Deduksi = Mulai dari Akhir

Tadi pagi, sebelum sahur, saya sempat berkicau soal ‘deduksi’ di Twitter. Sejak membaca Sherlock Holmes beberapa saat yang lalu, saya jadi sering menemukan banyak ide, pengetahuan, dan pemikiran baru. Deduksi adalah salah satunya. Maka tidak berlebihan rasanya kalau saya memberi rating buku seri pertama petualangan Sherlock Holmes ini dengan 5 bintang di Goodreads. Mengingat buku ini kembali menghidupkan gairah saya akan ide dan pengetahuan baru.

Sebelum saya membaca Sherlock Holmes, deduksi yang saya tahu cara menuliskan paragraf dengan meletakkan kalimat utama di depan. Tidak salah memang. Karena memang seperti itulah yang saya pelajari dulu waktu belajar bahasa Indonesia. Dan setelah saya membaca Sherlock, saya jadi tahu kalau ternyata deduksi tidak hanya dipakai dalam menuliskan paragraf saja. Sherlock Holmes-detektif yang legendaris itu-ternyata juga biasa dikenal sebagai pakar deduksi karena keahliannya merunut suatu masalah dari belakang ke depan dalam melakukan investigasi.

Bagi kalian yang kuliah di jurusan Teknik Informatika, deduksi mungkin bukanlah suatu hal yang baru. Di dalam pemrograman kita tentu kenal dengan algoritma back-tracking, suatu metode yang biasa digunakan dalam menyelesaikan masalah pencarian berbasis tree.

Deduksi ini mungkin sebenarnya sering kita alami dan kita praktekkan, tapi hanya saja kita tidak tahu apa istilahnya. Jika kalian pernah menuliskan target tahunan, target selama jadi mahasiswa, ataupun target-target lainnya yang mirip dengan cita-cita yang ingin kalian capai, seperti itulah deduksi yang saya maksudkan. Kalau meminjam istilah Stephen R. Covey dalam 7 Habits of Highly Effective People, deduksi itu bisa disebut juga “Begin with the End in Mind“.

Mulai dari titik akhir yang ingin kita capai. Inilah inti dari metode deduksi yang sudah dipraktekkan banyak orang untuk meraih impiannya.

Kalau saya ingat-ingat lagi, saya pernah 2 kali mempraktekkan deduksi ini. Yang pertama waktu mau ujian SNMPTN, yang kedua waktu ikut Gemastik IV. Mungkin sebenarnya saya pernah mempraktekkannya lebih dari 2 kali. Tapi yang paling saya ingat adalah dua itu.

Untuk yang pertama, waktu mau SNMPTN dulu saya tidak pernah membayangkan saya punya pilihan selain Teknik Informatika atau Sistem Informasi. Meskipun sempat tertarik dengan jurusan Psikologi dan Teknik Kimia, tapi sejak kelas X SMA, target saya adalah Teknik Informatika. Maka dari itu, ketika sudah menginjak kelas XII, saya menjadi lebih keras pada diri sendiri. Saya sering menghabiskan banyak waktu dengan mengerjakan latihan soal SNMPTN, khususnya untuk bidang matematika dan kimia yang sangat saya sukai. Dan Alhamdulillah, ternyata hasilnya tidak sia-sia. Karena pada waktu itu, saya hanya daftar SNMPTN. Jadi, pilihannya cuma 2: kuliah sambil nyantri atau cuma fokus nyantri.

Deduksi yang kedua yang paling saya ingat adalah pada waktu Gemastik IV. Semuanya bermula ketika saya menghadiri pengumuman juara Gemastik III di Gedung Robotika ITS pada tahun 2010. Di sana, saya sempat nyeletuk gini pada teman saya, “seperti seru juga ya jadi finalis Gemastik. Semoga bisa lah tahun depan.”  Dan setelah setahun berselang, siapa sangka ternyata impian saya terwujud. Saya sendiri tidak ingat kalau saja teman saya tidak memberikan selamat dan mengingatkan saya kalau setahun sebelumnya pernah berkata padanya bahwa saya bermimpi menjadi finalis tahun depan. Meskipun pada akhirnya kelompok saya tidak menjadi juara, tapi sampai sekarang peristiwa itu selalu membuat saya semakin yakin pada kekuatan ‘mimpi’ dan cita-cita.

Satu yang saya sayangkan sampai sekarang adalah, saya tidak punya target waktu kuliah. Ini kesalahan fatal. Dari awal masuk, saya tidak punya gambaran mau lulus kapan, mau ngapain aja selama kuliah, mau bikin apa selama kuliah, dan semacamnya. Dan hasilnya pun bisa dilihat sekarang *nangis*. Salah jurusan itu bukan masalah sebenarnya kalau tetap punya target dan tujuan. Saya yakin, 9 dari 10 mahasiswa teknik informatika pasti pernah merasa salah jurusan. Dan sisanya mungkin sudah pindah duluan sebelum merasa salah jurusan. 😛

Salah jurusan itu nggak masalah sob selama kalian punya target dan tujuan. Saya punya banyak sekali kenalan yang ‘merasa salah jurusan’ di Teknik Informatika. Tapi mereka tetap lulus tepat waktu karena dari awal memang menargetkan lulus tepat waktu soalnya ingin cepat-cepat menekuni bidang yang menjadi kesukaan mereka.

Buat kalian yang baru kuliah, sempatkan hadir di acara prosesi wisuda kampus atau hadir di acara penutupan lomba tingkat nasional kalau memungkinkan. Karena itu akan membuat kalian semakin bersemangat untuk berprestasi dan segera mengikuti jejak mereka, para juara.

Buat kalian yang telat lulus seperti saya, kalau ada teman atau orang tua kalian yang tanya, “kamu ngambil apa sih di perkuliahan kok nggak lulus-lulus?”.  Jangan panik, gak usahlah diambil hati, stay woles dan jawab aja, “kalau aku sih, ngambil hikmahnya aja lah ya.” 🙂

Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa ya. 😀
Sampai jumpa!

Advertisements

3 thoughts on “Deduksi = Mulai dari Akhir

  1. Pingback: Apa sih TI itu ??? | Mahasiswa Teknik Informatika

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s