SNMPTN Ditiadakan?

Sebagai seorang lulusan SNMPTN, saya cukup kecewa dengan usulan kementrian pendidikan dan kebudayaan untuk meniadakan SNMPTN mulai tahun 2013.

Meski dengan didasari alasan yang cukup logis dan masuk akal: untuk mengintegrasikan semua jenjang pendidikan,  saya rasa kementrian pendidikan dan kebudayaan cukup gegabah dalam membuat usulan. Karena seperti yang telah kita tahu, UN itu sarat ketidakjujuran.

Meski katanya tiap tahun pencegahan kecurangan selalu ditingkatkan dengan menambah jenis soal, toh buktinya celah untuk melakukan kecurangan itu tetap selalu ada. Bahkan, di sekolah swasta yang ada di pelosok-pelosok desa, tidak cukup hanya siswanya yang melakukan kecurangan, bahkan gurunya yang konon katanya pendidik pun ikut membantu berjalannya kecurangan tersebut. Karena jika ada satu saja siswanya yang tidak lulus, hampir bisa dipastikan kalau tidak akan ada yang mau mendaftar di sekolah tersebut nantinya.

Saya jadi teringat salah satu penuturan Mbak Murni Ramli tempo hari di salah satu tulisannya. Konon katanya, di Jepang tidak ada yang namanya ujian kelulusan SMA. Yang ada hanyalah ujian masuk Perguruan Tinggi.

Dan menurut keterangan Mbak Murni Ramli lagi, untuk jenjang SD sampai SMP, memang ada ujian yang diselenggarakan secara nasional. Tapi itu hanya bertujuan untuk survei kualitas. Bukannya sebagai penentu kelulusan seperti yang ada di negeri ini. Karena di Jepang, hampir semua siswa akan otomatis naik kelas atau lulus sekolah jika memang mengikuti alur pembelajaran dengan benar meski nilai mereka pas-pasan.

Ujian yang diadakan secara nasional ini pun sifatnya opsional. Pemerintah Jepang tidak mewajibkan semua sekolah untuk mengikuti ujian tersebut. Karena memang tujuannya hanya sebagai survei.

Kembali lagi ke SNMPTN. Saya sendiri cukup kecewa dengan usulan ditiadakannya SNMPTN yang sempat saya baca di beberapa situs portal berita. Bagi saya, meniadakan ujian tertulis SNMPTN itu merupakan sebuah diskriminasi. Karena dengan begitu, maka tidak akan ada lagi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terkemuka bagi siswa yang memiliki nilai rapor biasa-biasa saja. Padahal banyak sekali teman-teman saya di Teknik Informatika ITS yang seperti itu. Meski waktu SMA mereka tidak pernah meraih peringkat 10 besar, toh buktinya mereka bisa lulus SNMPTN. Karena waktu SMA mereka memang tidak sungguh-sungguh belajar dan lebih memilih menikmati masa-masa SMA yang konon katanya masa-masa paling indah selama sekolah.

Kalaupun harus memilih, saya rasa akan lebih arif jika UN saja yang ditiadakan. Bukannya SNMPTN yang terbukti cukup kredibel, meski tidak sepenuhnya bebas dari tindak kecurangan.

 

UN itu memiliki resiko lebih berat. Tidak hanya siswa yang dirugikan jika mereka tidak lulus ujian. Tapi juga sekolah tempat di mana siswa tersebut menempuh pendidikan. Oleh karenanya, kecurangan-kecurangan UN seringkali bersifat sistematis dan teroganisir dengan cukup rapi. Karena memang banyak sekali yang berkepentingan di sana. Maka dari itu, jangan salahkan jika kemudian siswa-siswa tersebut menjadi koruptor, karena sejak di bangku sekolah mereka sudah diajari bagaimana caranya untuk menghalalkan segala cara demi meraih ambisinya.

Sebaliknya, SNMPTN hanya perjuangan personal. Satu-satunya pihak yang harus menanggung konsekuensi hasil SNMPTN hanyalah peserta SNMPTN itu sendiri. Plus Ayah dan Ibu mereka mungkin. Mengingat budaya gengsi masih tertanam kuat di benak masyarakat kita sampai saat ini.

Dan kalaupun mereka tidak lulus SNMPTN, beban yang mereka tanggung tidak terlalu berat. Mereka hanya tidak bisa kuliah di perguruan tinggi yang mereka impikan. Itu saja. Toh, mereka masih bisa kerja atau memilih perguruan tinggi swasta jika memang tidak sabar untuk menunggu ujian SNMPTN di tahun berikutnya.

 

Selama ini, pemerintah selalu beralasan bahwa UN merupakan salah satu metode survei kualitas pendidikan. Oleh karenanya UN itu harus ada. Tapi buktinya? jurang kesenjangan pendidikan semakin lama semakin tampak nyata. RSBI adalah salah satu buktinya. Kalau memang UN bertujuan untuk pemerataan kualitas pendidikan, mengapa kemudian RSBI yang muncul sebagai sebuah kebijakan?

Ah, dari dulu saya memang cukup sensitif dengan masalah pendidikan. Semoga ke depan kementrian pendidikan dan kebudayaan bisa melihat dengan lebih jernih lagi apa yang jadi masalah utama di bangsa ini. Karena bangsa ini tidak hanya butuh orang-orang pintar. Tapi lebih dari itu, bangsa ini butuh orang-orang yang mampu senantiasa berperilaku benar.

 

Terakhir, bagi saya, SNMPTN itu harga mati. Tidak bisa ditawar lagi.

 

Selamat menempuh ujian tulis SNMPTN, kawan. Semoga sukses dalam kejujuran.

Advertisements

5 thoughts on “SNMPTN Ditiadakan?

  1. christine fadillah

    tepat sekali bahwa kejujuran semakin diabaikan dlm pendidikan masa kini. korupsi semakin tidak dpt dihindari dan negara ini semakin rapuh. sy hanya berharap bangsa ini diberi pemimpin2 yang ARIF, ADIL PINTAR DAN CERDAS.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s