Dilema Pembajakan

Beberapa hari terakhir ini, situs-situs terkenal banyak memprotes penetapan SOPA dan PIPA.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham apa aturan yang tertulis dalam SOPA dan PIPA. Setahu saya, kedua aturan tersebut dibuat untuk mengurangi atau menghentikan pembajakan. Maka dari itu, tidak mengherankan jika para seniman, penyanyi, dan pembuat film di Hollywood sangat mendukung pengesahan SOPA dan PIPA ini.

Dan beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya, Junian membagikan sebuah link berita yang cukup mengagetkan melalui akun facebooknya. Pemilik Megaupload dicekal oleh FBI karena dinilai telah membantu pelestarian produk bajakan. Kurang lebih begitu yang saya tangkap dari berita yang saya baca. Untuk kisah selangkapnya silakan Anda baca langsung sumber beritanya.

Dan jauh sebelum munculnya SOPA dan PIPA, saya sendiri sempat berpikir bahwa keberadaan situs-situs file sharing semacam megaupload, rapidshare, 4shared, mediafire, dan teman-temannya lah yang menyebabkan produk bajakan bisa menyebar dengan mudah di internet.

Saya sendiri sempat berpikir bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan peredaran produk bajakan adalah dengan menghentikan keberadaan situs-situs file sharing.

Tapi mengingat membuat domain baru dan website baru juga tidak susah, sepertinya memblok website pun tidak akan menghentikan masalah. Bahkan mungkin sebaliknya, banyak orang yang hidupnya akan semakin susah.

 

Lantas bagaimana jalan keluarnya?

Memperbanyak situs-situs penjualan produk resmi semacam itunes sebenarnya bisa dijadikan solusi alternatif. Ataupun jika tidak, keberadaan situs-situs streaming lagu online berbayar semacam last.fm juga bisa dijadikan alternatif. Karena sepertinya, sampai kapanpun pembajakan tidak akan bisa dihentikan. Apalagi di zaman copy paste seperti ini. Di saat menggandakan sebuah file hanya semudah menekan Ctrl C + Ctrl V.

Hmmm… sejak dulu, membicarakan produk bajakan itu memang agak susah sih ya. Saya sendiri pun sampai sekarang masih belum bisa lepas 100 persen dari produk bajakan. Kalau penggunaan software  mungkin masih bisa diatasi dengan menggunakan freeware dan opensource. Tapi bagaimana dengan lagu dan film? Khususnya lagu dan film jadul yang sudah jarang diproduksi lagi dvd aslinya?

Sampai sekarang saya masih sangat jarang beli cd-cd lagu orisinil. Nonton film ke bioskop pun cuma sesekali. Di saat ada yang ngajak dan kebetulan uang di dompet juga agak penuh sesak. 😀

 

Tidak bisa dipungkiri lagi, salah satu alasan utama penggunaan produk bajakan adalah keterbatasan biaya. Meski ada beberapa alasan lain, keterbatasan biaya adalah alasan utama dan mungkin juga alasan yang pertama.     Apalagi buat seorang mahasiswa seperti saya yang tidak bisa lepas dari #mentalmahasiswa-nya 🙂

Ke depan, semestinya produsen musik dan film tidak hanya meminta belas kasihan. Tapi juga memikirkan cara pemasaran alternatif selain yang selama ini pernah dilakukan. Seperti bekerja sama dengan industri lain misalnya.

 

Kalau di dalam negeri, kita bisa melihat KFC yang sudah beberapa kali menggandeng para musisi untuk bekerjasama  dalam wujud pemberian CD orisinil gratis untuk tiap pembelian produk KFC tertentu dalam jumlah tertentu. Selain menjadi sumber penjualan cd bagi musisi, sistem kerjasama seperti ini juga bisa dijadikan promosi buat KFC sendiri.

Yang jelas, menghentikan tindak pembajakan di era copy paste semacam ini sangatlah tidak mudah. Karena menghentikan pembajakan juga berarti membuat daya magis tombol Ctrl C + Ctrl V musnah.

 

Pertanyaannya sekarang, sudah siapkah kita meninggalkan produk bajakan? 😮

Advertisements

4 thoughts on “Dilema Pembajakan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s