Bangsa Pencitraan

Miris. Mungkin itulah kata ganti yang pantas untuk mewakili kondisi pendidikan di bangsa ini saat ini.

Banyak yang bilang bahwa pendidikan kita sudah baik. Hal itu dapat dibuktikan dengan meningkatnya standar kelulusan dan jumlah sekolah berstandar internasional dari tahun ke tahun.

Saya sendiri tidak pernah merasa pendidikan kita semakin baik. Memang benar, siswa kita memang banyak yang luar biasa. Banyak sekali siswa Indonesia yang mendapat medali di kejuaraan tingkat dunia. Tapi kembali lagi. Apalah artinya menjadi juara dunia kalau pada saat yang sama, ternyata masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah?

 

Bangsa Pencitraan.
Bangsa ini memang aneh. Di mana-mana, di berbagai macam bidang, pencitraanlah yang selalu didahulukan.

Jika banyak rakyat demo gara-gara tidak mendapatkan kesempatan kerja, bukannya menambah lapangan pekerjaan, pemerintahnya malah kemudian mengeluarkan keterangan bahwa kondisi ekonomi bangsa kita sudah membaik. Jumlah rakyat miskin dari tahun semakin menurun, begitu katanya. Tanpa ada kejelasan menurunnya itu sebab apa. Apakah memang karena hidupnya sudah sejahtera? Atau jangan-jangan jumlah itu menurun karena banyak diantara mereka tidak punya pekerjaan hingga akhirnya meninggal dunia?

Bangsa ini memang aneh. Jika kondisi pangan agak menghkhawatirkan dan para petani mengeluh kalau selama ini nasibnya tidak diperhatikan, bukannya melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas dan kuantitas bahan pangan, pemerintah kemudian malah mengimpor bahan pangan dari luar negeri secara besar-besaran. Dan beberapa waktu kemudian, mereka menginformasikan bahwa kondisi pangan bangsa ini sudah aman.

Bangsa ini memang aneh. Di saat banyak sekolah di daerah-daerah mengalami kerusakan, kementerian pendidikan malah mengumumkan kalau kualitas pendidikan kita semakin baik dengan adanya sekolah berstandar internasional.

Aneh. Bangsa ini memang sungguh aneh. Di saat banyak sekolah kekurangan fasilitas pembelajaran, pemerintah malah mewajibkan semua siswa untuk lulus UAN.

Demi mengontrol kualitas pendidikan, begitu mereka beralasan.

 

Dan yang lebih aneh lagi, keanehan-keanehan ini dilakukan oleh orang-orang yang (menganggap diri mereka sebagai orang yang) berpendidikan.

 

Bangsa ini memang sungguh aneh.

Surabaya, sehari setelah hari buruh internasional.

Advertisements

6 thoughts on “Bangsa Pencitraan

  1. Kalau diijinkan komen, inilah komentar sy (boleh dihapus juga sih, demokrasi, hehe)

    Saya itu selalu “marah” dengan setiap bentuk tulisan/pemberitaan terkait buruknya negara kita. Karena apa? Karena setiap dari individu warga negara Indonesia pasti pernah merasakan “getahnya” keburukan negara kita. Itu hal umum, sepertinya semuanya juga tahu kalau negara kita memang seperti ini kondisinya.

    Namun, apakah selayaknya kita berteriak mengabarkan kondisi negara ini kemana-mana? Yang hampir semua orang sudah tahu tanpa harus diteriaki. Ibarat orang sakit, negeri kita sedang sakit. Sebagai bagaian dari yang sedang sakit, apakah kita hanya bisa mengeluh, berteriak kesakitan dan mengabarkan kepada yang lain bahwa kita sedang sakit?

    Bangsa ini sedang sakit, sudah cukup banyak air mata terburai untuk menangisi dan mengeluh saja. Saatnya membenahi, memperbaiki, dan menyongsong senyuman untuk hari esok. Sejujurnya, kita lebih membutuhkan senyuman dari pada memaki negeri sendiri!

    Sejujurnya pula, mengeluhkan negeri ini adalah pekerjaan sia-sia yang sudah dilakukan oleh banyak orang dari beragam latar (tidak hanya mahasiswa). Apakah kita akan selamanya menangisi dan berteriak di negeri sendiri? Kita butuh perubahan!

    1. Luar biasa.

      Sayangnya, saya lumayan suka dengan postingan bernada sinis seperti ini. 🙂

      Memang benar sih, sebagian memang ada yang seperti sampeyan, mas. Sadar. Tapi sayangnya, banyak sekali orang-orang di luar sana yang tidak pernah sadar kalau selama ini sudah dijajah oleh bangsa sendiri.

      Postingan semacam ini itu cuma sebagai pengingat saja. Karena saya rasa, postingan seperti ini lebih meninggalkan kesan mendalam buat yang membacanya. 🙂

      Menurut saya, postingan ini bersifat kritikan. Bukan kritikan. Meski saya akui kritik ini kurang baik karena tidak ditujukan langsung kepada yang bersangkutan.

      Postingan ini terinspirasi oleh kalimat-kalimat penutup dalam setiap episode mata najwa yang sempat saya abadikan di blog saya yang lain: ahsanisme.wordpress.com

      1. Cobalah diimbangi dengan tulisan2 optimisme negara Indonesia, seperti tulisannya Pak Anies Baswedan atau Pak Dahlan. Buat ngimbangi hal2 sinis model kritikan itu.

        Klo secara psikologi persuasi sosial, apa yg kita tangkap berkali2 dari lingkungan, itu bisa membentuk mindset alam bawah sadar sesuai hal yg kita tangkap itu. Orang bisa menerima rokok itu sebagai “nilai” kegagahan seorang pria karena iklan yang ganteng2, keren, macho. Jd klo tiap hari kita dicekokin dg hal2 negatif ttg negeri kita, ya selama itu pula orng lbh sering benci dengan negerinya sendiri. 🙂

        CMIIW 🙂

      2. Hehe. Tenang, mas. Porsi tulisan yang bernada sinis seperti ini nggak sebanyak tulisan saya yang berisi ajakan kok 🙂

        Tulisan ini sebenarnya hanya untuk belajar saja. Kira-kira saya cocok nggak kalau nulis semacam ini. 😛

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s