Kerasan di Perantauan

“Gimana, Mas? kerasan di Kalimantan?” tanya saya suatu ketika pada mas-mas OB di KPC tempat di mana saya melakukan (ibadah) KP.

“Sebenarnya sih lebih enak di rumah, Mas. Tapi karena memang rezekinya adanya di sini, ya sudah, dijalani dulu saja.” jawabnya dengan logat khas Sulawesinya.

Jawaban yang cukup logis menurut saya. Mengingat gaji pegawai di KPC memang sangat jauh di atas rata-rata gaji pegawai pada umumnya. Apalagi jika dibandingkan dengan gaji para karyawan di jawa. Sangat jauh sekali perbedaannya.

Bayangkan saja, kata pembimbing KP saya, gaji first graduate engineer di KPC bisa sampai 9 juta. Dan hebatnya lagi, kalau kita cukup beruntung, kita bisa mendapat 20x gaji dalam satu tahunnya. Itu belum lagi ditambah dengan bonus-bonus lainnya. Luar biasa πŸ˜€

 

Dan ketika saya menanyakan hal yang sama pada bapak-bapak sopir angkot asal Kediri yang mengantarkan saya ke terminal waktu saya mau pulang ke jawa. Jawaban yang saya dapatkan pun hampir sama. Si bapak merasa kalau hidup di Jawa tetap lebih enak meski gaji kerja di Kalimantan cukup banyak.

 

Pada saat saya menanyakan hal yang sama pada Cak Ali (paman (angkat) saya, red) yang tinggal di Tenggarong sejak 2004, jawaban yang saya terima ternyata berbeda. Beliau ternyata sudah merasa nyaman tinggal di Kalimantan bersama istri dan 2 orang anaknya yang masih cukup belia. Satu-satunya alasan yang membuat beliau masih agak kurang tenang hanyalah karena sebagian besar anggota keluarganya masih tinggal di Jawa. Dan hal itu membuat beliau berkali-kali tidak bisa hadir pada saat ada acara penting bagi keluarganya yang ada di jawa.

 

Setelah bertanya 1 hal yang sama pada 3 orang yang berbeda tersebut, bisa saya ambil kesimpulan kalau sebagian besar orang yang sudah kerasan tinggal di perantauan adalah mereka yang sudah merasa punya keluarga baru di perantauannya. Dan mungkin itu pula yang menyebabkan saya tidak kerasan berlama-lama di Kalimantan. Karena saya masih merasa asing dengan lingkungan dan budayanya.

 

**Pesan moral : Kalau mau kerasan hidup di perantauan, jangan lupa ajak suami/istri dan anak sekalian πŸ˜€

Advertisements

4 thoughts on “Kerasan di Perantauan

  1. Eko Yuniarsyah

    intinya sih ini “sebagian besar orang yang sudah kerasan tinggal di perantauan adalah mereka yang sudah merasa punya keluarga baru di perantauannya”… seperti saya yang sudah hampir 7 tahun di negeri orang…

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s