Kisah Semester 6-ku

Alhamdulillah, semester 6 telah berakhir. Hasilnya? Jangan ditanya lagi. Karena seperti yang telah saya ceritakan pada postingan saya sebelumnya, semester ini adalah semester yang paling mengerikan yang pernah saya jalani sebagai seorang mahasiswa. Bisa dapat IP di atas 3 rasanya sudah hampir tidak mungkin dicapai di semester ini.

Tapi gak apa lah. Toh dari awal saya memang gak berharap dapat nilai yang bagus di semester ini. Makanya daripada meratapi nilai kuliah yang banyak dihiasi oleh nilai-nilai B ke bawah, saya malah lebih sedih dengan hasil PKM saya yang jauh dari apa yang saya harapkan. Alhasil, saya gagal terbang gratis ke Sulawesi untuk merasakan serunya PIMNAS 24 di Unhas Makassar akhir juli nanti. Padahal saya sangat berharap bisa merasakan PIMNAS di luar jawa lagi. Mengingat PIMNAS 25 tahun depan kemungkinan besar akan dilaksanakan di Jawa karena selama 2 tahun terakhir ini telah dilaksanakan di luar jawa.

Soal cinta? Wah, apalagi yang satu ini. Entah karena saya yang terlalu tinggi dalam mematok standar atau memang entah karena saya terlalu baik untuk dimiliki seseorang, sampai saat ini pun sepertinya belum ada tanda-tanda kalau saya akan mengakhiri kejombloan yang sudah melanda saya bertahun-tahun ini. Dan saya sendiri pun sepertinya akan tetap mempertahankan status ini sampai menjadi mahasiswa STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo) πŸ™‚

 

Oke, saya akui, semester ini saya memang gagal total. Ibarat seorang pembalap, saya ini sudah jatuh dari motor, ditabrak pembalap lain, menabrak pagar sirkuit, ditimpa badak Sumatra lagi. Parah banget kan? πŸ˜€

 

Dan jika dilihat-lihat lagi, salah satu penyebab kegagalan saya di semester ini adalah gagal karena saya gagal merencanakan. Tidak salah rasanya jika Aries, teman seangkatan saya dalam sebuah status FB-nya beberapa bulan yang lalu sempat mengatakan, β€œgagal merencanakan = merencanakan kegagalan”.

Saya akui, semeseter ini saya seperti seorang yang tidak punya prinsip. Tidak tahu harus melangkah ke mana dan tidak tahu harus melakukan apa. Persis seperti seekor bebek yang tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Tiap kali melangkah selalu hanya karena ikut-ikutan teman. Mulai dari saat milih mata kuliah sampai waktu nge-drop mata kuliah saya selalu tidak punya alas an lain selain ikut teman-teman. Parah banget kan? πŸ˜€

Oleh karenanya, hal pertama yang akan saya lakukan dalam waktu dekat demi menyambut semester yang akan datang adalah saya akan membuat life mapping selama 1 semester, bahkan selama 1 tahun ke depan. Karena saya sadar, sebagai seorang manusia saya punya pilihan dan impian. Karena saya itu beda. begitu pesan Ibu saya. Dan terlebih lagi karena saya paham betul makna ungkapan gagal merencanakan = merencanakan kegagalan.

 

Satu hal lain yang menyebabkan saya gagal di semester ini sepertinya adalah karena saya terlalu berbaik hati pada diri saya sendiri. Sehingga saya banyak menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan dan menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang kurang ada manfaatnya. Padahal jika mengutip kata pepatah, β€œjika kita keras pada diri sendiri, maka dunia akan berbaik hati pada kita. Begitupun sebaliknya, jika kita terlalu memanjakan diri sendiri, maka dunia akan keras pada kita”. Man jadda wa jada, begitu kata Alif dalam Negeri 5 Menara. Yang bersungguh-sungguhlah, yang akan menemukan (kesuksesan) nantinya.

Oleh karenanya, satu hal lain yang ingin saya lakukan di semester depan adalah lebih banyak ikut kegiatan sosial. Karena saya merasa passion saya ada di sana. Dan saya berharap, dengan melakukan apa yang menjadi passion saya, nantinya hal itu akan membuat saya lebih bersemangat menjalani hari-hari saya sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai seorang manusia.

 

Itu tadi sedikit kisah semester 6-ku kawan, ngomong-ngomong bagaimana dengan semester kalian? Semoga lebih baik dari kisahku yaΒ  πŸ™‚

 

Jika di setiap akhir kepengurusan sebuah organisasi kita sering mengenal istilah LPJ, kalian bisa menganggap ini adalah LPJ kehidupan saya pribadi atas apa yang telah saya jalani selama satu semester ini.

Saya sadar, perbaikan diri tidak akan pernah bisa dilakukan jika kita tidak pernah tahu apa yang menjadi kekurangan dan kesalahan kita. Dan untuk itulah saya membutuhkan bantuan kalian semua.

Karena dalam sebuah tulisannya Gus Mus pernah menceritakan bahwa setiap manusia adalah cermin bagi setiap manusia lainnya.Β  Oleh karenanya, daripada saya mengkoreksi diri sendiri, sebenarnya akan lebih mudah jika saya meminta orang lain (baca : kalian) untuk mengkoreksi diri yang punya banyak salah ini.

Maka dari itu, jika teman-teman melihat ada hal yang perlu dikoreksi dari diri saya, tolong cantumkan di kolom komentar di bawah postingan ini ya πŸ™‚

Terima kasih banyak atas perhatiannya,

 

Dari kawan lamamu yang sedang merasa galau segalalu-galaunya,

Ahsan. πŸ™‚

Advertisements

6 thoughts on “Kisah Semester 6-ku

  1. kegagalan itu bukan awal dari kesuksesan. Tapi, kegagalan itu awal dari kegagalan lainnya.

    Sekarang saya baru percaya kalimat di atas ada benarnya. #meratapi nasib di depan “integra”

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s