Konsistensi

Sejak menang di final piala FA 2005 silam, Arsenal belum pernah memenangkan gelar bergengsi sama sekali. Agak mengecewakan memang. Sebenarnya Arsenal sangat berkesempatan untuk mengakhiri masa paceklik gelarnya pada musim 2010-2011. Bagaimana tidak, selama setengah musim, mereka memimpin klasemen di liga. Di piala liga, mereka tinggal mengalahkan Birmingham City saja agar bisa mengangkat piala. Tapi sayang, keunggulan selama setengah musim pada akhirnya tidak bisa dipertahankan. Dan Brimingham City yang secara hitungan matematis kalah kualitas dibandingkan dengan Arsenal ternyata mampu mempecundangi Arsenal di laga pamungkas piala liga. Dan lagi-lagi, Arsenal harus menambah masa puasa gelarnya.

Toh, meskipun tidak pernah mempersembahkan gelar lagi untuk Arsenal sejak 2005, Arsene Wenger tetap mendapatkan apresiasi tinggi dari para petinggi Arsenal. Sejak datang di Arsenal, posisi Arsene Wenger sebagai pelatih tidak tergoyahkan. Selama di bawah asuhan Arsene Wenger, Arsenal selalu konsisten berada di zona liga champions. Dan kalau saja tidak dikalahkan oleh Barcelona, Arsenal sangat berkesmpatan untuk menjadi tim pertama dari London yang bisa meraih gelar liga champions pada musim 2005-2006. Dan sebagai apresiasi atas konsistensinya sebagai pelatih yang sukses melahirkan pemain-pemain berbakat, Arsene Wenger sempat mendapatkan anugerah pelatih terbaik dalam satu dekade terakhir pada tahun 2010.

Di level internasional, sejauh ini, belum ada yang mampu menggoyang singgasana timnas Spanyol. Bayangkan saja, selama 6 tahun terakhir, mereka telah 2 kali mengangkat Piala Eropa dan sekali mengangkat Piala Dunia. Adakah prestasi yang lebih baik dari ini? saya rasa tidak.

Selama saya mengikuti perkembangan sepakbola, apa yang diraih oleh timnas Spanyol adalah pencapaian terbaik bagi sebuah timnas sepakbola. Spanyol memang bukanlah satu-satunya timnas yang berhasil mengawinkan gelar piala eropa dan piala dunia. Pada tahun 1998 dan 2000 timnas Perancis sudah pernah melakukannya. Tapi menurut saya, timnas Spanyol dalam beberapa tahun terakhir ini jauh lebih baik daripada timnas Perancis pada masa 1998-2000. Alasannya? simpel saja, mereka adalah satu-satunya tim yang berhasil mempertahankan gelar piala eropa.

Dalam sebuah kompetisi, memenangkan gelar itu suatu hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah ketika bisa memenangkan gelar secara berturut-turut. Mempertahankan gelar itu bukan perkara mudah. Timnas Perancis sudah membuktikannya. Mereka yang begitu perkasa selama rentang tahun 1998-2000, pada tahun 2002 ternyata tidak mampu lolos dari babak grup piala dunia.

Dalam kehidupan sehari-hari pun sebenarnya sama. Di kehidupan perkuliahan misalnya. Kalau kita tahu caranya, mendapatkan IP 3.5 ke atas itu sebenarnya tidak terlalu susah untuk dilakukan. Beneran. Tapi masalahnya, menjaga semangat kuliah agar terus mau belajar dan bisa mendapatkan IP 3.5 ke atas di tiap semester itu tidak semudah teorinya. Saya memang pernah mendapatkan IP 3.5. Tapi itu cuma beberapa semester saja. Dan di semester yang lain, saya pernah juga merasakan bagaimana sedihnya mendapatkan IP satu koma. Iya, satu koma. Sangat menyedihkan bukan? 😀

Maka dari itu, meskipun saya orangnya agak cuek dengan nilai di transkip selama kuliah, saya sangat menaruh respek pada teman-teman saya yang bisa cum laude. Karena saya sendiri belum bisa melakukannya.

Memang benar, nilai tidak selalu sebanding dengan kemampuan sebenarnya. Lebih-lebih di kampus teknik. Banyak teman kuliah saya yang kemampuan pemrogramannya di atas rata-rata, tapi nilai kuliahnya biasa-biasa saja. Begitupun sebaliknya.

Di sela-sela kesibukannya menjadi mahasiswa, teman-teman saya yang jago di bidang teknis seringkali mendapatkan pekerjaan sampingan untuk membuatkan aplikasi, membuatkan web, dan lain sebagainya. Dan sayangnya, sebagian di antara mereka tidak mampu memanajemen waktunya dengan cukup baik sehingga tidak bisa meraih hasil maksimal di perkuliahannya.

Cum laude memang bukan jaminan bahwa orang tersebut sangat mahir di bidangnya. Tapi meskipun tidak merepresentasikan kemampuan sebenarnya, cum laude adalah bukti bahwa orang tersebut konsisten berjuang dari awal sampai akhir. Dan bisa jadi, cum laude memang adalah penghargaan yang diberikan oleh kampus bagi orang-orang yang penuh determinasi untuk kuliah dengan sebaik-baiknya.

Mendapatkan IP di atas 3.5 itu mungkin biasa. Tapi bisa lulus tepat waktu dan mendapatkan IPK di atas 3.5? kalau itu sih lain lagi ceritanya.

Selamat berjuang.

 

*) Ditulis sebagai upaya untuk menjaga konsistensi menulis yang mulai mengendur.

Advertisements

One thought on “Konsistensi

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s