Kehilangan

Kehilangan, mungkin itulah yang dirasakan oleh sebagian besar fans Manchester United ketika mendengar berita pensiunnya pelatih fenomenal mereka, Sir Alex Fergusson. Saya memang pendukung Arsenal, tapi sebagai pribadi, saya sangat menghormati Sir Alex Fergusson. Lebih-lebih jika melihat banyaknya prestasi yang diraih oleh SAF selama menjadi pelatih MU.

Meskipun tidak merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan fans MU, kehilangan juga bukan sebuah fenomena yang baru bagi seorang fans fanatik Arsenal seperti saya. Karena dalam beberapa tahun terakhir ini, Arsenal selalu kehilangan pemain-pemain terbaiknya, bahkan kaptennya. Dan sepertinya, itulah yang menjadikan Arsenal berkali-kali gagal meraih gelar selama 8 tahun terakhir.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar pemain Arsenal selalu meraih gelar setelah pindah klub. Dari situ kemudian muncul sindiran dari fans klub-klub lain bahwa satu-satunya cara agar pemain Arsenal meraih gelar adalah dengan pindah klub. 😦

Sepertinya nggak enak kalau saya teruskan lagi curhatan saya tentang Arsenal ini. :DKembali lagi soal SAF. Kalau melihat lamanya masa kepelatihan SAF di MU, sebenarnya tidak mengherankan kalau SAF memutuskan untuk berhenti setelah 26 tahun melatih MU. Tapi tetap saja, setiap kepergian, entah itu disadari atau tidak, pasti menimbulkan rasa kehilangan. Kalau mungkin bukan saat itu juga, pasti akan ada masanya kita merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda setelah kepergian itu. Dan kemudian kita akan merasa seakan-akan ada yang hilang karenanya.

Ini pula yang saya rasakan ketika membaca berita tentang ditutupnya layanan pembaca rss favorit saya, Google Reader. Dan beberapa waktu yang lalu, ketika Posterous juga mengumumkan akan menutup layanannya, saya mengalami kesedihan yang sama. Persis seperti saat membaca halaman terakhir buku favorit saya. Persis seperti saat-saat kelulusan SMA. Persis seperti saat melihat teman-teman kuliah satu per satu mulai wisuda. Persis. Seperti itulah rasanya.

Saya kadang berpikir, apa hanya orang-orang dengan karakter melankolis seperti saya saja ya yang merasakan hal semacam itu? Ataukah semua orang merasakan hal yang sama? 5cm_wallpaper_30-1360x768

Terlepas dari apakah semua orang merasakan hal yang sama, sepertinya tidak salah kalau ada bilang hidup adalah serangkaian kedatangan dan kepergian.

Terkadang saya menganggap hidup itu layaknya sebuah perjalanan. Saya membayangkan sekolah atau kampus itu seperti halnya armada angkutan umum. Terkadang kita bertemu orang-orang baru ketika naik kereta atau bus. Dan ketika semua penumpang turun di terminal yang sama, begitulah bayangan saya tentang masa kelulusan SMA. Setelah itu, kita mulai berpisah dengan yang lain untuk mencari armada baru lagi untuk menuju tujuan yang baru lagi. Kita naik sebuah bus baru yang bernama jurusan perkuliahan. Dan ketika satu per satu penumpang mulai turun ketika sudah sampai tujuannya masing-masing, begitulah bayangan saya tentang wisuda.

5cm_wallpaper_25

Dan setelah mengalami perpisahan demi perpisahan dalam hidup, saya jadi semakin suka mengutip kata-kata Jowy Atreides di Suikoden II yang satu ini:

Enjoy the moments you have together, because nothing lasts forever.

🙂

5cm_wallpaper_21

Sumber Gambar :

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s