Kedewasaan

Bulan Desember kemarin saya sempat beradu argumen dengan seorang teman saya sesama penggemar Arsenal via twitter. Jadi, sesaat setelah pertandingan Arsenal-Newcastle United berakhir dengan skor 7-3 di penghujung tahun 2012 kemarin, saya sempat ngetwit begini:

Gara-gara twit saya tersebut, teman saya-yang selama ini sering mengampanyekan pergantian pelatih di Arsenal itu-segera menanggapi twit saya tersebut. Dan akhirnya perang argumen pun tidak terhindarkan. Saya yang selama ini sangat mengidolakan Arsene Wenger pun berusaha keras untuk meyakinkan teman saya tersebut bahwa pendapatnya untuk menginginkan pergantian pelatih adalah salah. Tidak cukup sampai di situ, saya bahkan sempat menyalahkan-menyalahkan tokoh lain yang mengumandangkan kampanye pergantian pelatih di Arsenal.

Dan setelah sekian lama berdebat tanpa ada tanda-tanda untuk menemukan kesamaan, akhirnya debat berakhir dengan tanpa ada perubahan pendirian. Saya masih tetap mendukung Arsene Wenger agar bertahan. Teman saya tetap pada pendiriannya untuk menginginkan Arsene Wenger segera hengkang.

Sebenarnya debat tersebut tidak serta merta berakhir begitu saja. Sebelum debat tersebut berakhir, saya sempat menjanjikan padanya untuk membuat sebuah postingan di blog tentang pandangan saya terhadap Arsene Wenger. Dan setelah peristiwa tersebut sudah berlangsung lebih dari 2 minggu, tidak ada tanda-tanda bahwa saya akan menulis postingan tentang Arsene Wenger.

Saya tidak lupa kalau saya pernah berjanji akan membuat sebuah postingan di blog. Hanya saja, saya merasa bahwa semua tindakan saya selama debat tersebut adalah bukti nyata, bahwa saya belum benar-benar dewasa. Sampai saat ini, saya selalu meyakinkan diri saya sendiri bahwa pada saat itu saya hanya terbawa suasana. Maka dari itu, saya tidak akan pernah benar-benar membuat postingan tentang Arsene Wenger untuk meyakinkan teman saya.

Satu hal yang membuat saya semakin yakin bahwa saya belum benar-benar dewasa adalah karena saya masih suka memaksakan pendapat pada orang lain. Seperti yang telah saya lakukan pada saat debat kemarin. Setelah kejadian tersebut, saya jadi tahu apa yang dimaksud oleh twit Gus Mus yang satu ini :

 

Dan mungkin memang benar apa yang orang-orang bilang, menjadi tua itu kepastian, tapi menjadi dewasa itu pilihan.

Advertisements

7 thoughts on “Kedewasaan

  1. Saya sih bukan pendukung arsenal, cuman simpatik juga dengan sosok arsene wenger (bahkan kalau tidak salah beliau ini dipanggil prof ya?).
    satu point lagi tangan dingin wenger juga membawa fabregas, v persie, henry derada di tingkat bintang. beberapa pelatih yang mampu sebagai pendidik tidak banyak dalam penilaian saya hanya ada ferguson, riijkard, guardiola dan arsene wenger.
    Cuman sayang kebijakan club itu yang ngirit banget bikin pencapaian nya tersendat. wajar kalau tidak bersinar di level yg lebih tinggi.
    *opini saya

    1. Saya sendiri juga demikian. Sayangnya, banyak fans yang tidak jernih dalam melihat fakta dan melihat Arsene Wenger sebagai tokoh di balik kegagalan Arsenal untuk meraih gelar dalam 7 musim terakhir.

      Padahal sebenarnya jajaran direksi yang sebenarnya paling harus bertanggung jawab atas kegagalan Arsenal selama 7 musim terakhir. Karena hampir sebagian besar direksi Arsenal lebih mementingkan profit daripada gelar.

      Dan Arsene, sebagai seorang manajer, tugasnya tidak lebih dari melaksanakan apa yang diinstruksikan oleh pemilik dan pemimpin perusahaan. 🙂

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s