Memanusiakan Anak

“Semua anak itu spesial,” kira-kira begitulah inti film Taare Zamen Par yang dulu sering diceritakan oleh Baim.  Meski saya sendiri belum menonton filmnya dari awal sampai akhir, saya sudah bisa sedikit menjelaskan bagaimana jalan ceritanya karena saya sudah sempat mengintipnya sedikit-sedikit. Bahkan saya sempat menitikkan air mata pada adegan-adegan terakhir. 😀

Taare Zameen Par

gambar diambil dari : sini

Dan kemarin, ketika saya menonton film yang berbeda, saya pun kembali menitikkan air mata. 😀

Judul filmnya Grave of Fireflies. Judul yang cukup asing sih di telinga. Saya sendiri pun baru tahu film ini beberapa hari lalu. Di saat timeline twitter saya dipenuhi oleh rekomendasi #FilmMewek dari orang-orang yang saya ikuti. Dan karena menurut banyak orang, film Grave of The Fireflies ini cukup sukses membuat mereka menangis bombay dari awal sampai akhir, saya akhirnya ikut penasaran dibuatnya.

Adanya koneksi internet yang lumayan banter + rasa penasaran terhadap film ini akhirnya pun sukses membuat saya kembali lupa kalau membajak itu dosa. Dan tak lebih dari setengah jam setelahnya, film pun sudah berpindah tangan dari server salah satu situs file sharing terkemuka di Indonesia ke hardisk laptop saya.

 

Oh iya, kalau kalian belum tahu, Film Grave of The Fireflies ini diangkat dari anime dengan judul yang sama. Dan secara garis besar, Grave of The Fireflies ini menceritakan tentang kehidupan 2 keluarga pejuang pada masa perang dunia ke-2. Saya tidak akan menceritakan bagaimana kisah lengkapnya. Kalau kalian penasaran, saya sarankan untuk beli dvd aslinya. Saya jamin gak rugi. Karena benar-benar menyentuh sekali kisahnya. 🙂

Meski banyak orang mengaku sudah mencucurkan air mata sejak adegan-adegan pertama, saya sendiri baru merasakan hal yang sama ketika film sudah setengah jalan. Dan sejak saat itu, saya tidak bisa berhenti menangis sampai filmnya berakhir. 😦

Setelah selesai menonton film ini, tiba-tiba saya jadi teringat kembali dengan salah satu buku favorit saya, Totto-chan. Entah karena sama-sama karya orang Jepang. Entah karena tokoh yang diceritakan namanya hampir sama. Yang jelas saya merasakan ada beberapa kesamaan diantara keduanya.

Kalau kalian belum pernah membaca totto-chan, saya sarankan kalian segera membacanya.  Apalagi kalau kalian punya minat yang tinggi di dunia pendidikan. Pasti tidak akan bisa berhenti membacanya sampai kalian jumpa halaman terakhirnya.

 

Walah, kok jadi melebar kemana-mana gini sih. 😐

Ok, kembali ke topik…

 

Bicara masalah anak.. saya sendiri sebenarnya belum pernah punya anak. Tapi karena saya adalah seorang anak, jadi pada postingan kali ini saya akan menggunakan sudut pandang saya pribadi. Sebagai seorang anak.

Selama ini, masih sering kita temukan seorang anak diperlakukan sebagai sebuah barang oleh orang tuanya. Bagi mereka, anak adalah sebuah entitas (ceileh, bahasa informatika banget nih :D) yang ditugaskan untuk memenuhi keinginan dan harapan orang tuanya. Biasanya sih, orang tua semacam ini hanya akan merasa bahagia jika anaknya menjadi pribadi yang diinginkannya.

Sebenarnya tidak ada salah dengan cara pandang semacam ini. Apalagi jika tujuan yang diinginkan oleh orang tua adalah baik. Agar anak mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang pernah mereka punya.

Tapi semestinya para orang tua juga tidak boleh menutup mata bahwa semua anak itu punya mimpi dan cita-cita. Dan sayangnya, hal ini seringkali dilupakan oleh para orang tua. 😦

 

Sampai saat ini, saya selalu yakin bahwa setiap orang itu punya makna kebahagiaan yang berbeda-beda. Seringkali kita temukan banyak orang tua ingin melihat anaknya bahagia dengan menjadi insinyur atau dokter, padahal sang anak sebenarnya hanya akan merasa bahagia jika menjadi fotografer. Persis seperti halnya kisah Farhan dalam Film 3 Idiots.

Oleh karenanya, saya berharap para orang tua tidak memaksakan kehendaknya pada para anaknya.  Khususnya jika anaknya sudah beranjak dewasa dan sudah tahu apa cita-cita dan passionnya. Karena seorang anak juga punya hak untuk bahagia.

Oleh karenanya, marilah kita belajar menghargai keberadaan seorang anak sebagai seorang manusia seutuhnya. Tanpa harus memaksakan kehendak kepadanya seakan-akan mereka adalah budak yang harus selalu patuh pada tuannya.

Karena semua anak itu spesial…

 

Terakhir dari saya,

Selamat Hari Anak Nasional! 🙂

 

Terinspirasi oleh :
– Kisah Keenan dan Kugy dalam Novel Perahu Kertas-nya Dewi Lestari.
Buku Totto-chan: gadis cilik di jendela.
Film 3 Idiots.
Film Taare Zamen Par.
Film Grave of the fireflies.
– Sikap demokrasi Abah dan Umi pada anak-anaknya, khususnya pada saya. 🙂

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s