Momentum

Pernah mendengar kalimat ini: “bagian tersulit dalam sebuah proses adalah memulai”?

Kalau belum pernah, syukurlah, karena sekarang kamu sudah membacanya di sini. 😀

Entahlah, tiba-tiba saja saya teringat tentang kalimat tersebut. Dan setelah saya renungkan, mungkin memang benar kalimat tersebut. Bagian terberat dalam sebuah proses adalah memulai.

Lihat saja pertandingan antara Jerman dan Swedia yang berakhir 4-4 beberapa hari yang lalu. Sepertinya tidak banyak yang mengira sebelumnya kalau timnas Swedia yang sampai menit ke-61 tertinggal 4-0 dari timnas Jerman bisa mengejar ketertinggalan dan bisa menyamakan kedudukan menjadi 4-4 di akhir pertandingan.

Bagaimanapun, bagian tersulit bagi timnas Swedia adalah mencetak gol pertama. Swedia membutuhkan waktu lebih dari 60 menit untuk mencetak gol pertamanya. Gol kedua, ketiga, dan seterusnya adalah buah dari terciptanya gol pertama. Begitu Ibrahimovic mencetak gol pertama, para punggawa timnas Swedia berubah total menjadi lebih bersemangat untuk mengejar ketertinggalan. Di sinilah Swedia menemukan momentumnya. Dan karena sukses menjaga semangatnya sampai akhir, Swedia pun akhirnya bisa memaksakan hasil imbang yang sebelumnya terlihat tidak mungkin untuk dilakukan. Mengingat saat itu pertandingan dilangsungkan di hadapan publik tuan rumah, timnas Jerman.

Sepakbola memang bukan hanya soal adu ketahanan fisik dan perang taktik. Terkadang, hasil akhir dalam sepakbola justru ditentukan oleh hal-hal kecil yang berlangsung di lapangan. Entah itu pelanggaran, entah itu pergantian pemain, entah itu kesalahan pemain, apapun itu. Mereka yang bisa menemukan momentum dan yang bisa mempertahankan momentumnya lah yang umumnya mendapatkan hasil maksimal di akhir pertandingan.

Contoh yang lain lagi. Coba perhatikan, lebih mudah mana kira-kira, menjaga keseimbangan kendaraan ketika masih pelan ataukah menjaga keseimbangan kendaraan ketika kecepatannya sudah lumayan?

Menjaga keseimbangan itu jauh lebih mudah dilakukan ketika kendaraan sudah melaju dengan kecepatan yang lumayan. Sama halnya dengan itu, kalau kalian pernah mengayuh sepeda, tentunya kalian bisa merasakan, bahwa menambah kecepatan sepeda itu lebih mudah dilakukan ketika sepeda sudah melaju agak cepat sebelumnya. Iya kan? Inilah efek momentum.

 

Proses belajar pun demikian. Di awal-awal masa pembelajaran, kita mungkin merasa kesulitan. Jangan khawatir, hal-hal yang kita rasa sulit itu seringkali hanyalah hal-hal yang belum terbiasa kita lakukan. Percayalah, begitu kita sudah terbiasa, kita akan lebih mudah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman kita dalam bidang tersebut.

Dulu, waktu masih belum kenal pemrograman sama sekali, saya pernah menganggap bahwa pemrograman itu sangat susah. Dan ternyata anggapan saya memang benar, pemrograman itu sangat amat susah, jenderal. tidak sepenuhnya benar. Yang saya butuhkan untuk bisa membuat program ternyata bukan IQ di atas rata-rata. Bukan pula kemampuan matematika level kalkulus 3.  Yang saya butuhkan ternyata adalah kemauan untuk membiasakan diri agar bisa mengetahui dan bisa paham syntax dan cara membuat program dengan baik dan benar. Meskipun sampai saat ini saya belum bisa dibilang jago, tapi saya rasa, kemampuan saya di bidang pemograman tidak terlalu mengecewakan (jika dibandingkan waktu masih maba sih). 😀

Kuliah pun demikian, kawan. Jagalah rasa syukur dan rasa bangga yang kalian rasakan waktu pertama kali diumumkan menjadi mahasiswa di kampus idaman kalian. Itulah momentum awal kalian sebagai mahasiswa. Usahakan agar jangan sampai berhenti di tengah jalan. Karena tenaga yang dibutuhkan untuk memulai lagi itu lebih besar daripada tenaga yang dibutuhkan untuk sekadar melanjutkan.

 

Memang benar, momentum memang tidak selalu datang sewaktu-waktu. Tapi meskipun begitu, persiapkan diri kalian sebaik-baiknya. Karena orang bijak bilang, sukses adalah kombinasi antara perjuangan, kesempatan, dan persiapan. Dan begitu kalian menemukan momentum dalam hidup, jagalah momentum kalian sebaik-baiknya. Karena bisa jadi, sejak hari itu, hidup kalian akan berubah sepenuhnya sampai saat kalian menutup usia.

 

We are what we repeatedly do,
Excellence then, is not an act but a habit

(Aristoteles)

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s