Bercanda Jangan Bercanda

Beberapa waktu yang lalu, melalui akun twitternya, bang pandji membagikan sebuah link postingan blognya. Sudah lama sih postingnya. Tapi isinya masih relevan dengan kondisi saat ini. Lebih-lebih bagi saya pribadi. Saya kurang paham apa motif bang pandji membagikan link tulisannya yang sudah lama tersebut melalui akun twitternya, tapi yang jelas, saya berterima kasih banyak kepada bang pandji. Karena setelah baca postingan tersebut, saya jadi terinspirasi untuk menulis lagi di blog ini.

Sama halnya dengan bang pandji, saya sendiri agak risih tiap mendengar teman-teman saya di kampus menggunakan kata ‘autis’ sebagai sebuah hinaan atau cacian. Dan sayangnya, frekuensi penggunaan kata ‘autis’ ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya peminat game DotA dan Blackberry di kampus saya.

Sering saya mendengar ada anak yang berucap, ”kalau main jangan autis gitu dong” tiap kali ada salah seorang anggota timnya yang bermain secara individu dalam game DotA yang umumnya dimainkan secara tim. Dan di kesempatan yang lain, saya juga pernah mendengar ada teman yang berucap, “tuh liat, dia jadi autis gara-gara Blackberry”.

 

Saya tahu, maksud teman-teman saya adalah bercanda. Tapi masa sampai segitunya juga sih? emang gak ada bahan lain ya buat bercanda?

Saya sendiri suka bercanda. Tapi jarang sekali saya menggunakan kekurangan fisik atau penyakit sebagai bahan bercanda. Karena menurut saya, bercanda menggunakan kekurangan fisik itu nggak bermutu dan nggak berkualitas sama sekali. Dan seandainya bercanda itu mempunyai kasta, menurut saya, bercanda menggunakan fisik itu termasuk kasta terendah dalam bercanda.

 

Oke, mungkin menurut kita yang nggak pernah punya anggota keluarga penderita autisme, bercanda menggunakan kata-kata ‘autis’  itu merupakan suatu hal yang sah dan biasa saja. Tapi coba bayangkan, seandainya adik kita atau anggota keluarga kita adalah salah satu penderitanya, bagaimana kira-kira perasaan kita ketika mendengar ada orang yang meneriakkan “oooh, dasar autis” atau tuh liat, dia autis gara-gara blackberry” di dekat kita? Agak nyesek juga kan? :O

Dan kalaupun bisa memilih, saya yakin semua orang tua tidak ingin anaknya menjadi penderita autisme. Orang tua mana sih yang ingin anaknya menderita?

Dibutuhkan kedewasaan untuk bisa bercanda tanpa melukai perasaan orang lain yang mendengarnya. Karena menurut saya, tertawa di atas penderitaan orang lain itu bukan termasuk bercanda.

 

Terakhir, seperti kata bang haji Rhoma Irama,

Bercanda jangan bercanda, kalau tiada artinya.” 🙂

 

STOP menggunakan AUTIS dalam canda.

 

*) PS : I dont mean to preach. But please, just watch what you’re saying

Advertisements

One thought on “Bercanda Jangan Bercanda

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s