Memerdekakan Diri

Dulu sekali, saya tidak pernah suka bergaya di depan kamera. Daripada harus menjadi obyek kamera, saya lebih suka jadi orang di belakang kamera. Sampai-sampai tiap kali ada yang ngajakin foto bersama, hati saya selalu memberontak. “Ngapain sih harus foto-foto segala,” begitu katanya.

Tapi semakin saya dewasa, saya semakin tahu kalau setiap momen itu berharga. Ahirnya saya pun semakin suka berfoto tiap kali mengunjungi tempat-tempat atau acara yang tidak biasa. Dan semenjak saat itu, hormon kenarsisan pun mulai tumbuh dalam diri saya. πŸ™‚

Kisah perjalanan menulis saya pun hampir sama. Sejak zaman unta sampai zaman toyota, saya tidak pernah hobi menulis. Jangankan menulis. Membaca saja saya malas. Makanya gak aneh juga kalau nilai IPS yang tertulis di ijazah MI (setingkat SD) saya hanya *mmm, bilang gak ya….*. Yang jelas, hancur banget nilainya. πŸ˜€ #disinilahgalaudimulai

 

Lantas, sejak kapan saya mulai belajar menulis?

Kalau ditanya kapan pastinya sih saya sendiri kurang tahu sejak kapan saya mulai hobi merangkai kata. Yang jelas, pada waktu SMA saya pernah menuliskan pantun di kertas ujian saya. Dan hebatnya, pantun saya tersebut dibalas oleh guru saya. Gila gak sih? 😯

Tapi waktu itu sih, saya masih belum begitu tertarik dengan dunia tulis menulis. Kalaupun pernah rajin menulis, itu pun cuma menulis sms, yang isinya tidak lain pantun. 8) Β *FYI, saat itu saya masih belum kenal Pak Tif*

Sepertinya memang dunia kuliah lah yang membuat saya semakin rajin mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Entah karena memang saya kurang cocok dengan dunia informatika ya, sehingga saya sering menjadikan menulis sebagai pelarian. Hehe.

 

Ditambah lagi waktu kuliah saya juga semakin suka mengoleksi buku yang tidak ada hubungannya dengan kuliah. Akhirnya saya pun mulai memaksa diri untuk membaca buku yang telah saya beli. Meski sampai saat ini masih ada buku yang belum selesai saya baca. Padahal belinya sudah lama.

Semenjak kuliah inilah, saya mulai belajar menulis, saya mulai bikin blog, dan akhirnya saya mulai belajar merangkai kata demi kata demi menjadi sebuah postingan yang sempurna dan enak untuk dibaca.

Susah? pasti lah. Waktu mulai belajar berjalan dulu pun kita juga merasa kesusahan kan? πŸ™‚

 

Sampai saat ini, saya sudah berkali-kali bikin blog. Blogspot, WordPress, Blogdetik, Posterous, Tumblr, semuanya sudah pernah saya coba. Dan sampai saat ini, blog saya ada 4. Masing-masing ada di blogspot, wordpress, posterous, dan tumblr. Yang masing-masing diantaranya mempunyai karakteristik postingan yang berbeda-beda.

Intinya sih, kalau kita ingin bertahan ngeblog, bebaskan pikiran kita dari belenggu kaidah penulisan dan kaidah bahasa. Biarkan jemari kita menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita. Toh, ngeblog memang tidak sama dengan membuat karya tulis ilmiah dan buku TA.

Singkat kata, “merdekakan dirimu, dan tuliskan apa yang ada di pikiranmu.”
Selamat malam. πŸ™‚

gambar diambil dari : sini

Surabaya, 8 November 2011.
Ditulis dengan iringan backsound tetesan air hujan.

Advertisements

2 thoughts on “Memerdekakan Diri

  1. It’s a simple post. Tapi kereen.
    Persis seperti kata guru saya, “tuliskan saja apa yang km pikirkan. Nggak usah mikir apa yang bakal kamu tulis”

    keep blogging, keep writing, keep sharing πŸ™‚

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s