SARA?

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang pemain Liverpool mendapat sanksi larangan bermain selama 8 pertandingan gara-gara menyebut salah seorang pemain setan merah (MU) sebagai ‘negro’.

Dan kemarin siang, tiada hujan tiada angin, tiba-tiba timeline twitter saya banyak dihiasi oleh kisah tentang kearogansian alumni salah satu kampus negeri di negeri ini. Sebut saja kampus ganesha.

Kalau mau tahu cerita lengkap tentangnya, silakan baca saja kisahnya di sini >> klik.

Memang sih. Kampus yang satu ini luar biasa. Hampir tiap periode, kampus ini selalu paling banyak mendelegasikan alumninya di dalam kabinet pemerintahan. Selain UI juga Pastinya.

Saya sendiri sih sebenarnya tidak terlalu kaget dan tidak terlalu ambil pusing dengan kisah tersebut. Mengingat setiap tahun, saya selalu merasakan kondisi yang hampir mirip dengannya. Sebelas dua belas lah istilah kerennya. Meski dengan lingkup yang lebih kecil dan konteks yang juga berbeda.

Kalau kisah yang saya ceritakan di atas terjadi di dunia kerja, apa yang saya rasakan sekarang ini terjadi di kampus tempat saya mengejar ci(n)ta. 🙂

Di sini, kondisinya hampir mirip dengan yang diceritakan dalam artikel yang telah saya sebutkan di atas. Dan setelah 3 tahun lebih berada di sini, saya pun jadi agak bingung jika disuruh membedakan mana itu sombong dan mana itu bangga. Mengingat sombong dan bangga itu saudara kembar yang beda orang tua. (bingung kan?) 😀

 

Hampir tiap tahun, semangat sinergisitas selalu dikumandangkan. Tapi hampir setiap saat itu juga, semangat arogansi jurusan selalu tidak ketinggalan untuk terus ditanamkan. Sangat paradoks bukan?.

 

Jika semangat kebersamaan itu diibaratkan tanaman, saya melihat arogansi itu sebagai sebuah hama yang sampai kapanpun akan menghambat pertumbuhan tanaman.

Kalau memang semangat persaingan sehat yang menjadi tujuan, kenapa harus arogansi yang dijadikan jalan?

 

Ah, sepertinya saya sudah terlalu rindu pada kebersamaan.

 

Sebelum saya akhiri, saya ingin kembali menuliskan catatan Najwa Shihab dalam episode Mata Najwa favorit saya, Ironi Pendidikan. Kebetulan beberapa minggu yang lalu sempat saya abadikan juga dalam sebuah postingan di blog saya yang lain. Berikut catatannya,

Pendidikan terselenggara dalam rapor penuh angka

Guru dan orang tua, halalkan segala cara supaya anak didik bermental ‘yang penting juara’

Kita tersesat oleh pendidikan yang mampat

Pendidikan dikerdilkan sebatas persekolahan, sekadar pengajaran ilmu pengetahuan dan ketrampilan

Ajaran kearifan makin tersisih dari mata pelajaran

Kesetaraan dan persamaan digantikan oleh perlombaan

Sekolah seperti candu, mencetak bangsa peragu

Sekolah mahal, membuat kita takut gagal

Pengajaran tanpa roh pendidikan punahkan kejujuran

Gagal antarkan bangsa ini lewati kegelapan keterasingan dan kebodohan

 

Terakhir, mengutip kata mbak @tikabanget melalui akun twitter-nya, sepertinya di dunia kerja SARA itu memang bukan lagi Suku, Adat, Ras, dan, Agama. Tapi Suku, Agama, Ras, dan Almamater.

 

Salam olahraga. 🙂 *gini nih efeknya kalau keseringan nonton acaranya mbak @Frandaaa* :mrgreen:

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s