Agent of Change = EO?

Hari ini saya membaca buku yang cukup menarik. Judulnya permata dalam lumpur. Sudah pernah dengar belum?

Isinya sangat menarik. Menceritakan kisah perjalanan penulis selama beberapa tahun terakhir ketika menjadi pengajar di kawasan Dolly. Iya. Dolly yang itu. Yang konon katanya tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara itu.

Kalau kalian penasaran dengan isinya, saya sarankan kalian langsung menghubungi penulisnya saja. Kebetulan saya nge-fans berat kenal dengan salah satu penulisnya yang merupakan salah satu jurnalis senior di ITS Online ini. Mas Hoe, begitu dia biasa dipanggil.

Oh ya, ngomong-ngomong, Mas Hoe ini salah satu pengisi rubrik opini di website resmi ITS yang saya suka lho. Selain Mas Bahtiar yang dulu sempat saya ceritakan dalam salah satu postingan saya tentunya. 🙂

Ok, sampai di sini saja perkenalannya. Selanjutnya saya nggak akan berbicara banyak soal keseluruhan isi bukunya. Dan sebagai gantinya, ada satu tulisan di dalam buku tersebut yang cukup menggelitik perasaan saya untuk menuliskan pendapat saya juga.

 

Satu hal yang cukup menarik perhatian saya tersebut adalah sub bab yang berjudul gini: Agent of Change itu bukan EO. Berikut ini kutipan isinya:

Selama ini berada di tempat prostitusi, kami pernah sharing dengan dua orang perempuan paruh baya. Beliau menceritakan seluk-beluk tentang dunia Dolly. Mulai sejarahnya, pembagian wilayah yang juga membagi kelas dan tarif berlangganan, kondisi sosial, perilaku warga, demografi dan bala tentaranya. Oh ya, beliau itu pengajar TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) bagi anak-anak yang berada di gang seberang.

Yang membuat saya kagum adalah dedikasi dan keikhlasannya. Beliau berjuang selama 10 tahun lebih hanya untuk menanamkan nilai spiritual dan moral pada anak-anak daerah itu. Tidak peduli dari anak tanpa bapak atau tanpa orang tua, anak mucikari, anak gigolo atau anak yang tidak jelas asal usulnya. Semua dilakukan tanpa bayaran dan tanpa hari libur! Padalah Ibu ini tidak pernah sedetik pun merasakan bangku kuliah. Embel-embel “Mahasiswa” yang kami bawa seolah terjun bebas di depan beliau.

Dalam kesempatan lain, ada seorang teman yang mengeluhkan tentang proposal kegiatan yang menggunung di Kemahasiswaan BAAK. Dia berujar bahwa banyak kegiatan yang diadakan mahasiswa sekedar angin lalu. Tidak memberikan pengaruh apapun terhadap masyarakat dan lingkungannya. Menyelenggarakan kegiatan, evaluasi, buyar. Terlihat mahasiswa tidak ubahnya seperti seorang Event Organizer (EO), katanya.

Dengan tameng melatih komunikasi, leadership, teamwork, soft skill dll, sebuah kegiatan atau organisasi bisa mengubah esensi mahasiswa sebagai agent of change (dan menjadi EO kegiatan kampus). Yang penting bagaimana kegiatan itu bisa berlangsung, bukan dampak positif apa yang bisa didapatkan pasca kegiatan ini. Semua tersirat dari tumpukan proposal dengan aneka ukuran. Dari kegiatan gurem sampai level internasional. Terpecah-pecah dalam segmen kepentingan masing-masing. Dan efeknya pun hanya hanya numpang lewat ketika kegiatan berlangsung. Idealnya, sebuah kegiatan mahasiswa itu bisa memberikan perubahan nyata. Yang lebih idealis, mampu memberi pengaruh pada kebijakan kampus dan negara. (Ini murni pendapat)

Terlepas dari pendapat tersebut. Fakta mengatakan, setiap tahun kita menghabiskan miliaran uang rakyat. Yang bisa jadi uang itu adalah retribusi yang disetorkan penjual sayur di pasar tradisional. Maka di tangan kita telah tergenggam sebuah amanah. Kuliah itu bukan hanya untuk menuntut ilmu, lulus, bekerja dan memperkaya diri. Tapi saksikan di sekeliling kita, ada rakyat yang ikut mensubsidi biaya kuliah kita. Saat ini mereka sedang butuh pertolongan. Apakah kita masih peduli?

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama,” begitu Rasulullah pernah berpesan.

 

Begitulah kutipan yang ada dalam buku tersebut. Cukup kontroversial memang. Tapi memang begitulah keadaannya. Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat diajak diskusi oleh teman saya tentang hal ini. Menurut teman saya itu, akhir-akhir ini aktivis itu tidak lebih dari event organizer.  Kegiatannya tidak jauh-jauh dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan.

Diakui atau tidak, memang begitulah keadaannya. Memang sih akhir-akhir ini sudah mulai ada kemajuan. Hal itu bisa dilihat dari adanya kegiatan kampus A mengajar, kampus B mengajar, kampung binaan kampus A, kampung binaan kampus Z dan lain sebagainya.

Tapi sayangnya, hal itu tetap tidak mengubah kecenderungan sebagian besar mahasiswa yang seakan-akan hanya seperti robot. Terlalu fokus pada kegiatan kampusnya sampai seakan-akan tidak sempat untuk melihat bahwa di seklilingnya ternyata ada banyak orang lain yang membutuhkan uluran tangannya.

 

Eh, ngomong-ngomong, mahasiswa masih agen perubahan kan?

 

Berprestasi itu baik, suksek itu lebih baik, dan bermanfaat adalah yang terbaik. ~ (Satria Nova)

Ilustrasi diambil dari : sini

NB : Setelah saya ubek-ubek website ITS, ternyata kutipan di atas juga bisa ditemukan di sini.

Advertisements

7 thoughts on “Agent of Change = EO?

  1. euiy, terima kasih bukunya sudah dicatut 🙂

    aslinya, buku itu adalah kumpulan dari note fb, blog, dan catatan dari antah berantah yg terburai tanpa aturan. Terus sy jadikan satu dengan penambahan sana sini, jadilah buku itu, hehe..

    ayo, nulis buku! Buku TA! Haha..

      1. mau maen yg model gimana? Mau yang hollywood, bolliwood atau lokal? haha..
        insya Allah tiap ahad rutin jam 13.30 kita ngajar di sana. Jadi kalau mau ikut, silahkan SMS saya bang 🙂

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s