Remeh

Kapan terakhir kali kalian minum kopi?

Meskipun bukan pecandu kopi, sesekali saya memang minum kopi. Apalagi kalau lagi di rumah. Karena hampir tiap pagi Ibu selalu menyeduhkan segelas kopi ketika saya di rumah. Tapi sebenarnya itu karena Ayah saya memang suka kopi jadi sekalian saja saya dibuatkan oleh Ibu.

Entah karena sudah lumayan sering ngopi, saya kadang merasa minum kopi itu biasa. Kalian sendiri bagaimana? pernah nggak minum kopi sampai terasa begitu nikmat layaknya sedang buka puasa? Kalau saya, jujur saja, belum pernah mengalaminya.

Dari situ saya kemudian tersadar kalau saya ini orangnya sering lupa. Saya sering lupa kalau kopi yang saya minum itu bukan langsung tersedia begitu saja. Saya sering lupa kalau untuk bisa berbuah, kopi harus sudah tumbuh besar dulu sejak ditanam. Dan itu butuh waktu yang tidak singkat tentunya.

Bukan hanya kopi sih sebenarnya. Nasi yang kita makan sehari-hari pun sebenarnya sama. Kita begitu sering melihat nasi hanya sebagai nasi. Tanpa sadar bahwa ada banyak fase sebelum akhirnya muncul sebuah nasi. Kurang nikmat apa lagi coba? kita tidak perlu menanam, memupuk, memanen, menggiling, bahkan terkadang kita tidak perlu repot-repot memasak untuk bisa merasakan nikmatnya nasi.

Dari sana saya belajar banyak hal. Hal-hal yang kita anggap biasa sebenarnya adalah hal-hal yang luar biasa jika kita memang benar-benar merenungkannya. Ketika kita tidak lagi bisa merasakan nikmat yang begitu luar biasa ketika menikmati nasi atau kopi, bisa jadi itu bukan karena nasi atau kopi adalah menu yang biasa. Tapi lebih karena kita memang sering lupa. Kita sering lupa kalau ada banyak proses sebelumnya.

Sama halnya dengan itu, beberapa di antara kita sering tidak menghargai hak cipta. Kita begitu mudah mengunduh lagu, mengunduh e-book, mengunduh aplikasi bajakan, film, dan semacamnya. Kita mungkin lupa bahwa ada serangkain proses sampai akhirnya muncul buku, lagu, juga aplikasi.

Kita yang tidak tahu mungkin santai saja mengunduh aplikasi-aplikasi bajakan di internet. Saya dulu juga begitu. Saya pernah merasa tidak berdosa sama sekali ketika mengunduh aplikasi-aplikasi berbayar sekalian dengan crack-nya di internet. Tapi itu dulu, ketika saya belum tahu bagaimana proses pembuatan sebuah aplikasi.

Meskipun sampai sekarang tidak sepenuhnya lepas dari program bajakan, setelah belajar tentang pemrograman, saya jadi merasa bersalah ketika menggunakan aplikasi bajakan. 😦

Hal yang biasa kita anggap remeh, seringkali adalah hal yang kita tidak tahu. Maka dari itu, menjadi penting untuk punya ilmu atau untuk sekadar tahu. Karena dari sanalah, kita akan belajar bersyukur dan juga mengapresiasi.

asmirandah2

Karena hanya yang tahu susahnya bikin lagu, yang akan menghargai pembuat lagu.
Karena hanya yang tahu susahnya bikin buku, yang akan menghargai penulis buku.
Karena hanya yang tahu susahnya bikin software, yang akan menghargai para pembuat software.
Karena hanya yang tahu susahnya bikin film, yang akan menghargai para pembuat film.
Sumber gambar :
Advertisements

One thought on “Remeh

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s