Secangkir Kopi

Kemarin berlangsung Pilkada Jakarta. Saya bukan warga Jakarta. Tapi karena sebagian besar orang-orang yang saya follow di Twitter merupakan orang-orang Jakarta, mau tidak mau saya jadi mengikuti perkembangannya. Saya pun ikut menjagokan salah satu calon pada akhirnya. Namun sayang, calon gubernur jagoan saya hanya mampu meraih suara sekitar 5% berdasarkan hasil perhitungan quick count. 😦

Agak kecewa sih. Tapi gak apalah. Mari kita berdoa semoga pemimpin Jakarta nantinya amanah. Karena sebagai seorang dari pelosok desa anakkota, sejujurnya saya cukup prihatin dengan nasib ibukota. 

Menang, kalah, sukses, gagal, dicintai, dibenci, diabaikan, semuanya adalah bagian dari kehidupan. Nggak ada yang harus dipersoalkan dan disesalkan. Bukan begitu, teman?

 

Seperti yang orang bijak bilang, hidup itu layaknya kopi. Pekerjaan, uang, dan kedudukan sosial, semuanya hanya cangkir. Jangan sampai fokus kita pada cangkir mengalihkan perhatian kita untuk menikmati kopi. Karena yang namanya kopi, hanya akan terasa nikmat jika sedang hangat. Sebagus apapun cangkirnya, kalau kopinya sudah tidak hangat, rasanya pasti kurang nikmat.

Sudah, gak usah terlalu dipikirkan cangkirnya. Mari, silakan dinikmati kopinya.

Advertisements

2 thoughts on “Secangkir Kopi

    1. Sebenarnya saya prefer Faisal Basri – Biem Benyamin yang independen. Karena sejujurnya saya cukup kecewa dengan partai.

      Tapi karena Faisal – Biem gagal melaju. Ya sudahlah, mari kita sambut “Jakarta Baru” 🙂

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s