Awas Terprovokasi

Ada yang salah dengan pola pikir masyarakat kita. Begitulah kesimpulan saya setelah melihat fenomena yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

Setelah beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh berita tentang kerusuhan yang terjadi di acara diskusi dan bedah buku bersama Irshad Manji yang berlangsung di salihara, hari ini saya kembali dikejutkan oleh komentar-komentar bernada sinis terhadap pendapat Pak Habibie di salah satu pemberitaan tentang beliau.

Saya nggak habis pikir, kenapa sih bangsa kita begitu mudah terprovokasi?

Terus terang saya rindu dengan sosok-sosok cinta damai seperti Gus Dur.

Selama ini banyak sekali orang yang salah paham dengan sosok mantan presiden ke-4 Indonesia ini. Pembelaan Gus Dur pada hak-hak kaum minoritas dan tertindas seringkali dianggap sebagai dukungan Gus Dur atas paham-paham yang dibela tersebut. Padahal sebenarnya tidak demikian. Yang Gus Dur bela itu hak mereka. Hak mereka untuk berkumpul, hak mereka untuk mendapat perlakuan yang adil dan setara di depan hukum, hak mereka untuk menyuarakan pendapatnya. Itulah yang sebenarnya yang Gus Dur bela. Kurang lebih begitulah yang saya pahami tentang sosok presiden ke-4 Indonesia ini.

Dan yang saya herankan lagi, masyarakat kita begitu mudah menganggap kehadiran orang atau kelompok lain sebagai ancaman. Lihat saja kasus #IndonesiaTanpaJIL misalnya. Saya sendiri memang tidak sepaham dengan JIL. Tapi apakah hanya dengan tidak sepaham lantas kita harus mengambil hak-hak mereka untuk berkumpul dan menyuarakan pendapatnya? anggota JIL kan sama-sama penduduk Indonesia?

Kalau memang paham JIL itu salah, mengapa tidak kita ingatkan angotanya saja? Mengapa tidak kita ajak diskusi saja mereka? Mengapa tidak kita ajak mereka untuk berdiskusi secara terbuka sehingga mereka sadar akan kesalahannya? Bukankah makna dakwah itu mengajak?

Kalau kayak gini sih, saya khawatirkan suatu saat nanti hal ini akan memicu gerakan-gerakan yang lebih ekstrim lagi seperti gerakan #IndonesiaTanpaKristen, #IndonesiaTanpaHindu, #IndonesiaTanpaBuddha, misalnya. Semoga saja tidak.

 

Begitupun dengan kasus Syiah, Ahmadiyah, Lia Eden, dan lain sebagainya. Mengapa mayoritas masyarakat muslim di bangsa ini selalu merasa terancam dengan keberadaan mereka? Bahkan, saking takutnya, mereka selalu menghakimi golongan minoritas tersebut sebagai ‘sesat’. Apakah dengan melabeli sesat lantas kita sudah kehilangan kewajiban untuk mengingatkan bahwa mereka salah jalan?

Itu masih dalam ranah agama.

 

Dalam ranah yang lebih luas lagi, masyarakat kita sulit sekali menerima perbedaan pendapat.

Bukti yang paling jelas saya temukan di salah satu halaman website kompas hari ini. Di kolom komentar yang ada pada berita tentang kritik Pak Habibie atas mobil Esemka, banyak saya baca komentar berupa hinaan dan cacian yang ditujukan pada Pak Habibie.

Hal ini mengingatkan saya pada fenomena #new7wonders beberapa bulan silam. Di saat ada beberapa kelompok berusaha mengungkapkan kebohongan publik yang dilakukan oleh penggagas #new7wonders, sebagian masyarakat lain yang begitu mengidolakan Pak JK malah menuduh kelompok tersebut sebagai tidak nasionalis. Hah? Sudah baik-baik diingatkan, malah dituduh tidak nasionalis.

Sekarang coba anda perhatikan? kebohongan yang dilakukan oleh pihak panitia semakin terbukti ketika #new7wonders tidak pernah mengadakan acara resmi untuk menetapkan 7 juaranya sebagai keajaiban dunia.

 

Masyarakat kita itu mudah sekali terprovokasi.

Di saat Pak Habibie mengungkapkan bagaimana seharusnya industri otomotif itu dikelola, orang-orang yang begitu mengidolakan Pak Jokowi malah menuduh Pak Habibie sebagai orang yang cuma bisa ngomong doang. Nah lo?

Apa mereka nggak pernah tahu kalau Pak Habibie itu pemegang hak paten paling banyak dalam bidang industri pesawat terbang?

Saran saya buat orang-orang yang bilang bahwa Pak Habibie itu cuma omong doang, silakan baca buku “Habibie & Ainun“.  Karena di sana dijelaskan semua apa saja yang menyebabkan perusahaan sekaliber IPTN akhirnya ditutup.

Dan buat anda yang belum pernah baca, dalam buku tersebut, Pak Habibie pernah bilang kepada Pak Harto bahwa Indonesia bisa jadi pemimpin dalam industri pesawat terbang. Syaratnya cuma 1, pemerintah benar-benar mau investasi dalam jumlah besar di sana.

 

Kalau menurut anda sendiri, bagaimana fenomena ini?

Advertisements

6 thoughts on “Awas Terprovokasi

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s