Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat.

Dulu, penyandang disabilitas hampir selalu diidentikkan dengan golongan marginal yang selalu tersisihkan, berkekurangan, dan butuh banyak uluran tangan. Jangankan bermimpi bisa punya penghasilan secara mandiri, bisa mendapatkan pendidikan yang layak saja sulitnya setengah mati.  Alhasil, banyak orang tua yang akhirnya hanya bisa pasrah dengan keadaan anak-anak mereka yang menyandang disabilitas. Dan hal itu akhirnya membuat kesempatan si anak untuk mempunyai kualitas hidup yang lebih baik jadi semakin terbatas.

Tapi itu dulu. Sebelum banyak diantara kita tahu bahwa stevie wonder yang tuna netra pun bisa memenangkan grammy awards berkali-kali selama karirnya. Sebelum banyak diantara kita tahu bahwa ternyata ada orang seperti helen keller di luar sana.  Sebelum banyak diantara kita sadar bahwa ternyata semua orang itu luar biasa. Terlepas dari bagaimanapun keadaan fisiknya. Karena nyatanya, Tuhan memang tidak pernah menciptakan suatu hal dengan sia-sia.

disabilitas dan pandangan masayarakatPerlahan, nasib penyandang disabilitas di negeri ini mulai banyak diperhatikan. Kalau dulu penyandang disabilitas kesulitan untuk menempuh pendidikan, saat ini sekolah-sekolah luar biasa semakin mudah ditemukan. Kalau dulu penyandang disabilitas tidak pernah punya kesempatan untuk mengikuti sebuah kejuaraan atau kompetisi olahraga yang bergengsi, sekarang olimpiade khusus bagi penyandang disabilitas pun sudah rutin diadakan tiap 4 tahun sekali. Kalau dulu penyandang disabilitas jarang bisa punya penghasilan mandiri, sekarang hal itu hanyalah tinggal teori.

Kini, pandangan-pandangan negatif kepada penyandang disabilitas juga mulai dihilangkan. Sebutan penyandang cacat sudah mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, penggunaan kata difabel atau penyandang disabilitas yang lebih halus dan lebih sopan mulai sering dikampanyekan.

 

Harus diakui, upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini memang masih belum menuai hasil maksimal. Terbukti, masih sering kita jumpai oknum-oknum yang sengaja memanfaatkan keberadaan penyandang disabilitas untuk meraup keuntungan pribadi. Tindak diskriminasi pada penyandang disabilitas pun masih sering kita baca beritanya di sana sini. Dan tidak hanya itu, penyediaan fasilitas bagi penyandang disabilitas di tempat-tempat umum pun masih jarang dipenuhi oleh pemerintah di negeri ini. Ketidakacuhan pemerintah bahkan seringkali membuat seakan-akan pelbagai kasus di atas tidak pernah terjadi. Dan hal ini tidak hanya terjadi 1-2 kali.

 

Satu hal lain yang juga patut disayangkan, sampai saat ini, beberapa masyarakat di negeri ini masih sering menganggap disabilitas sebagai keterbatasan.

Pandangan semacam ini memang tidak sepenuhnya salah. Tapi alangkah baiknya jika cara pandang ini kita ubah.

Karena dengan menganggap disabilitas sebagai sebuah keterbatasan, maka secara tidak langsung kita juga menganggap bahwa penyandang disabilitas adalah orang-orang yang berkemampuan terbatas.

 

Contoh mudahnya begini, kalau disuruh memilih, kira-kira lebih enak mana sih,

Telur 1/2 mentah atau Telur 1/2 matang?

Kamu PINTER tapi JELEEK!! atau Kamu JELEEK tapi PINTER!!! ?

Meski secara harfiah maknanya sama, masih lebih enak yang ke-2 kan? 🙂

disabilitas dan masyarakat
melawan diskriminasi

Sama halnya dengan kasus ini. Karena pikiran adalah sumber segala tindakan. Jika kita berpikiran buruk tentang penyandang disabilitas, maka kemungkinan besar, perlakuan kita pada penyandang disabilitas pun akan buruk. Begitupun sebaliknya.

Untuk itulah, akan lebih baik jika kita tidak lagi menganggap disabilitas sebagai sebuah pembatas, melainkan sebagai kesempatan untuk melakukan hal-hal di luar batas. Karena meski kenyataannya penyandang disabilitas mempunyai keterbatasan, kita juga harus sadar bahwa tidak ada manusia yang bisa jago dalam semua hal. Dan secara tidak langsung, itu juga sebuah keterbatasan. Oleh karenanya, kita juga harus yakin bahwa setiap penyandang disabilitas juga pasti punya kelebihan.

disabilitas
luar biasa

Contoh nyatanya, teman-teman kita yang tuna daksa (tidak punya tangan, red) memang tidak bisa menulis dengan tangan. Tapi dengan begitu, mereka akhirnya jadi bisa menulis dengan kaki. Yang tidak semua orang, khususnya orang-orang biasa bisa melakukannya. Bukankah itu sangat luar biasa?

Selain mengupayakan adanya perubahan mindset pada masyarakat yang masih menganggap disabilitas sebagai pembatas, kita juga harus tetap mengupayakan peningkatan kualitas hidup pribadi penyandang disabilitas. Supaya nantinya mereka bisa berprestasi, bahkan bisa mandiri. Karena dengan begitu, masyarakat akan semakin yakin bahwa ternyata cara pandang mereka pada penyandang disabilitas selama ini memang salah.

 

Dan ngomong-ngomong soal prestasi, sejak tahun 2006 silam, beberapa teman-teman kita penyandang tuna netra  sudah berhasil membuahkan prestasi yang luar biasa dengan membuat website kartunet.com. Yang selama 5 tahun perjalannya, kartunet (karya tuna netra) telah membuka banyak mata dengan meyakinkan kita semua bahwa penyandang disabilitas pun bisa berkarya.

Saya berharap, semoga keberadaan website kartunet ini bisa menjadi motor penggerak bagi perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Dengan menampilkan berbagai macam profil penyandang disabilitas yang berprestasi misalnya. Ataupun dengan membuat karya-karya lain yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan tindak diskriminasi pada penyandang disabilitas.

Untuk media promosi, teman-teman dari kartunet bisa membuat sebuah banner sederhana seperti halnya banner-banner blog pada umumnya. Agar teman-teman blogger Indonesia yang jumlahnya berjuta-juta bisa menampilkan banner kartunet di blog milik mereka. Sehingga kartunet semakin dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Selain banner, social media seperti facebook dan twitter juga bisa digunakan untuk mengenalkan kartunet pada masyarakat.

Selanjutnya, saya juga berharap agar teman-teman dari kartunet bisa menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas blogger yang sudah ada untuk mengadakan roadshow ke beberapa kota agar sosialisasi tentang pentingnya menghargai keberadaan penyandang disabilitas ini semakin cepat menyebar. Sehingga keberadaan penyandang disabilitas di berbagai kota pun semakin diperhatikan. Di lain sisi, acara semacam ini juga bisa jadi media untuk meningkatkan interaksi antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum. Dan hal ini akan membuat penyandang disabilitas lebih pede untuk berinteraksi di masyarakat. Sejalan dengan misi kartunet sendiri, untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif.

Yang tidak kalah penting, saya harap keberadaan kartunet bisa menjadi jembatan antara kalangan akademis dengan penyandang disabilitas. Karena selama ini saya merasa, kalangan akademis masih jarang memperhatikan penyandang disabilitas. Padahal sangat mungkin bisa terjalin simbiosis mutualisme diantara keduanya. Penyandang disabilitas bisa termudahkan dengan bantuan teknologi dan hasil karya dosen atau mahasiswa. Begitupun sebaliknya. Mahasiswa atau dosen bisa punya karya yang implementatif dan bermanfaat bagi sesama. Tidak hanya sekadar menang kompetisi atau lomba.

Syukur-syukur, jika teman-teman dari kartunet bisa menjalin kerjasama dengan dikti. Sehingga nantinya akan ada sebuah lomba/kompetisi yang bertujuan untuk membuat teknologi tepat guna. Khususnya bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

Satu hal lagi, saya berharap kartunet bisa menjadi sebuah komunitas yang tidak hanya berkarya di dunia maya. Tapi juga bisa menginspirasi dan memotivasi teman-teman penyandang disabilitas lainnya dengan mengadakan gathering  ataupun pelatihan keterampilan yang juga melibatkan masyarakat umum. Agar para penyandang disabilitas yang lain juga bisa berkarya dan bisa menginspirasi kita semua. Selain juga agar tidak lagi kita temukan rasa malu atau canggung ketika kita berinteraksi dengan penyandang disabilitas maupun yang bukan. Sesuai dengan misi utama kartunet, mewujudkan masyarakat yang inklusif.

Dan untuk itulah, penyandang disabilitas harus diberi kesempatan seluas-luasnya. Agar mereka bisa mengembangkan kelebihan yang mereka punya. Sehingga mereka bisa berkarya, berprestasi, dan bisa hidup mandiri tanpa harus meminta-minta seperti yang kerap kali kita temui di tepi jalan raya.

 

Buat teman-teman dari kartunet, teruslah berkarya, kawan. 🙂

 

Terakhir dari saya,

Cintailah hidup, dan hiduplah dengan cinta.

Cause God Makes No Mistakes, begitu kata Lady Gaga dalam salah satu lirik lagu miliknya.

(c) image : 1, 2, 3.

Advertisements

6 thoughts on “Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

  1. Penyandang disabilitas memang diberi kekurangan di satu sisi tapi diberi kelebihan di sisi lain. Sama halnya dengan orang dengan fisik yang lengkap, sama-sama punya kekurangan & kelebihan.

  2. orang-orang yang mengalami disabilitas ini emang dilahirkan berbeda, dan pastinya ada tujuan khusus. salah satunya, buat mengingatkan kita yang hidup normal untuk bersyukur atas apa yang kita miliki.

    dan sebenarnya, kalau dikasih kesempatan, mereka bisa melahirkan sesuatu yang fenomenal juga kok 🙂

    CMIIW

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s