengumpulan buku di masing-masing kampus. Dan jika kalian berkenan, silakan datang di acaraΒ  #1000BukuUntukAnjal @SSChildSurabaya sabtu 18 Juni 2011, di taman bungkul mulai pukul 15.00.

 

Jujur, sebenarnya saya malu posting hal seperti ini. Karena nyatanya, sampai saat ini saya hanya bisa mengkritsi tanpa pernah melakukan aksi. Dan semoga saja di tahun terakhir kuliah saya nanti, saya berkesempatan untuk ikut kegiatan-kegiatan sosial seperti gerakan mengajar anak-anak di Dolly, yang dimulai oleh Mas Nur Huda dan teman-teman dari ITS lainnya. Dan untuk itu, saya harus segera menyelesaikan PR besar yang merupakan amanah utama dari Abah selama kuliah. πŸ™‚

Karena saya tidak ingin suatu saat nanti menyesal karena selama kuliah tidak pernah mengikuti hati nurani untuk mengabdi dan menjadi pribadi yang manfaat bagi sesama. Dan mengabdi di Dolly adalah salah satu misi terdekat saya. Sebelum mendaftar di Indonesia Mengajar nantinya. Sebelum saya menjadi guru ketika kembali ke Mojokerto jika sudah sampai waktunya.

 

Kalau negara sudah tidak mau memelihara fakir miskin dan anak terlantar, biarlah kita yang melakukannya. Mulai dari yang sederhana, dengan berbagi buku kepada anak-anak jalanan yang ada di sekitar kita misalnya. Ataupun dengan memberi mereka kesempatan belajar selayaknya anak-anak pada umumnya.

– Inspired by : Save Street Child Surabaya πŸ™‚ –

Advertisements

6 thoughts on “Buku untuk Anak Jalanan

  1. dulu, aku pernah dikasih “kunci” waktu uan mts, meskipun aku terima, aku saku dan gak aku bukak waktu uan berlangsung. temen-temen juga ada yang gitu.
    bukan ga menghargai yang ingin meluluskan, tapi pengen tau, apa kita bisa nyoba dulu, tau seberapa kemampuan kita?
    ohoho, malah provokasi nih… maap πŸ˜€

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s