Mentalitas Konsumen

Minggu lalu saya ikut hadir dalam meet up #bined12 yang bertempat di galeri indosat Surabaya. Sudah agak telat sih sebenarnya kalau mau menuliskan pengalaman saya tersebut hari ini. Tapi nggak apa kan kalau saya tetap menuliskannya? 🙂

 

Jadi, di acara tersebut saya sempat bertemu dengan orang-orang keren seperti yang selama ini saya ikuti melalui tulisan di blog mereka. Di sana saya sempat bertemu Pak Bukik, Prof. Daniel, Pak Guntar, bahkan di sana saya juga sempat bertemu dengan Mbak Nila (Alumni ITS yang juga  alumni indonesia mengajar angkatan pertama). Sangat luar biasa bukan?

Banyak sekali ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan dengan menghadiri acara yang berlangsung mulai pukul 19.00 sampai dengan 21.30 tersebut. Salah satu yang paling saya ingat adalah kegelisahan Mas Donald Latumahina (salah satu pembicara dalam acara tersebut).

Mas Donald-yang lulusan singapura-merasa sangat sedih melihat perkembangan aktivitas bajak membajak di dalam negeri. Dalam masa-masa awal kepulangannya dari Singapura, seorang temannya pernah bercerita dengan sangat bangga bahwa Indonesia  sekarang punya sebuah situs file sharing dengan koleksi film sangat lengkap. Tidak seperti halnya kebanyakan dari kita yang sangat senang ketika mendengar berita seperti itu, Mas Donald merasa miris ketika mendengarnya.

Dan di situlah, akhirnya Mas Donald mempunyai kesimpulan tersendiri tentang budaya yang ada di Indonesia. Selama ini, sebagian besar masyarakat kita adalah konsumen. Mentalitas kita masih mental konsumen. Kita begitu senang ketika mendengar film A sudah keluar versi HD-nya di situs B.

Di singapura, membajak adalah tindakan yang sangat tabu untuk dilakukan. Di sana, saking ketatnya dalam melarang pembajakan, foto kopi hanya diperbolehkan maksimal 10% dari buku. Tidak seperti di sini yang bisa memfoto kopi satu buku utuh sebanyak berapa kali yang kita mau. Di singapura, sebagian besar orang-orangnya adalah produsen. Sebagian besar orang singapura adalah kreator. Maka dari itu, tidak salah kalau kemudian sebagian besar orang singapura tidak suka melakukan pembajakan. Karena bagi seorang kreator, membajak adalah sebuah aktivitas yang merugikan karya mereka.

 

Dan mungkin memang benar apa kata Mas Donald pada kesempatan tersebut. Mentalitas, Inilah yang membedakan bangsa kita dengan Singapura.

Advertisements

2 thoughts on “Mentalitas Konsumen

  1. sampai sekarang produsen2 itu masih stress ya sama tingginya pembajakan .
    tapi kalau saya ga kuat beli yang asli jadi gimana dong?
    lagian gaji rata2 orang indonesia juga belum cukup untuk mengcover “hal lain” yang harusnya dibeli secara orginal itu to

    1. Memang benar, sebagian besar pembajakan dilakukan karena motif ekonomi.

      Saya tidak bisa menyalahkan orang-orang yang membajak dengan motif demikian. Dan ini juga harus menjadi perhatian bagi para produsen agar mau menekan harga produksinya sehingga terjangkau oleh semua orang.

      Tapi yang jadi masalah, ternyata praktek pembajakan tidak hanya dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah. Saya sangat yakin hampir 90% di antara kita pernah download lagu secara ilegal di internet. Sisanya mungkin tidak pernah download ilegal, tapi hanya meminta via bluetooth. 😀

      Dan perlahan, praktek pembajakan dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan tidak melanggar aturan.

      Inilah yang sebenarnya menjadi perhatian saya ketika menuliskan postingan ini. Kebanyakan di antara kita adalah konsumen, sehingga tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya melihat hasil karya kita dibajak oleh orang lain.

      Dan inilah yang saya sebut sebagai mentalitas konsumen. 🙂

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s