Sosok Idaman DKI Satu

Pesta demokrasi ibu kota memang sudah berlangsung setengah jalan dengan menempatkan pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara sebagai calon dalam pemilukada DKI putaran kedua. Dan jauh hari sebelum berlangsungnya pemilukada DKI putaran pertama 11 Juli silam, kedua pasangan ini memang banyak diprediksi akan bersaing dengan ketat. Meskipun pada akhirnya hasil survei sebelum pemilukada banyak yang meleset, hal itu tetap tidak mengubah fakta bahwa Jokowi-Ahok dan Foke-Nara merupakan pasangan yang paling banyak dijagokan untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI selama lima tahun ke depan.

Saya sendiri memang tidak merasakan secara langsung bagaimana suasana pemilukada DKI Jakarta. Tapi setidaknya ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Salah satunya kemenangan Jokowi-Ahok yang di luar prediksi. Meski belum final, kemenangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama setidaknya cukup menggambarkan bagaimana sosok pemimpin yang diharapkan oleh warga Jakarta.

1. Religius

Jika dulu religius sering dikaitkan dengan praktek ibadah, sekarang jangkauan makna kata religius semakin luas. Religius sekarang tidak hanya bermakna rajin beribadah dan aktif dalam organisasi sosial keagamaan, tapi juga jujur, adil, bertanggung jawab, rendah hati, dan sederhana. Dan sepertinya nilai-nilai seperti itu memang terpancar dalam sosok pasangan Jokowi-Ahok yang dikenal ‘bersih’ selama menjadi kepala daerah.

Seperti yang diberitakan di website Tempo, meskipun isu SARA masih sering digunakan oleh beberapa pihak, terbukti hal tersebut tidak memberikan implikasi yang cukup signifikan terhadap perolehan suara pasangan calon tertuduh. Sepertinya masyarakat sekarang memang sudah tidak lagi melihat agama sebagai sampul semata. Agama memang penting. Tapi penerapan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari itu jauh lebih penting.

Bisa dibilang masyarakat sekarang tidak lagi melihat apa agama pasangan calon. Lebih jauh dari itu, masyarakat kini melihat bagaimana sikap calon sebagai seorang yang beragama. Sudah sesuai dengan ajaran agamakah perilaku keseharian mereka? Itulah yang sekarang menjadi perhatian masyarakat pada saat ini. Karena mungkin seperti halnya saya, mereka juga yakin bahwa semua agama pasti mengajarkan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, integritas, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Mengacu pada data dari Politicawave di atas, bisa dilihat kalau pasangan Jokowi-Ahok menerima lebih banyak komentar positif dari masyarakat. Sebaliknya, pasangan Foke-Nara memperoleh lebih banyak komentar negatif daripada komentar positif. Jika Anda kurang paham tentang apa yang dijelaskan dalam gambar di atas, Anda bisa melihat penjelasannya di halaman resmi politicawave.

2. Solutif dan Inovatif

Meskipun tidak sepenuhnya berusia muda, Jokowi-Ahok sukses mengkampanyekan diri sebagai sosok pemimpin muda yang bersih dan inovatif. Diakui atau tidak, pemberitaan mobil kiat esemka juga turut mendongkrak popularitas Jokowi sebagai sosok yang inovatif.

Dan jangan lupa, gebrakan-gebrakan Jokowi selama menjadi walikota Solo yang sempat diliput oleh beberapa media massa dan stasiun tv swasta nasional juga turut memberikan andil atas peningkatan popularitas Jokowi di kalangan masyarakat luas. Oleh karena itu, tidak salah kalau kemudian banyak masyarakat Jakarta yang menaruh harap pada salah satu nomitor 25 walikota terbaik di dunia ini agar membawa angin segar perubahan bagi Jakarta.

3. Independen

Akhir-akhir ini masyarakat memiliki kecenderungan lebih melihat sosok yang dicalonkan daripada partai yang mencalonkan. Meskipun tidak sepenuhnya independen seperti halnya pasangan Faisal-Biem dan Hendarji-Riza, usaha pasangan Jokowi-Ahok untuk mengumpulkan dana kampanye secara independen melalui penjualan kemeja kotak-kotak setidaknya turut mempengaruhi opini publik bahwa pasangan Jokowi-Ahok tidak sepenuhnya menjadi alat politik bagi partai yang mengusungnya.

Mengacu pada salah satu tulisan di blog politicawave, sebagian besar masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk independen sepertinya merupakan golongan menengah. Mengingat mereka punya kemampuan ekonomi dan pendidikan yang cukup mapan. Sehingga mereka tidak mudah terperdaya oleh godaan jual beli suara.

Selain itu, fenomena meningkatnya semangat independensi ini sepertinya juga tidak lepas dari citra buruk para politisi partai yang sempat terjerat kasus korupsi dalam beberapa tahun terakhir ini. Alhasil, Partai Demokrat dan PKS yang dalam pemilu 2009 memperoleh banyak suara di Jakarta terbukti tidak bisa memperoleh hasil yang maksimal dalam putaran pertama pemilukada DKI Jakarta tahun ini.

Demikian sedikit ulasan dari saya. Apa yang saya ungkapkan di sini mungkin tidak semuanya tepat. Mengingat saya sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan sosok Jokowi-Ahok maupun Foke-Nara. Tapi berdasarkan apa yang telah saya lihat dan saya baca, kurang lebih seperti itulah sosok pemimpin DKI yang diharapkan oleh warga Jakarta.

Sengaja tidak saya sebutkan jujur (tidak korup), amanah, adil, bertanggung jawab sebagai kriteria karena hal tersebut sudah tercakup dalam poin pertama saya: religius.

Terakhir, semoga pemimpin yang terpilih nantinya merupakan pemimpin yang kita cintai dan yang mencintai kita.

Karena “Sebaik-baik pemimpin adalah yang mencintai kalian dan yang kalian cintai.” (Al Hadits)

*) sumber gambar : politicawave.com

Advertisements

6 thoughts on “Sosok Idaman DKI Satu

  1. Pingback: Lomba Blog Tempo.co & Politicawve.com -- Raih dua laptop, BlackBerry, dan iPod - Page 8 | forum.tempo.co

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s