Novel Bernama Kehidupan

Beberapa hari yang lalu facebook saya dihebohkan oleh berita tentang kecelakaan yang dialami oleh beberapa mahasiswa peserta FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran). Sebagian besar teman sekampus saya yang kebanyakan diantaranya juga anggota LDK banyak yang membuat status berisi doa untuk keselamatan para korban.

Di sini saya tidak akan menceritakan bagaimana kronologis kejadiannya. Bagaimana mungkin saya menceritakan kronologis kejadian, lha wong saya sendiri baru tahu setelah teman-teman saya ramai apdet status tentang kejadian tersebut.

Satu hal yang menarik perhatian saya dari kejadian tersebut adalah cerita tentang postingan terakhir di blog salah satu korban. Sebelum meninggal dunia, alm. Novilia Luffiatul Khoiriyah sempat menulis sebuah postingan tentang kematian di blognya. Entah apa yang membuat orang-orang heboh ketika tahu postingan tersebut. Saya sendiri lebih tertarik dengan apa saja yang dia tulis selama membuat blog. Karena bagi saya, blog bisa juga dijadikan miniatur kehidupan kita. Apa yang kita tulis, apa yang kita bagi di blog, itulah yang kita pikirkan. Persis seperti salah satu kredo terkenal dari Earl Natinghle, kita adalah apa yang kita pikirkan.

Dan tidak hanya tulisan di blog; status FB, tweet, semua hal yang kita pikirkan dan ucapkan, itu semua merupakan wujud diri kita sebenarnya.

Saya jadi ingat tentang salah seorang teman saya yang juga meninggal dalam usia muda. Saya ingat betul, dia meninggal beberapa hari menjelang hari ujian SNMPTN 2008. Sebelum jatuh sakit, dia sempat ikut bimbingan belajar di tempat yang sama dengan saya. Dan sebelum dia meninggal, saya selalu menjenguknya tiap selesai les intensif di salah satu LBB di kota kelahiran saya, Mojokerto. Dan salah satu momen paling nyesek bagi saya waktu itu adalah ketika dia masih bisa menyebut nama saya. Padahal menurut keterangan ibunya, pada waktu itu dia sudah kehilangan sebagian besar ingatannya.

Pada saat itulah saya akhirnya menyadari, ternyata memang benar, salah satu perasaan paling membahagiakan selama hidup adalah ketika kita tahu bahwa hidup kita ternyata bermanfaat bagi orang lain. Sampai saat ini, saya selalu ingat momen ketika masuk ke ruangan tempat dia dirawat dan kemudian dia ditanya oleh ibunya siapa nama saya, dan dia menjawab, “saad”.

Sejujurnya saya cukup kaget ketika dia masih ingat saya. Mengingat saya dengannya hanya sempat menjadi teman satu gugus pada waktu MOS. Setelah itu, kami berdua tidak pernah lagi berada dalam kelas yang sama sampai lulus SMA. Tapi meskipun tidak pernah berada dalam kelas yang sama, saya cukup akrab dengannya karena sering main bareng dan sering nongkrong bareng di kantin sekolah.

Satu hal yang akan selalu saya ingat lagi darinya, dia adalah orang yang mengenalkan saya pada Limpat, teman sebangku saya di kelas X yang kemudian menjadi teman kuliah saya dan salah satu teman (ter)baik saya sampai saat ini.

Sejujurnya, saya akui, saya pernah iri pada mereka yang meninggal di usia cukup muda. Seperti kata Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran, seorang filsuf yunani pernah berkata, nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, setelah itu dilahirkan tapi mati muda.

Tapi belakangan, saya mempunyai pandangan baru terhadap kehidupan. Bagi saya, hidup itu layaknya sebuah novel. Yang penting bukan seberapa tebal halamannya, melainkan seberapa indah cerita di dalamnya.

Selamat malam.


*) Teruntuk semua korban kecelakaan beruntun di Banyumas dan teruntuk teman saya, Fanny, lahum al fatihah.

Advertisements

One thought on “Novel Bernama Kehidupan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s