Batas

Akhir-akhir ini saya punya kebiasan baru: pinjam buku ke perpus daerah. Alasannya? Saya tidak punya cukup banyak uang untuk membeli semua buku yang ingin saya baca. Itu saja sih alasannnya.

Dan ternyata, ada satu pelajaran berharga yang saya dapatkan dengan meminjam buku ke perpus daerah.

Selama ini, saya lebih sering beli atau pinjam buku teman kalau ingin membaca buku tertentu. Sesekali memang pernah baca e-book. Tapi seingat saya, hanya 2 e-book yang pernah saya tamatkan. Yang pertama, Perahu kertasnya Dewi ‘Dee’ Lestari. Dan yang kedua, Davinci Code-nya Dan Brown. Dua-duanya saya tamatkan ketika saya sudah kehabisan buku bacaan pada waktu KP (Kerja Praktek) hampir 2 tahun yang lalu.Β 

Pelajaran berharga yang saya dapatkan setelah meminjam buku ke perpus berkaitan dengan batas.

Sebelumnya, saya tidak pernah merasa berkewajiban untuk menamatkan buku yang telah saya beli atau saya pinjam dari teman saya dalam waktu tertentu. Terbukti, sampai saat ini, ada beberapa judul buku yang tidak kunjung selesai saya baca. Padahal sudah berbulan-bulan lamanya sejak saya pertama kali membelinya.

Saya memang tidak seperti fahmi-teman kuliah saya-yang suka membeli buku dengan bermacam-macam genre. Saya bukan kolektor buku sepertinya. Saya orangnya lebih suka membeli buku yang benar-benar menarik minat saya dan membuat saya tertarik untuk membacanya sampai selesai. Hampir semua buku yang saya beli pasti saya baca sampai selesai. Meski terkadang itu membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya. Bahkan, saking lamanya, kadang saya lupa dengan kisah di dalamnya dan terpaksa harus membaca ulang dari awal untuk mengingat-ingat lagi jalan cerita buku tersebut.

Perbedaan utama yang saya rasakan dari membeli buku dan meminjam buku ke perpus adalah adanya batas waktu. Tentu kita semua tahu kalau buku pinjaman dari perpus harus dikembalikan dalam jangka waktu tertentu. Hal inilah yang kemudian saya jadikan sebagai pelecut semangat saya untuk selalu ‘istiqamah’ menyediakan waktu untuk membaca buku. Minimal 50 halaman setiap harinya. Meskipun itu ditengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas akhir, menyelesaikan hafalan Alquran, dan kesibukan-kesibukan saya yang lain seperti mencuci baju misalnya.Β Karena kalau tidak begitu, bisa-bisa buku yang saya pinjam tidak akan selesai saya baca sampai dengan batas terakhir masa peminjamannya.

Bayangkan kalau seandainya saya tidak ingat kalau buku pinjaman dari perpus ini ada batas waktunya? Bisa jadi, saya tidak bisa menyelesaikannya sebelum batas waktu peminjamannya. Atau yang lebih menyedihkan lagi, saya tidak menyelesaikannya dan terlambat mengembalikannya sehingga terkena denda.

 

Dari situ, kemudian saya teringat akan salah satu pesan penulis favorit saya, Ust. Salim A. Fillah dalam sebuah twit beliau:

 

Terkadang kita merasa hidup di dunia ini selama-lamanya. Maka dari itu, kita sering lupa kalau hidup di dunia ini ada akhirnya. Mungkin akan berbeda jika kita sekarang sudah berusia 50 tahun atau 60 misalnya. Karena kebanyakan dari kita menganggap usia standar adalah 60-65. Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang dengan usia di atas 50 untuk menjadi lebih bertaqwa. Mengingat ‘masa eksekusi’ sudah hampir tiba.

Padahal kewajiban bertaqwa sebenarnya bukan hanya anjuran bagi yang sudah berusia lebih dari 52. Semua orang mempunyai kewajiban yang sama untuk bertaqwa.

Mengingat sebenarnya sejak lahir pun kita semua sudah divonis (akan) mati. Persis seperti vonis yang diberikan kepada para pelaku pembunuhan, mutilasi, juga pengedar sabu-sabu dan ekstasi. Bahkan mungkin lebih parah lagi. Karena kita tidak pernah diberi tahu, kapankah kiranya kita akan dieksekusi.

 

Gak usah jauh-jauh memikirkan kehidupan. Dalam mengerjakan tugas sekolah/kuliah pun terkadang kita baru mau mengerjakan tugas ketika sudah hampir pada ‘batas’. Bayangkan seandainya tugas sekolah/kuliah itu tidak memiliki batas waktu pengumpulan, kira-kira kapankah kita akan mengerjakan dan mengumpulkannya?

 

Maka dari itu, beruntung sekali orang-orang yang selalu sadar akan batas-batas yang dimilikinya. Lebih-lebih pada keterbasan usia hidupnya di dunia. Sehingga mampu mengoptimalkan jatah usia yang dimiliknya.

Selamat malam, salam olahraga. πŸ™‚

 

*) Nb: Sekali-kali boleh kan saya menulis hal-hal agak ‘berat’ semacam ini? πŸ˜‰

Advertisements

8 thoughts on “Batas

    1. Wah, sama dong. πŸ™‚

      Dan mungkin karena manusia yang sifat dasarnya sering lupa inilah, maka sholat diwajibkan sebanyak 5 kali sehari. Agar selupa-lupanya kita, setidaknya kita masih ingat bahwa hidup ini ada batasnya sebanyak 5 kali sehari. Dan saya rasa ini salah satu hikmah perintah sholat 5 kali sehari.

  1. Kalau ‘batas’-nya sudah habis, ya tinggal diperpanjang saja (kasus buku) πŸ˜€
    Tapi emang benar, bahwa ‘hidup’ nggak bisa diperpanjang, sudah ditetapkan, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan sesuai keinginan manusia.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s